Tren Ekbis

Pupuk Indonesia Jajaki Investasi Pabrik Amonia-Urea di Rusia

  • Pupuk Indonesia menjajaki proyek Nakhodka Fertilizer Plant Phase 2 di Rusia untuk diversifikasi pasokan dan memperkuat rantai pasok pupuk nasional.
WhatsApp Image 2026-09-05 at 10.39.44.jpeg
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi [kanan] dan General Director of The Managing Organization JSC Ruschem, Davydov Eduard Malikovich [kiri] saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Vladivostok, Rusia, Kamis, 3 September 2026. (Pupuk Indonesia)

VLADIVOSTOK, TRENASIA.ID – PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki peluang investasi pada proyek fasilitas produksi amonia dan urea berskala besar di Primorsky Krai, Rusia. Penjajakan tersebut diarahkan untuk memperluas sumber pasokan bahan baku sekaligus membuka akses Pupuk Indonesia terhadap rantai pasok pupuk global.

Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk melakukan studi bersama atau joint study terkait pengembangan Nakhodka Fertilizer Plant Phase 2 (NFP-2). Kesepakatan dilakukan dalam rangkaian Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, pada Kamis, 3 September 2026.

Proyek NFP-2 dikembangkan oleh holding JSC Ruschem di kawasan Primorsky Krai, Rusia Timur. Bagi Pupuk Indonesia, proyek tersebut menjadi salah satu opsi untuk mendiversifikasi sumber produksi dan pasokan pupuk di tengah kebutuhan memperkuat ketahanan rantai pasok nasional.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan penjajakan tersebut masih berada pada tahap kajian. Pengalaman perusahaan dalam mengolah gas alam menjadi amonia dan urea menjadi salah satu modal untuk mengevaluasi karakteristik proyek di Rusia.

“Penjajakan kerja sama kajian ini merupakan salah satu opsi strategi jangka panjang Pupuk Indonesia untuk mengamankan akses bahan baku dan kapasitas produksi global. Hal ini sejalan dengan arahan Danantara agar Pupuk Indonesia makin berperan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus memperluas peran di industri pupuk global,” kata Rahmad.

Menurut Rahmad, proyek berbasis gas alam tersebut juga berpotensi memberikan akses terhadap produksi amonia dan urea dengan struktur biaya bahan baku yang kompetitif.

Dari sisi rantai pasok, lokasi proyek menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan. Primorsky Krai berada di kawasan Timur Jauh Rusia dan memiliki akses ke Pelabuhan Vladivostok yang menghadap Samudera Pasifik.

“Ini menjadi menarik karena Vladivostok menghadap Pasifik, kawasan yang selama ini memang menjadi pasar strategis Pupuk Indonesia,” kata Rahmad.

Kapasitas Produksi NFP

Nakhodka Fertilizer Plant merupakan proyek kompleks industri yang dirancang untuk memproduksi metanol, amonia, dan urea dalam skala besar.

Fasilitas tersebut direncanakan memiliki kapasitas produksi sekitar 1,8 juta ton metanol per tahun, 2 juta ton amonia per tahun, dan 3,5 juta ton urea per tahun. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial sekitar 2030.

Karakteristik tersebut menjadi salah satu aspek yang dikaji Pupuk Indonesia dalam melihat potensi pengembangan NFP-2. Selain kapasitas produksi, perusahaan juga mempertimbangkan akses pasar Asia-Pasifik yang dapat didukung oleh posisi geografis proyek.

Rahmad mengatakan pengalaman Pupuk Indonesia mengelola produksi berbasis gas menjadi relevan dalam proses kajian.

“Pupuk Indonesia ini performance-nya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok dan dengan pihak Rusia. Diharapkan ini menjadi salah satu langkah strategis yang bisa memperkuat sektor ketahanan bahan baku kita dan juga ketahanan industri kita,” kata Rosan.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan P. Roeslani. Menurut Rosan, penjajakan tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin dalam rangkaian EEF ke-11.

Rosan mengatakan peluang kerja sama tersebut dapat membuka akses investasi global bagi Pupuk Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan bahan baku industri pupuk nasional.

Masih Tahap Feasibility Study

Meski penjajakan telah ditandai dengan penandatanganan MoU, belum terdapat keputusan investasi final terhadap proyek tersebut.

Pupuk Indonesia bersama pihak terkait akan melakukan feasibility study dan due diligence untuk menilai kelayakan pengembangan NFP-2.

Kajian mencakup sejumlah aspek, antara lain kondisi teknis proyek, keekonomian, kepastian pasokan bahan baku, struktur pembiayaan, risiko proyek, serta kepatuhan terhadap hukum dan regulasi yang berlaku.

Tahap tersebut akan menjadi dasar bagi Pupuk Indonesia untuk menentukan kelanjutan peluang kerja sama.

Bagi perusahaan, diversifikasi sumber bahan baku dan kapasitas produksi menjadi salah satu bagian dari strategi menghadapi kebutuhan pupuk nasional sekaligus perubahan dinamika industri pupuk global.

Dengan posisi proyek di kawasan Timur Jauh Rusia dan akses ke Samudera Pasifik, NFP-2 juga menjadi salah satu opsi yang sedang dikaji Pupuk Indonesia untuk memperluas keterhubungan dengan pasar Asia-Pasifik.

Namun, realisasi investasi masih bergantung pada hasil kajian teknis dan keekonomian serta penilaian terhadap risiko proyek dan aspek regulasi yang berlaku.