Perluas Edukasi Pinjaman Digital, Indosaku Gencar Masuk Kampus
- Indosaku perluas program literasi keuangan digital di berbagai kampus lewat edukasi pinjaman digital, penagihan etis hingga pengelolaan keuangan.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Meningkatnya penggunaan layanan pinjaman digital di kalangan generasi muda mendorong pelaku industri fintech untuk memperkuat edukasi keuangan.
PT Indosaku Digital Teknologi (Indosaku), penyelenggara layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi (LPBBTI) yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memperluas program literasi keuangan digital ke berbagai perguruan tinggi sepanjang semester I 2026.
Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya penetrasi layanan keuangan digital di Indonesia. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis OJK dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46%, sementara indeks inklusi keuangan telah menembus 80,51%.
Meski akses masyarakat terhadap layanan keuangan semakin luas, tingkat pemahaman terhadap penggunaan produk keuangan dinilai masih perlu terus diperkuat. Direktur Utama Indosaku Yulvina Napitupulu mengatakan literasi keuangan menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem fintech yang sehat dan berkelanjutan.
"Di Indosaku, kami percaya ekosistem fintech yang sehat harus berdiri di atas dua pilar yang seimbang, yakni pengguna yang cerdas dan teredukasi serta penyelenggara yang beroperasi secara etis dan bertanggung jawab," ujar Yulvina.
Menjangkau Kampus di Berbagai Daerah
Sepanjang paruh pertama 2026, Indosaku menggelar sejumlah kegiatan edukasi di berbagai perguruan tinggi melalui kolaborasi dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dalam program Pindar Mengajar.
Program tersebut telah dilaksanakan di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta pada Mei 2026 dan Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Juni 2026.
Di Yogyakarta, materi difokuskan pada peningkatan pemahaman mahasiswa mengenai tren literasi keuangan nasional, perlindungan data pribadi, hingga mitigasi risiko keamanan siber dalam penggunaan layanan keuangan digital.
Sementara di Malang, edukasi lebih diarahkan pada pemahaman mengenai perbedaan antara layanan Pendanaan Bersama (Pindar) yang legal dengan pinjaman online ilegal, termasuk pentingnya membangun rekam jejak kredit yang sehat dan mengelola utang secara bertanggung jawab.
Edukasi Praktis bagi Calon Wirausaha
Selain melalui program bersama AFPI, Indosaku juga melanjutkan kampanye literasi keuangan di Kampus Bisnis Umar Usman BSD melalui kegiatan bertajuk "Pinjol vs Pindar: Cerdas Memilih".
Tidak hanya memberikan materi mengenai legalitas layanan pinjaman digital, perusahaan juga membekali mahasiswa dengan pelatihan pembukuan sederhana sebagai bekal mengelola keuangan usaha.
Menurut Indosaku, kemampuan mencatat arus kas menjadi salah satu keterampilan dasar yang dibutuhkan calon pelaku usaha agar mampu menjaga kesehatan keuangan bisnis sekaligus menghindari penggunaan utang yang tidak produktif.
Tegaskan Praktik Penagihan Beretika
Selain memperkuat literasi, Indosaku juga menegaskan komitmennya menerapkan praktik penagihan yang sesuai regulasi.
Perusahaan menyatakan seluruh proses penagihan dilakukan berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) yang mengacu pada ketentuan OJK dan kode etik AFPI.
Indosaku juga menegaskan tidak mentoleransi praktik penagihan yang bersifat intimidatif, mengandung ancaman, maupun tindakan yang melanggar hak konsumen.
Menurut Yulvina, edukasi kepada masyarakat harus diimbangi dengan komitmen industri dalam menjalankan bisnis secara bertanggung jawab.
"Rangkaian literasi yang kami lakukan merupakan upaya membangun pengguna yang semakin memahami layanan keuangan digital. Bersamaan dengan itu, kami memastikan tidak ada ruang bagi praktik penagihan yang kasar dalam operasional perusahaan. Kami berkomitmen menjalankan proses penagihan sesuai SOP sebagai bentuk perlindungan terhadap konsumen," katanya.
Literasi Dinilai Kian Penting
Peningkatan edukasi dinilai semakin relevan di tengah pesatnya pertumbuhan industri pendanaan digital.
Data OJK menunjukkan outstanding pembiayaan fintech lending terus meningkat hingga melampaui Rp100 triliun pada 2026, sementara kelompok usia produktif menjadi pengguna terbesar layanan tersebut.
Kondisi tersebut membuat literasi keuangan menjadi salah satu faktor penting agar masyarakat mampu memanfaatkan layanan keuangan digital secara bijak, memahami risiko, serta menghindari penggunaan utang yang berlebihan.
Melalui kombinasi edukasi berkelanjutan dan penerapan tata kelola yang sesuai regulasi, Indosaku berharap dapat berkontribusi dalam memperkuat inklusi keuangan sekaligus menciptakan ekosistem fintech yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan di Indonesia.

Chrisna Chanis Cara
Editor
