Tren Ekbis

PDB Indonesia vs Vietnam 2015–2025, Siapa Tumbuh Lebih Cepat?

  • Simak perbandingan pertumbuhan PDB Indonesia dan Vietnam selama 2015–2025. Vietnam tumbuh lebih cepat, sementara Indonesia masih unggul dalam ukuran ekonomi total.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi .jpg
Suasana mobiltas warga menggunakan kendaraan bermotor di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID– Vietnam diperkirakan melampaui Indonesia dalam hal produk domestik bruto (PDB) per kapita pada 2026. 

Proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) tersebut kembali menyoroti perkembangan dua ekonomi terbesar dan paling dinamis di Asia Tenggara, terutama ketika Vietnam terus mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih tinggi dalam satu dekade terakhir.

Mengutip Nikkei Asia, Jumat, 30 Oktober 2026, IMF memperkirakan PDB per kapita Vietnam pada 2026 mencapai US$5.259, tumbuh 8,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut sedikit lebih tinggi daripada proyeksi Indonesia yang berada di level US$5.153 per kapita.

Jika dikonversikan menggunakan asumsi kurs Rp18.170 per dolar AS, PDB per kapita Vietnam setara sekitar Rp95,55 juta, sedangkan Indonesia sekitar Rp93,62 juta. Selisihnya memang relatif tipis, tetapi proyeksi tersebut menandai perubahan posisi kedua negara dalam indikator ekonomi yang selama ini menjadi salah satu tolok ukur kesejahteraan rata-rata penduduk.

Meski demikian, PDB per kapita tidak sama dengan pendapatan yang benar-benar diterima setiap orang. Indikator ini diperoleh dengan membagi total nilai ekonomi suatu negara dengan jumlah penduduknya. Dengan demikian, angka tersebut menggambarkan rata-rata nilai produksi ekonomi per penduduk, bukan rata-rata gaji atau pendapatan rumah tangga.

Untuk memahami bagaimana Vietnam bisa mendekati, bahkan diperkirakan melampaui Indonesia dalam indikator tersebut, perkembangan ekonomi kedua negara perlu dilihat dalam rentang waktu lebih panjang.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Vietnam 2015–2025

Data pertumbuhan ekonomi menunjukkan Vietnam mencatat laju ekspansi yang lebih cepat dibandingkan Indonesia selama sebagian besar periode 2015–2025. Berdasarkan seri data pertumbuhan PDB riil Bank Dunia, ekonomi Vietnam tumbuh rata-rata sekitar 6,31% per tahun, sedangkan Indonesia sekitar 4,30%.

Berikut perbandingan pertumbuhan ekonomi tahunan kedua negara.

TahunIndonesiaVietnam
20154,88%6,99%
20165,03%6,69%
20175,07%6,94%
20185,17%7,47%
20195,02%7,36%
2020-2,07%2,87%
20213,70%2,55%
20225,31%8,54%
20235,05%4,98%
20245,03%7,04%
20255,11%8,02%

Sumber: Bank Dunia untuk seri historis 2015–2024 dan data resmi BPS serta National Statistics Office Vietnam untuk 2025. Angka pertumbuhan merupakan perubahan PDB riil tahunan. Angka 2025 menggunakan rilis statistik nasional terbaru.

Dari tabel tersebut terlihat bahwa Vietnam mencatat pertumbuhan lebih tinggi daripada Indonesia pada sembilan dari sebelas tahun pengamatan. Keunggulan itu terlihat cukup konsisten sebelum pandemi Covid-19, ketika ekonomi Vietnam tumbuh di kisaran 6%–7% per tahun, sementara Indonesia bertahan di sekitar 5%.

Pandemi menjadi salah satu periode ketika pola pertumbuhan kedua negara berubah. Pada 2020, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 2,07%, sedangkan Vietnam masih tumbuh 2,87%. Setahun berikutnya, Vietnam melambat menjadi 2,55%, sementara Indonesia berhasil tumbuh 3,70%.

Namun, pemulihan setelah pandemi kembali memperlihatkan perbedaan kecepatan. Vietnam mencatat pertumbuhan 8,54% pada 2022, lebih tinggi daripada Indonesia yang tumbuh 5,31%. Pada 2023, pertumbuhan kedua negara relatif berdekatan, dengan Indonesia sebesar 5,05% dan Vietnam 4,98%.

Vietnam kemudian kembali mencatat akselerasi pada 2024 dan 2025. Ekonominya tumbuh masing-masing 7,04% dan 8,02%, sedangkan Indonesia berada di kisaran 5%, yakni 5,03% pada 2024 dan 5,11% pada 2025.

Dengan menggunakan angka pertumbuhan tahunan tersebut, akumulasi ekspansi ekonomi Vietnam selama 2015–2025 mencapai sekitar 95,8%. Sementara itu, ekonomi Indonesia bertambah sekitar 58,5% dalam periode yang sama. Perhitungan ini merupakan akumulasi pertumbuhan riil tahunan, bukan perubahan nilai PDB nominal dalam dolar AS.

Indonesia Masih Memiliki Ekonomi Lebih Besar

Pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat tidak berarti Vietnam telah memiliki ukuran ekonomi lebih besar daripada Indonesia. Dari sisi total PDB, Indonesia masih berada di posisi yang lebih tinggi.

BPS mencatat PDB Indonesia atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun. Pada tahun yang sama, National Statistics Office Vietnam memperkirakan ukuran ekonominya sebesar 12.847,6 triliun dong Vietnam atau setara US$514 miliar.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia masih memiliki basis ekonomi yang lebih besar. Jumlah penduduk Indonesia yang jauh lebih banyak turut menjadi salah satu faktor pembentuk besarnya total PDB nasional.

