Tren Ekbis

Potret Lonjakan Kendaraan Listrik di Indonesia

  • Presiden Prabowo Subianto menegaskan ambisi besar pemerintah untuk mengonversi kendaraan berbasis bahan bakar minyak menjadi kendaraan listrik.
IMG_9800.jpg
Neta V Mobil Listrik (Antara)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Transformasi energi Indonesia mulai memasuki fase baru dengan meningkatnya adopsi kendaraan listrik. Di tengah tekanan global terhadap energi fosil dan ketergantungan impor BBM, elektrifikasi transportasi menjadi salah satu strategi kunci pemerintah untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

Presiden Prabowo Subianto bahkan menegaskan ambisi besar pemerintah untuk mengonversi kendaraan berbasis bahan bakar minyak menjadi kendaraan listrik. “Semua motor kita akan kita konversi menjadi motor listrik. Semua mobil, semua truk, semua traktor harus tenaga listrik,” ujarnya, dikutip dari Antara, Rabu, 1 April 2026.

Langkah ini bukan sekadar transisi teknologi, tetapi bagian dari reposisi Indonesia dalam peta energi global. Dikutip data kementerian perhubungan, jumlah kendaraan listrik di Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. 

Hingga 2025, total kendaraan listrik mencapai sekitar 274.802 unit, meningkat tajam dibandingkan 2021 yang masih di kisaran puluhan ribu unit.

Rincian Kendaraan Listrik:

  • Motor listrik: 196.051 unit
  • Mobil listrik: 77.227 unit
  • Bus listrik: 638 unit
  • Kendaraan roda 3: 617 unit
  • Kendaraan khusus: 266 unit

Tren Pertumbuhan:

  • 2021: ±15.883 unit
  • 2022: ±41.743 unit
  • 2023: ±116.439 unit
  • 2024: ±207.478 unit
  • 2025: ±274.802 unit

Lonjakan ini mencerminkan percepatan adopsi, terutama didorong oleh insentif pemerintah dan meningkatnya kesadaran terhadap energi bersih.

Elektrifikasi = Strategi Kurangi Impor BBM

Dalam perspektif geopolitik energi, elektrifikasi kendaraan adalah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak. Sebagai net importir BBM, tekanan terhadap APBN sangat besar ketika harga minyak global naik. Dengan mempercepat kendaraan listrik, Indonesia berupaya:

Dampak Strategis:

  • Mengurangi konsumsi BBM domestik
  • Menekan subsidi energi dalam APBN
  • Mengurangi exposure terhadap harga minyak global
  • Artinya, kendaraan listrik bukan sekadar tren, tetapi alat stabilisasi fiskal dan energi.

Perbandingan Global: Indonesia Masih Tertinggal

Meski tumbuh pesat, jumlah kendaraan listrik Indonesia masih jauh dibandingkan negara lain di Asia. Dibandingkan China, Indonesia masih berada pada tahap awal adopsi. Namun, kondisi tersebut juga menunjukkan potensi pertumbuhan yang sangat besar ke depan.

Data Asia:

  • China: 19,07 juta unit
  • India: 2,00 juta unit
  • Thailand: 103.400 unit
  • Malaysia: 30.500 unit

Dampak Ekonomi

Elektrifikasi kendaraan juga membuka peluang ekonomi baru. Jika selama ini APBN terbebani subsidi BBM, maka ke depan anggaran bisa dialihkan untuk beberapa sektor berikut,

  • Pengembangan industri baterai
  • Hilirisasi nikel
  • Investasi manufaktur kendaraan listrik
  • Penciptaan lapangan kerja baru

Indonesia memiliki keunggulan karena merupakan salah satu produsen nikel terbesar dunia, bahan utama baterai kendaraan listrik.

Realita di Lapangan

Meski pertumbuhan tinggi, adopsi kendaraan listrik masih menghadapi sejumlah kendala, terutama di luar kota besar. Berbagai masalah yang dihadapi adopsi kendaraan listrik diantaranya sebagai berikut,

  • Infrastruktur charging belum merata
  • Harga kendaraan masih relatif mahal
  • Variasi produk terbatas
  • Persepsi masyarakat terhadap performa

Peralihan ke kendaraan listrik menandai perubahan besar dalam sistem energi Indonesia. Jika sebelumnya transportasi sangat bergantung pada BBM, ke depan akan bergeser ke listrik yang bisa diproduksi dari berbagai sumber, termasuk energi terbarukan.

Lonjakan kendaraan listrik di Indonesia bukan sekadar tren teknologi, tetapi bagian dari strategi besar energi nasional. Di tengah tekanan geopolitik dan fluktuasi harga minyak, elektrifikasi menjadi jalan untuk mengurangi beban fiskal sekaligus membangun industri masa depan.

Namun, keberhasilan transformasi ini akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, kebijakan insentif, serta kemampuan industri dalam negeri untuk berkembang.