Pohon Bisnis Rusdi Kirana, dari Lion Air hingga Batam Aero Technic
- Rusdi Kirana membangun gurita bisnis penerbangan melalui Lion Air Group. Bisnisnya mencakup maskapai, perawatan pesawat Batam Aero Technic, pelatihan penerbang, hingga ekspansi armada.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Nama Rusdi Kirana lekat dengan perkembangan industri penerbangan berbiaya rendah atau low-cost carrier (LCC) di Indonesia. Bersama saudaranya, Kusnan Kirana, ia membangun Lion Air dari bisnis biro perjalanan menjadi salah satu kelompok usaha penerbangan besar di Asia Tenggara.
Gurita bisnis Rusdi Kirana kini mencakup maskapai penerbangan, perawatan pesawat, pendidikan penerbang, hingga sejumlah investasi di luar industri aviasi.
Perjalanan bisnis Rusdi menunjukkan bagaimana perusahaan penerbangan dapat berkembang menjadi ekosistem usaha yang saling terhubung. Lion Air Group tidak hanya mengandalkan penjualan tiket, tetapi juga membangun berbagai lini pendukung untuk menopang operasional maskapai, mulai dari pemeliharaan pesawat hingga pelatihan sumber daya manusia.
Strategi tersebut menjadi penting di tengah persaingan industri penerbangan yang ketat. Maskapai harus mengelola biaya bahan bakar, perawatan armada, pengadaan pesawat, dan utilisasi penerbangan agar tetap kompetitif, terutama pada segmen penerbangan berbiaya rendah.
Baca juga : Awas Boros Listrik! Ini 6 Cara Hemat Tagihan Saat Cuaca Panas
Lion Air Fondasi Gurita Bisnis Rusdi Kirana
Lion Air merupakan fondasi utama bisnis penerbangan Rusdi Kirana. Maskapai ini mulai beroperasi pada 2000 dan berkembang dengan menawarkan penerbangan berbiaya rendah untuk menjangkau pasar domestik yang luas.
Model bisnis LCC memungkinkan maskapai menawarkan tarif relatif terjangkau melalui pengelolaan biaya operasional dan pemanfaatan armada. Strategi tersebut sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan perjalanan masyarakat Indonesia, yang memiliki karakteristik geografis kepulauan dan ketergantungan tinggi terhadap transportasi udara untuk sejumlah rute.
Dari bisnis utama tersebut, Lion Air Group kemudian memperluas jangkauan pasarnya melalui sejumlah maskapai dengan segmen berbeda.
Lion Air menjadi salah satu tulang punggung penerbangan berbiaya rendah untuk rute domestik dan internasional. Wings Air berfokus pada konektivitas regional dan rute pendek, termasuk penerbangan menuju kota-kota yang tidak selalu dilayani pesawat berbadan lebih besar.
Sementara itu, Batik Air dikembangkan untuk menyasar penumpang yang menginginkan layanan lebih lengkap. Kehadiran Batik Air memungkinkan grup tersebut melayani segmen pasar yang berbeda dari Lion Air, sekaligus memperluas pilihan produk penerbangan.
Ekspansi Lion Air Group juga merambah pasar internasional melalui Malindo Air, yang kemudian dikenal sebagai Batik Air Malaysia, serta Thai Lion Air di Thailand. Di Indonesia, Super Air Jet turut memperkuat kehadiran grup pada segmen penerbangan berbiaya rendah.
Portofolio tersebut memperlihatkan strategi diversifikasi merek dan pasar. Setiap maskapai dapat menyasar segmen konsumen, jaringan rute, dan kebutuhan operasional yang berbeda, meskipun tetap menghadapi tantangan industri yang serupa.
Dengan jaringan bisnis lintas negara, persaingan Lion Air Group tidak hanya berlangsung di pasar domestik. Grup ini juga berhadapan dengan perusahaan penerbangan regional yang berupaya merebut penumpang pada rute-rute strategis Asia Tenggara.
Baca juga : Mau Bisnis yang Ramah Lingkungan? Simak 5 Pilihan Usaha Ini
Batam Aero Technic, Bisnis Perawatan Pesawat di Luar Maskapai
Gurita bisnis Rusdi Kirana tidak berhenti pada pengoperasian maskapai. Lion Air Group juga mengembangkan Batam Aero Technic (BAT), perusahaan yang bergerak di bidang maintenance, repair, and overhaul (MRO) atau perawatan, perbaikan, dan pemeriksaan menyeluruh pesawat.
Bisnis MRO memiliki peran penting dalam industri penerbangan karena setiap pesawat harus menjalani pemeriksaan berkala dan perawatan sesuai ketentuan keselamatan serta persyaratan kelaikudaraan.
Pengeluaran untuk perawatan menjadi salah satu komponen biaya yang signifikan bagi maskapai. Dengan memiliki fasilitas MRO sendiri, kelompok usaha penerbangan berpeluang mengintegrasikan kebutuhan perawatan dengan operasional armadanya, mengelola jadwal pemeliharaan, dan mengurangi ketergantungan pada penyedia eksternal untuk pekerjaan tertentu.
Batam Aero Technic juga berpotensi mengembangkan pasar di luar kebutuhan internal grup melalui penyediaan layanan kepada operator pesawat lain, bergantung pada kemampuan fasilitas, sertifikasi, dan kontrak yang dimiliki.
Selain MRO, Lion Air Group memiliki fasilitas pendidikan dan pelatihan penerbangan melalui Lion Air Training Center. Pelatihan pilot dan tenaga profesional penerbangan menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan sumber daya manusia seiring bertambahnya kebutuhan operasional.
Integrasi tersebut dapat membantu grup mengelola kebutuhan tenaga kerja dan pemeliharaan secara lebih terkoordinasi. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada biaya investasi, utilisasi fasilitas, kualitas layanan, dan kondisi pasar penerbangan.
Baca juga : BRI Salurkan 270 Pompa Air untuk Bantu Penanganan Karhutla di Kalbar
Ekspansi Armada dan Pesanan Boeing Rp85 Triliun
Salah satu langkah besar Lion Air Group dalam memperkuat armada adalah pemesanan pesawat Boeing 737 MAX 10 pada April 2018.
Berdasarkan informasi yang dirangkum, pesanan tersebut mencakup 50 unit pesawat dengan nilai kontrak sekitar US$6,24 miliar, setara Rp84 triliun hingga Rp85 triliun berdasarkan kurs saat itu.
Pemesanan armada dalam skala besar merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan penerbangan. Penambahan pesawat dapat membuka peluang peningkatan kapasitas penumpang, pengembangan rute, dan peremajaan armada, sepanjang disertai kesiapan pembiayaan serta permintaan pasar.
Dalam konteks Lion Air Group, rencana tersebut berkaitan dengan kebutuhan memperkuat armada untuk mengantisipasi pertumbuhan perjalanan udara. Pesawat Boeing 737 MAX 10 dirancang sebagai anggota terbesar dalam keluarga 737 MAX, dengan kapasitas yang mendukung pengangkutan penumpang pada rute-rute tertentu.
Namun, nilai kontrak pemesanan pesawat tidak dapat langsung disamakan dengan pengeluaran tunai pada saat perjanjian ditandatangani. Pembelian pesawat komersial umumnya melibatkan struktur pembayaran, jadwal penyerahan, dan pengaturan pembiayaan yang dapat berlangsung selama beberapa tahun.

Muhammad Imam Hatami
Editor
