Tren Ekbis

Peta Persaingan Minimarket 2026: Indomaret Unggul, Pemain Baru Muncul

  • Bagaimana peta persaingan minimarket Indonesia pada 2026? Simak jumlah gerai, kinerja Indomaret, Alfamart, Lawson, serta munculnya Mentari Mart dan minimarket lokal.
<p>Dua ritel milik konglomerat Indonesia, yakni Alfamart dan Indomaret yang kerap berdampingan / Foto: Batamnews</p>

Dua ritel milik konglomerat Indonesia, yakni Alfamart dan Indomaret yang kerap berdampingan / Foto: Batamnews

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Industri minimarket di Indonesia masih didominasi oleh dua pemain besar, yakni Indomaret dan Alfamart. Keduanya menguasai hampir seluruh pasar ritel modern nasional melalui puluhan ribu gerai yang tersebar dari kota besar hingga pelosok daerah.

Namun, lanskap industri mulai mengalami perubahan. Di tengah dominasi dua raksasa tersebut, muncul pemain baru seperti Circle K, Lawson, hingga Mentari Mart, yang dikembangkan Muhammadiyah, sementara sejumlah minimarket lokal di berbagai daerah juga mulai memperluas jaringan. 

Pada saat yang sama, pelaku industri menghadapi tantangan berupa melemahnya daya beli masyarakat, potensi pembatasan ekspansi gerai, hingga persaingan dari layanan quick commerce.

Lantas, bagaimana peta persaingan minimarket di Indonesia pada 2026, siapa yang memimpin pasar, dan seperti apa prospek bisnisnya?

Baca juga : Attention Economy, Ketika Perhatian Jadi Komoditas Mahal di Era Digital

Indomaret Unggul Jumlah Gerai

Data yang TrenAsia kumpulkan dari beragai sumber mengunngkap, hingga Semester I 2026 menunjukkan Indomaret masih menjadi jaringan minimarket terbesar di Indonesia.

Jumlah gerai masing-masing pemain sebagai berikut,

  • Indomaret: 24.351 gerai.
  • Alfamart: 21.442 gerai.
  • Alfamidi: 2.577 gerai.
  • Circle K: 513 gerai.
  • Lawson: 346 gerai.
  • Foodmart Mini: 27 gerai.

Secara keseluruhan, enam jaringan minimarket utama tersebut mengoperasikan sekitar 49 ribu gerai di Indonesia.

Dominasi Indomaret dan Alfamart terlihat sangat kuat. Jika digabungkan, kedua perusahaan menguasai lebih dari 90% jaringan minimarket modern nasional.

Indomaret yang dikelola PT Indomarco Prismatama terus melakukan ekspansi meski laju pertumbuhan mulai melambat dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Perkembangan jumlah gerainya menunjukkan tren yang terus meningkat,

  • Akhir 2024 mencapai 22.682 gerai.
  • Akhir 2025 bertambah menjadi 23.195 gerai.
  • Semester I 2026 kembali meningkat menjadi 24.351 gerai.

Dari sisi kinerja keuangan, pada Semester I 2025 perusahaan membukukan penjualan sebesar Rp57,39 triliun. Sementara itu laba bersihnya tercatat mencapai Rp1,18 triliun.

Meski masih mencatatkan keuntungan, sejumlah laporan menyebutkan penjualan Indomaret mulai menghadapi tekanan akibat melemahnya daya beli masyarakat. Bahkan, nilai penjualan disebut belum kembali ke level sebelum pandemi pada 2019.

Baca juga : Peta Persaingan Kedai Kopi 2026, Kopi Kenangan Masih Memimpin

Alfamart Unggul dari Sisi Pendapatan

Jika Indomaret memimpin dari jumlah gerai, Alfamart justru mencatat kinerja keuangan yang lebih besar. Perusahaan yang berada di bawah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) terus memperluas jaringan toko, gudang distribusi, hingga layanan digital.

Jumlah gerainya berkembang menjadi:

  • Akhir 2024 sebanyak 20.120 gerai.
  • Akhir 2025 meningkat menjadi 21.120 gerai.
  • Semester I 2026 mencapai 21.442 gerai.

Dari sisi keuangan, Alfamart mencatat:

  • Pendapatan Semester I 2026 sebesar Rp67,96 triliun.
  • Pendapatan sepanjang 2025 mencapai Rp126,74 triliun.
  • Laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp3,41 triliun.

Selain itu, Alfamart juga terus memperkuat strategi omnichannel melalui aplikasi Alfagift.

  • Penjualan digital telah menyumbang sekitar 8% dari total pendapatan.
  • Perusahaan berencana menambah sekitar 50 dark store.
  • Memiliki 58 pusat distribusi.
  • Mempekerjakan lebih dari 99 ribu karyawan.
  • Sekitar 36,6% gerainya telah berada di luar Pulau Jawa.

Secara pangsa pasar, Alfamart menguasai sekitar 36,2% pasar minimarket modern. Jika digabung dengan Alfamidi, pangsa pasar grup mencapai sekitar 42,2%.

Lawson Berubah Arah Setelah Diakuisisi Alfamart

Berbeda dengan dua pemain utama, Lawson justru mengalami penyusutan jumlah gerai dalam beberapa tahun terakhir. Perjalanan Lawson menunjukkan penurunan cukup tajam,

  • Tahun 2023 masih memiliki 674 gerai.
  • Akhir 2024 turun menjadi 374 gerai.
  • Semester I 2026 tersisa 346 gerai.

