Tren Ekbis

Pohon Bisnis Low Tuck Kwong, Raja Batu Bara Pemilik BYAN

  • Pohon bisnis Low Tuck Kwong menunjukkan gurita usaha dari batu bara hingga energi hijau. Simak daftar perusahaan, aset, dan perjalanan bisnisnya secara lengkap.
lo.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - Nama Low Tuck Kwong hampir selalu masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Pengusaha yang dikenal sebagai pendiri PT Bayan Resources Tbk (BYAN) ini membangun kerajaan bisnis batu bara dari nol hingga menjadi salah satu produsen batu bara terbesar di Tanah Air.

Tidak hanya mengendalikan perusahaan tambang dengan produksi puluhan juta ton per tahun, Low Tuck Kwong juga mulai memperluas bisnisnya ke sektor energi terbarukan, layanan kesehatan, infrastruktur digital, hingga investasi strategis di berbagai perusahaan.

Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber Senin, 8 Maret 2026, berikut profil lengkap, perjalanan bisnis, perusahaan yang terafiliasi, hingga kinerja korporasi terbaru Low Tuck Kwong.

Siapa Low Tuck Kwong?

Low Tuck Kwong, yang juga dikenal dengan nama Indonesia Liu Dekang, lahir di Singapura pada 17 April 1948. Ia merupakan pengusaha keturunan Tionghoa yang kemudian menjadi warga negara Indonesia setelah menetap di Indonesia pada 1972.

Perjalanan bisnisnya dimulai sejak usia muda ketika membantu perusahaan konstruksi milik ayahnya, Sum Cheong. Pengalaman tersebut menjadi modal penting saat mendirikan PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI) pada 1973.

Perusahaan tersebut bergerak di bidang pondasi, konstruksi sipil, dan pekerjaan struktur lepas pantai yang melayani berbagai proyek infrastruktur dan pertambangan di Indonesia.

Momentum terbesar dalam perjalanan bisnisnya datang ketika mulai mengakuisisi sejumlah konsesi tambang batu bara di Kalimantan pada akhir 1990-an. Langkah tersebut kemudian menjadi fondasi lahirnya PT Bayan Resources Tbk pada 7 Oktober 2004.

Empat tahun kemudian, Bayan Resources resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham BYAN dan berkembang menjadi salah satu emiten batu bara terbesar di Indonesia.

Berdasarkan pembaruan Forbes Real-Time Billionaires pada Juli 2026, Low Tuck Kwong memiliki estimasi kekayaan bersih sekitar US$16,8 miliar. Nilai tersebut mengantarkannya kembali menduduki posisi orang terkaya di Indonesia, didorong oleh kepemilikannya di PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan sejumlah investasi di sektor energi serta infrastruktur. 

Perusahaan yang Dimiliki dan Terafiliasi dengan Low Tuck Kwong

Kerajaan bisnis Low Tuck Kwong tidak hanya berpusat pada Bayan Resources. Ia juga memiliki kepemilikan maupun keterlibatan dalam sejumlah perusahaan di Indonesia maupun Singapura.

1. PT Bayan Resources Tbk (BYAN)

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) merupakan inti dari kerajaan bisnis Low Tuck Kwong sekaligus perusahaan yang mengantarkannya menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. 

Didirikan pada 2004 dan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2008, perusahaan ini menjalankan bisnis terintegrasi mulai dari eksplorasi, penambangan, pengolahan, pengangkutan, hingga pemasaran batu bara. 

Bayan Resources juga didukung jaringan infrastruktur sendiri, seperti jalan angkut, pelabuhan, serta armada logistik, sehingga mampu meningkatkan efisiensi operasional. 

Hingga kini Low Tuck Kwong masih menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan sekitar 40,17% dan menjabat sebagai Presiden Direktur. Berkat skala operasinya yang besar, Bayan Resources secara konsisten menjadi salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia dengan pangsa produksi yang signifikan terhadap total produksi nasional.

