Tren Ekbis

Paradoks Harga Pertamax: Naik Seketika, Turun Menunggu Lama

  • Harga minyak dunia turun, tetapi Pertamax belum tentu cepat ikut turun. Simak mengapa mekanisme harga BBM di Indonesia cenderung asimetris: naik cepat, turun lambat.
Pertamax Turun Harga - Panji 2.jpg
Petugas tengah mengganti papan harga BBM di sebuah SPBU kawasan Kebun Jeruk Jakarta Barat. PT Pertamina hari ini 3 Januari 2023 pukul 14.00 menurunkan harga Pertamax,Pertamax Turbo dan Pertamina Dex. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Setiap kali harga minyak dunia turun, pertanyaan yang langsung muncul dari publik hampir selalu sama, kapan harga BBM ikut turun? Hal ini lantaran penurunan harga bahan bakar sering kali dianggap tak seinstan kenaikan harga komoditas. 

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menegaskan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax pasti akan turun jika harga minyak dunia terus menurun. “Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM nonsubsidi juga akan turun,” ujarnya dikutip dari Antara, Kamis, 18 Juni 2026.

Pernyataan itu sejalan dengan proyeksi Dewan Energi Nasional (DEN), yang memperkirakan rata-rata harga minyak mentah global pada 2026 berada di kisaran US$80–85 per barel, lebih rendah dibanding asumsi sebelumnya di rentang US$90–100 per barel.

Meski harga minyak global sudah turun, harga jual Pertamax saat ini disebut belum sepenuhnya mencerminkan harga keekonomian yang sebenarnya. Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menghitung harga keekonomian ideal Pertamax saat ini masih berada di kisaran Rp16.500 per liter.

Angka tersebut sekitar Rp250 lebih tinggi dari harga jual resmi Pertamax yang kini berada di Rp16.250 per liter. Artinya, meski harga minyak dunia turun, Pertamax masih dijual sedikit di bawah harga keekonomian.

Ini menjelaskan mengapa penurunan harga BBM tidak sesederhana “minyak turun maka besok BBM turun.” Namun penjelasan itu juga membuka pertanyaan yang lebih besar. Mengapa harga BBM di Indonesia terasa naik sangat cepat, tetapi turun jauh lebih lambat?

Naik dalam Semalam, Turun Menunggu Sebulan

Inilah pola yang hampir selalu berulang. Pada 10 Juni, harga Pertamax melonjak drastis dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan sebesar Rp3.950 per liter atau sekitar 32% terjadi praktis dalam satu malam.

Pemerintah menjelaskan kenaikan besar itu terjadi karena harga BBM sebelumnya sengaja ditahan sejak April demi menjaga daya beli masyarakat. Dengan kata lain, akumulasi kenaikan yang seharusnya bisa dilepas bertahap akhirnya dilepas sekaligus.

Masalahnya, mekanisme penurunan harga tidak bekerja dengan cara yang sama. Ketika harga minyak turun, Pertamina tidak serta-merta menurunkan harga keesokan harinya. Harga BBM nonsubsidi dihitung menggunakan formula yang memperhitungkan:

  • rata-rata harga minyak dalam periode tertentu,
  • nilai tukar rupiah terhadap dolar,
  • biaya distribusi dan logistik,
  • margin badan usaha,
  • serta komponen pajak.

Akibatnya, penyesuaian harga biasanya dilakukan bulanan, bukan harian. Berbeda dengan Amerika Serikat, misalnya, di mana harga bensin di SPBU bisa berubah hampir setiap hari mengikuti pasar.

Di sinilah letak persoalan utama. Ada asimetri harga yang cenderung merugikan konsumen. Ketika harga minyak naik:

  • harga BBM bisa naik cepat,
  • bahkan melonjak sekaligus.

Ketika harga minyak turun:

  • harga BBM turun pelan,
  • menunggu rata-rata bulanan,
  • kadang baru terasa setelah beberapa pekan.

Dalam jendela waktu itu, konsumen tetap membayar harga tinggi. Ekonom Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai masalah inti sebenarnya bukan semata apakah BBM harus turun atau tidak.

“Persoalan yang sesungguhnya bukan apakah harga BBM harus turun, melainkan seberapa transparan pemerintah dalam mengomunikasikan komponen-komponen perhitungan harga tersebut kepada publik agar tidak mudah dipolitisasi,” ujar Yayan dalam keterangannya.

Kenapa Tidak Bisa Turun Instan?

Secara teknis, ada alasan mengapa penurunan tidak bisa terlalu cepat. Pertamina membeli BBM atau bahan baku berdasarkan kontrak dan inventori yang dibangun sebelumnya. Artinya, solar atau bensin yang dijual hari ini belum tentu dibeli dengan harga minyak hari ini. Ada efek inventory lag.

Ekonom energi UGM, Fahmy Radhi, menjelaskan bahwa volatilitas harga energi global memang membuat penyesuaian harga domestik tidak selalu linear. “Harga jual domestik tidak hanya ditentukan oleh harga minyak spot hari ini, tetapi juga struktur biaya dan mekanisme pengadaan sebelumnya,” ujarnya dalam sebuah diskusi energi.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan, Pertamax series adalah BBM non subsidi yang harga jualnya mengikuti perkembangan parameter pasar sesuai formula yang berlaku.. 

“BBM non subsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi”, ujar Roberth dalam keterangan resmi, Kamis. 

Dia mengatakan evaluasi harga BBM non subsidi bakal dilakukan secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian.  Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah. 

Rupiah, Variabel yang Sering Dilupakan

Ada faktor lain yang sering luput. Harga minyak dunia boleh turun. Tetapi jika rupiah melemah, efek penurunan itu bisa tergerus. Diketahui,  rupiah saat ini masih berada di kisaran Rp17.900 per dolar AS, jauh lebih lemah dibanding awal tahun.

Karena impor minyak dan BBM dibayar dalam dolar, pelemahan rupiah otomatis menaikkan biaya impor energi. Sederhananya:

  • minyak turun → kabar baik
  • rupiah melemah → kabar buruk

Keduanya bisa saling menetralkan. Inilah alasan harga minyak global turun belum tentu langsung diterjemahkan menjadi harga BBM lebih murah.

Masalah Lebih Besar: Defisit Kepercayaan

Sejumlah pengamat mengatakan isu harga BBM sering kali bukan hanya soal formula, tapi juga soal kepercayaan publik. Masyarakat cenderung merasa:

  • kenaikan harga selalu cepat terasa,
  • penurunan harga selalu lambat datang.

Persepsi ini menciptakan trust deficit terhadap kebijakan energi. Menurut International Energy Agency (IEA), reformasi harga energi yang berhasil di berbagai negara biasanya memiliki satu syarat penting: transparansi komunikasi kepada publik.

Publik harus memahami:

  • bagaimana harga dihitung,
  • faktor apa yang membuat harga naik,
  • dan kapan harga bisa turun.

Tanpa itu, setiap penyesuaian harga akan selalu dicurigai. Selama mekanisme kenaikan dan penurunan harga tetap asimetris, konsumen akan terus merasa berada di sisi yang kalah.