Namun, ukuran ekonomi total dan PDB per kapita memiliki makna berbeda. Negara dengan jumlah penduduk besar dapat memiliki total PDB lebih tinggi, tetapi belum tentu mencatat nilai PDB per kapita yang lebih besar. 

Sebaliknya, negara dengan populasi lebih kecil dapat mencatat PDB per kapita lebih tinggi apabila nilai tambah ekonominya tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan penduduk.

Manufaktur dan Ekspor jadi Penggerak Vietnam

Salah satu faktor yang menopang pertumbuhan Vietnam adalah penguatan sektor industri pengolahan dan integrasinya ke dalam rantai pasok global. Negara tersebut berkembang menjadi salah satu basis produksi bagi perusahaan multinasional, terutama untuk produk elektronik, perangkat teknologi, dan komponen manufaktur.

Vietnam juga memperoleh keuntungan dari diversifikasi rantai pasok perusahaan global yang berupaya mengurangi ketergantungan produksi pada satu negara. Dalam konteks tersebut, Vietnam menjadi salah satu alternatif lokasi manufaktur di kawasan Asia, termasuk bagi perusahaan yang sebelumnya memusatkan sebagian besar produksinya di China.

Kehadiran perusahaan besar seperti Samsung Electronics dan Foxconn memperkuat posisi Vietnam dalam industri elektronik. Aktivitas manufaktur tersebut tidak hanya meningkatkan nilai produksi, tetapi juga mendukung ekspor dan menarik investasi asing.

Data National Statistics Office Vietnam menunjukkan ekspor barang dan jasa negara itu tumbuh 16,27% pada 2025. Sementara itu, pembentukan modal atau investasi dalam perekonomian tumbuh 8,68% dan konsumsi akhir meningkat 7,95%.

Dari sisi produksi, industri dan konstruksi Vietnam tumbuh 9,73% pada kuartal IV 2025. Sektor jasa juga mencatat pertumbuhan 8,82% pada periode yang sama. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ekspansi ekonomi Vietnam ditopang oleh aktivitas industri sekaligus sektor jasa.

Pemerintah Vietnam juga menempatkan investasi infrastruktur sebagai salah satu instrumen untuk mendukung pertumbuhan. Pembangunan jalan, bandara, dan fasilitas pendukung kegiatan industri diarahkan untuk meningkatkan konektivitas serta menekan biaya logistik.

Dalam jangka panjang, penguatan infrastruktur dapat meningkatkan daya tarik investasi karena perusahaan membutuhkan akses transportasi, energi, dan jaringan distribusi yang memadai. Namun, dampak investasi tersebut tetap bergantung pada produktivitas proyek dan kemampuan pemerintah memastikan pembangunan memberikan nilai tambah bagi perekonomian.

Tantangan Indonesia dalam Mengejar Produktivitas

Indonesia memiliki karakteristik ekonomi yang berbeda dari Vietnam. Dengan pasar domestik yang besar, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih banyak ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas sektor jasa. Sementara itu, Vietnam relatif lebih terintegrasi dengan perdagangan internasional melalui industri manufaktur dan ekspor.

BPS mencatat ekonomi Indonesia pada 2025 tumbuh 5,11%. Dari sisi produksi, lapangan usaha jasa lainnya mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9,93%. Sementara dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 7,03%.

Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tetap tumbuh di tengah ketidakpastian global. Namun, jika dibandingkan dengan Vietnam, selisih pertumbuhan tahunan memperlihatkan tantangan Indonesia untuk mempercepat pembentukan nilai tambah ekonomi.

Penguatan industri pengolahan, peningkatan produktivitas tenaga kerja, serta penciptaan lapangan kerja dengan nilai tambah lebih tinggi menjadi sejumlah aspek yang relevan untuk diperhatikan. Pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat juga perlu diikuti peningkatan kualitas pekerjaan dan pendapatan masyarakat agar ekspansi ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

Penting pula untuk membedakan pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kesejahteraan. PDB yang meningkat belum tentu langsung mencerminkan pemerataan pendapatan, penurunan kemiskinan, atau membaiknya daya beli seluruh kelompok masyarakat.

PDB per Kapita Vietnam Diproyeksikan Melampaui Indonesia

Perbedaan kecepatan pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi salah satu latar belakang proyeksi IMF mengenai PDB per kapita kedua negara pada 2026.

Dalam proyeksi yang dikutip Nikkei Asia, PDB per kapita Vietnam diperkirakan mencapai US$5.259, lebih tinggi daripada Indonesia sebesar US$5.153. Jika proyeksi itu terealisasi, Vietnam akan mencatat posisi lebih tinggi dalam indikator PDB per kapita nominal.

Meski begitu, perbandingan tersebut perlu memperhatikan pengaruh nilai tukar. PDB per kapita nominal dalam dolar AS dihitung dengan mengonversi nilai ekonomi domestik menggunakan kurs yang berlaku. Karena itu, pelemahan mata uang suatu negara dapat menekan nilai PDB per kapitanya dalam denominasi dolar AS, meskipun aktivitas ekonomi riil masih bertumbuh.

Hal tersebut relevan bagi Indonesia ketika rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS. Perubahan kurs dapat membuat nilai PDB per kapita Indonesia dalam dolar AS bergerak lebih lambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi riilnya.

Selain itu, PDB per kapita nominal tidak memperhitungkan perbedaan harga barang dan jasa antarnegara. Untuk membandingkan daya beli masyarakat, indikator paritas daya beli atau purchasing power parity (PPP) dapat memberikan gambaran yang berbeda karena memperhitungkan tingkat harga di masing-masing negara.