Penurunan tersebut akhirnya berujung pada aksi korporasi. Pada Mei 2025, Alfamart mengakuisisi 70% saham PT Lancar Wiguna Sejahtera, pengelola Lawson Indonesia, dari PT Midi Utama Indonesia Tbk dengan nilai sekitar Rp200 miliar.

Akuisisi dilakukan karena kontribusi Lawson terhadap pendapatan grup dinilai relatif kecil sehingga lebih efisien jika berada di bawah pengelolaan AMRT.

Ke depan, Alfamart berharap sinergi tersebut mampu meningkatkan efisiensi operasional serta memperkuat segmen makanan siap saji (ready to eat) dan minuman siap konsumsi (ready to drink).

Circle K dan Alfamidi Bertahan, Muhammadiyah Masuk

Selain dua pemain terbesar, terdapat beberapa jaringan lain yang tetap mempertahankan eksistensinya, di antaranya,

  • Alfamidi dengan 2.577 gerai, menyasar segmen minimarket berukuran lebih besar.
  • Circle K memiliki 513 gerai, dengan fokus pada kawasan perkotaan dan konsep convenience store.
  • Foodmart Mini mengoperasikan 27 gerai dan relatif stagnan dalam beberapa tahun terakhir.

Persaingan minimarket kini tidak lagi hanya berasal dari perusahaan besar. Muhammadiyah resmi memasuki bisnis ritel modern melalui jaringan Mentari Mart, yang diluncurkan pada 2025.

Gerai pertama berdiri di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berbeda dengan minimarket komersial pada umumnya, Mentari Mart mengusung konsep ekonomi kerakyatan.

Model bisnisnya antara lain:

  • Menjadi pusat pemasaran produk UMKM.
  • Membantu distribusi produk lokal.
  • Melibatkan pelaku usaha kecil di sekitar gerai.
  • Memberdayakan ibu-ibu Aisyiyah dalam operasional.

Muhammadiyah juga memiliki kekuatan modal yang besar melalui berbagai amal usaha dengan total aset yang diperkirakan mencapai Rp400 triliun. Hingga Agustus 2026, Mentari Mart telah hadir di sejumlah daerah seperti,

  • Malang.
  • Samarinda.
  • Banjarmasin.
  • Palembang.
  • Jember.
  • Serta sedang disiapkan di Jambi dan beberapa wilayah lainnya.

Baca juga : Menilik Kinerja Bank Mandiri 2026: Laba Tumbuh, NIM Mulai Tertekan

Minimarket Lokal Mulai Bermunculan

Selain Mentari Mart, sejumlah pengusaha daerah juga mulai membangun jaringan minimarket sendiri. Beberapa di antaranya adalah,

  • Tasco di Tasikmalaya.
  • Maree Mart di Tulungagung.
  • Mitra Mart di Palu.
  • Mitramar di Aceh Barat Daya.

Meski jumlah gerainya masih jauh lebih kecil dibanding Indomaret maupun Alfamart, kehadiran minimarket lokal menunjukkan bahwa peluang bisnis ritel modern masih terbuka, terutama di pasar regional.

Tantangan Industri Minimarket

Di balik pertumbuhan jumlah gerai, industri minimarket juga menghadapi sejumlah tantangan.

1. Regulasi Semakin Ketat

Pemerintah mulai mengevaluasi izin pendirian gerai minimarket modern, terutama di kawasan pedesaan. Langkah tersebut dilakukan agar warung kelontong dan UMKM tetap memiliki ruang berkembang. Selain itu, pemerintah juga mendorong Koperasi Desa Merah Putih menjadi pusat aktivitas ekonomi di desa.

2. Daya Beli Masyarakat Melemah

Pelaku industri mengakui bahwa konsumsi masyarakat kelas menengah mengalami perlambatan sejak beberapa tahun terakhir. Dampaknya antara lain,

  • Penjualan Indomaret belum kembali ke level sebelum pandemi.
  • Laba Alfamart sempat mengalami tekanan pada awal 2025.
  • Konsumen menjadi lebih selektif dalam berbelanja.

3. Persaingan Quick Commerce

Munculnya layanan seperti GoMart dan GrabMart mengubah pola belanja masyarakat. Konsumen kini semakin terbiasa membeli kebutuhan harian secara daring dengan layanan pengiriman cepat, sehingga minimarket dituntut memperkuat kanal digital dan layanan same day delivery.

4. Tekanan terhadap Warung Tradisional

Ekspansi minimarket modern juga terus menjadi sorotan. Sejumlah kajian menyebutkan sekitar 2,2 juta warung kelontong telah hilang dalam hampir dua dekade terakhir akibat meningkatnya persaingan dengan ritel modern.

Hal ini membuat keseimbangan antara investasi ritel modern dan perlindungan UMKM menjadi salah satu isu penting dalam kebijakan perdagangan nasional.

Meski menghadapi berbagai tantangan, prospek industri minimarket Indonesia dinilai masih menjanjikan karena didukung jumlah penduduk yang besar, pertumbuhan kawasan permukiman, serta tingginya kebutuhan belanja harian.