Peta Persaingan Bisnis HP di Indonesia, Siapa Penguasa Pasar?
- Pasar smartphone Indonesia Q1 2026 dikuasai Oppo dan Xiaomi. Simak pangsa pasar, kinerja Samsung, Vivo, Infinix, hingga tren segmen premium.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Persaingan pasar smartphone di Indonesia semakin ketat. Merek asal China masih mendominasi pasar, Oppo dan Xiaomi menjadi dua pemain teratas berdasarkan pengiriman smartphone pada kuartal I 2026.
Berdasarkan data Counterpoint Research, lembaga riset pasar global yang menyediakan data dan analisis mengenai industri teknologi, pasar smartphone Indonesia mengalami kontraksi sebesar 9% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I 2026. Penurunan tersebut terjadi di tengah kenaikan harga sejumlah komponen, terutama memori, yang meningkatkan biaya produksi perangkat.
Meski pasar secara keseluruhan menyusut, persaingan di posisi teratas tetap berlangsung ketat. Berikut peta lima besar pasar smartphone Indonesia pada kuartal I 2026:
- Oppo memimpin dengan pangsa pasar 22%. Pengirimannya turun 24% yoy, tetapi Oppo masih mempertahankan posisi teratas berkat portofolio kelas menengah seperti Reno15 dan seri A.
- Xiaomi berada di posisi kedua dengan pangsa 21%. Pengirimannya turun 4% yoy, dengan lini Redmi A Series menjadi salah satu penopang penjualan di segmen entry-level.
- Samsung mencatat pangsa pasar yang berada di bawah dua pemimpin tersebut dan menjadi satu-satunya merek dalam lima besar yang mencatat pertumbuhan positif, yakni 8% yoy. Kinerjanya didukung pasokan yang stabil serta momentum seri Galaxy S26 di segmen premium.
- Vivo dan Infinix melengkapi lima besar. Namun, kedua merek tersebut mengalami penurunan pengiriman lebih dari 30% yoy, terutama akibat tekanan pada segmen smartphone dengan harga di bawah US$150.
Baca juga : Hashim Lepas Jabatan Komisaris Utama WIFI
Xiaomi Pimpin Pasar Sepanjang 2025
Jika melihat kinerja sepanjang 2025, peta persaingan menunjukkan posisi yang berbeda. Data Omdia mencatat Xiaomi sebagai pemimpin pasar smartphone Indonesia dengan pangsa sebesar 19%.
Komposisi lima besar pasar smartphone Indonesia sepanjang 2025 adalah:
- Xiaomi: 19%
- Transsion: 18%
- Samsung: 17%
- Oppo: 16%
- Vivo: 15%
Transsion merupakan perusahaan induk yang menaungi sejumlah merek seperti Infinix, Tecno, dan itel. Selisih pangsa pasar lima merek terbesar tersebut hanya sekitar 4 poin persentase. a.
Perubahan tersebut terlihat pada kuartal II 2025. Transsion sempat menjadi pemimpin pasar dengan pangsa 21,5%, tumbuh 9,5% yoy.
Pada periode yang sama:
- Transsion menguasai 21,5% pasar.
- Samsung berada di posisi berikutnya dengan pangsa 18,5%.
- Xiaomi memiliki pangsa 16,6%.
Data diatas menjadi bukti jika posisi puncak pasar smartphone Indonesia masih sangat dinamis. Perubahan strategi harga, distribusi, portofolio produk hingga peluncuran model baru dapat mengubah posisi masing-masing pemain.
Dominasi merek China menjadi salah satu karakter utama pasar smartphone Indonesia. Empat dari lima merek teratas merupakan perusahaan asal China.
Kekuatan tersebut terlihat dari kemampuan produsen menggarap berbagai segmen harga melalui portofolio produk yang luas. Oppo, Xiaomi, Vivo, serta Infinix bersaing mulai dari perangkat entry-level hingga smartphone premium.
Strategi multi-merek juga menjadi salah satu faktor yang memperkuat persaingan. Transsion mengoperasikan Infinix, Tecno, dan itel untuk menyasar segmen konsumen yang berbeda.
Baca juga : HUT ke-28, Bank Mandiri Bagikan 'Kado' Dividen Interim Rp6,16 T
Sementara itu, kelompok BBK Electronics memiliki sejumlah merek seperti Oppo, Vivo, Realme, dan iQOO yang memiliki fokus produk serta segmen pasar masing-masing.
Strategi tersebut memungkinkan perusahaan menjangkau lebih banyak konsumen sekaligus menghadapi persaingan di berbagai rentang harga.
Segmen Premium Justru Tumbuh
Menariknya, penurunan pasar smartphone secara keseluruhan tidak terjadi di semua segmen. Counterpoint mencatat segmen premium dengan harga di atas US$600 justru tumbuh 30% yoy pada kuartal I 2026.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan permintaan terhadap perangkat premium masih cukup kuat. Smartphone di kelas ini semakin digunakan bukan hanya untuk komunikasi, tetapi juga fotografi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hiburan, dan produktivitas.
Oppo dan Samsung menjadi dua pemain yang memiliki posisi penting di segmen tersebut melalui produk premium masing-masing.
Di sisi lain, segmen entry-level menghadapi tekanan lebih besar akibat kenaikan harga komponen memori. Konsumen dengan anggaran terbatas menjadi lebih sensitif terhadap kenaikan harga sehingga sebagian memilih menunda pembelian atau beralih ke perangkat bekas.
Baca juga : IHSG Terseok-seok Dihajar Sentimen Global dan Domestik
Dengan kondisi tersebut, persaingan smartphone Indonesia pada 2026 tidak hanya ditentukan oleh volume penjualan. Harga, inovasi teknologi, kekuatan merek, ketersediaan produk, serta kemampuan produsen mengelola biaya komponen menjadi faktor yang semakin menentukan posisi masing-masing pemain.
Peta persaingan pun masih sangat terbuka. Posisi Oppo dan Xiaomi pada kuartal I 2026 belum menghilangkan peluang Samsung, Transsion, Vivo maupun pemain lainnya untuk mengubah komposisi pasar pada kuartal berikutnya.

Muhammad Imam Hatami
Editor