Dalam struktur bisnisnya, PT Bayan Resources Tbk memiliki sekitar 30 anak perusahaan hingga akhir 2025. Anak-anak usaha tersebut mengelola berbagai aktivitas mulai dari kepemilikan konsesi tambang, operasional penambangan, pelayaran, logistik, hingga perdagangan batu bara.

Baca juga : Didampingi Rumah BUMN BRI, Rabundo Perluas Pasar Bumbu Rendang

2. PT Samindo Resources Tbk (MYOH)

Selain mengendalikan Bayan Resources, Low Tuck Kwong juga memiliki keterkaitan dengan PT Samindo Resources Tbk (MYOH), perusahaan yang bergerak di bidang jasa pertambangan. 

Melalui berbagai entitas investasi, ia tercatat memiliki sekitar 14,18% saham di emiten tersebut. Samindo menyediakan berbagai layanan pendukung industri tambang, mulai dari jasa kontraktor penambangan, pengangkutan batu bara, pemindahan lapisan tanah penutup (overburden removal), hingga penyewaan alat berat. 

Kehadiran Samindo melengkapi ekosistem bisnis pertambangan yang dijalankan Low Tuck Kwong, karena perusahaan ini berperan dalam mendukung efisiensi kegiatan operasional di sektor batu bara.

3. Metis Energy

Di luar bisnis batu bara, Low Tuck Kwong juga mulai memperluas portofolionya ke sektor energi melalui afiliasi dengan Metis Energy yang berbasis di Singapura. Perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai Manhattan Resources ini bertransformasi menjadi perusahaan energi dengan fokus pada pengembangan pembangkit listrik dan investasi energi terbarukan di berbagai negara Asia Tenggara. 

Langkah tersebut mencerminkan strategi diversifikasi bisnis Low Tuck Kwong dalam menghadapi tren transisi energi global. Dengan masuk ke sektor energi bersih, ia tidak hanya bergantung pada batu bara sebagai sumber pendapatan utama, tetapi juga mulai membangun eksposur terhadap industri yang diproyeksikan tumbuh dalam jangka panjang.

Baca juga : Royco vs Masako, Siapa Penguasa Bisnis Penyedap Rasa di Indonesia?

4. The Farrer Park Company

Low Tuck Kwong juga memiliki afiliasi dengan The Farrer Park Company, perusahaan yang bergerak di sektor layanan kesehatan dan properti medis di Singapura. Perusahaan ini mengelola rumah sakit, pusat kesehatan, serta berbagai fasilitas medis modern yang melayani pasien domestik maupun internasional. 

Keterlibatan keluarga Low dalam perusahaan tersebut terlihat dari posisi putrinya, Elaine Low, yang menjabat sebagai salah satu direktur. Investasi di sektor kesehatan ini menunjukkan bahwa portofolio bisnis keluarga Low tidak hanya terkonsentrasi pada sektor sumber daya alam, tetapi juga mulai merambah industri dengan prospek pertumbuhan jangka panjang seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan di kawasan Asia.

5. PT Voksel Electric Tbk (VOKS)

Low Tuck Kwong juga tercatat sebagai salah satu investor di PT Voksel Electric Tbk (VOKS), produsen kabel listrik yang telah lama beroperasi di Indonesia. Ia diketahui memiliki sekitar 7,9% saham perusahaan tersebut.

Voksel memproduksi berbagai jenis kabel untuk kebutuhan kelistrikan, telekomunikasi, infrastruktur, hingga proyek energi. Investasi pada perusahaan ini dinilai sejalan dengan perkembangan sektor energi dan pembangunan infrastruktur nasional yang membutuhkan pasokan kabel dalam jumlah besar. 

Kepemilikan saham di Voksel juga mencerminkan strategi diversifikasi investasi Low Tuck Kwong ke sektor manufaktur penunjang pembangunan.

6. SEAX Global

Di sektor infrastruktur digital, Low Tuck Kwong memiliki keterkaitan dengan SEAX Global, perusahaan yang mengoperasikan jaringan kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan Singapura, Indonesia, dan Malaysia. 

Infrastruktur ini menjadi salah satu tulang punggung konektivitas internet dan komunikasi data di kawasan Asia Tenggara. Keterlibatan Low Tuck Kwong di SEAX Global menunjukkan minatnya terhadap bisnis digital yang terus berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan akan pusat data (data center), layanan komputasi awan (cloud computing), dan transformasi digital. 

Investasi ini sekaligus menjadi langkah diversifikasi di luar sektor pertambangan yang selama ini menjadi sumber utama kekayaannya.

Baca juga : Harga Sembako di DKI Jakarta Senin, 03 Agustus 2026, Ikan Kembung Naik, Beras IR. I (IR 64) Turun

7. Giant Miner Pte Ltd

GiantMiner Pte Ltd merupakan perusahaan investasi yang berbasis di Singapura dan bergerak di bidang pertambangan serta pengembangan proyek quarry. Low Tuck Kwong tercatat sebagai salah satu direktur perusahaan tersebut. 

GiantMiner berfokus pada investasi strategis di sektor sumber daya alam dengan menjajaki berbagai peluang akuisisi maupun pengembangan aset pertambangan di kawasan Asia. 

Kehadiran perusahaan ini semakin memperkuat posisi Low Tuck Kwong sebagai investor yang tidak hanya mengembangkan tambang melalui Bayan Resources, tetapi juga memperluas jangkauan bisnisnya melalui berbagai perusahaan investasi yang beroperasi di tingkat regional.

Kinerja PT Bayan Resources Terbaru

Di tengah fluktuasi harga batu bara global, Bayan Resources masih membukukan kinerja keuangan yang relatif solid.

Pada semester I 2026, perusahaan mencatat:

  • Pendapatan sebesar US$1,74 miliar
  • Laba bersih sebesar US$410,25 juta

Laba tersebut meningkat sekitar 17,47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara sepanjang tahun buku 2025, Bayan Resources membukukan,

  • Pendapatan US$3,43 miliar
  • Laba bersih US$767,91 juta

Kinerja tersebut memang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya seiring normalisasi harga batu bara internasional. Dari sisi neraca, total aset Bayan Resources hingga Juni 2026 mencapai sekitar US$3,78 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar US$3,38 miliar.

Bayan Resources termasuk produsen batu bara terbesar di Indonesia. Perusahaan memiliki,

  • 5 Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B)
  • 16 Izin Usaha Pertambangan (IUP)

Seluruh konsesi tersebut tersebar di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan dengan luas mencapai lebih dari 126.000 hektare. Sepanjang 2024, produksi batu bara Bayan Resources mencapai sekitar 56,9 juta ton, atau sekitar 7% dari total produksi batu bara nasional. Untuk 2026, perusahaan menargetkan produksi dapat melampaui 60 juta ton per tahun.

Salah satu langkah korporasi yang paling menyita perhatian terjadi pada Agustus 2024. Low Tuck Kwong mengalihkan sekitar 22% saham Bayan Resources kepada putrinya, Elaine Low.

Nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$6,6 miliar atau setara lebih dari Rp560 triliun berdasarkan nilai pasar saat itu. Pengalihan saham tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi suksesi keluarga sekaligus menjaga keberlanjutan kepemimpinan perusahaan dalam jangka panjang.

Meski dikenal sebagai raja batu bara Indonesia, Low Tuck Kwong mulai memperluas investasinya ke sektor non-batu bara.

Melalui Metis Energy, ia mengembangkan berbagai proyek energi terbarukan. Di sisi lain, investasi pada SEAX Global menunjukkan ketertarikannya terhadap pembangunan infrastruktur digital, khususnya jaringan kabel bawah laut di Asia Tenggara.

Langkah diversifikasi tersebut mencerminkan upaya menyiapkan portofolio bisnis yang lebih beragam di tengah tren transisi energi global dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital.