OCBC Rilis FFI 2026, Skor Kesehatan Finansial Anak Muda Turun Jadi 39,64
- OCBC mengungkap skor financial fitness anak muda turun menjadi 39,64 pada 2026. Kebiasaan menabung naik dari 89% menjadi 92%.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) bersama NielsenIQ (NIQ) kembali meluncurkan Financial Fitness Index (FFI) 2026, studi tahunan yang mengukur kesehatan finansial generasi muda Indonesia.
FFI 2026 mencatat skor financial fitness anak muda Indonesia sebesar 39,64, turun dari 40,60 pada 2025. Penurunan skor tersebut terjadi ketika semakin banyak masyarakat mulai menyisihkan pendapatan untuk ditabung. Berdasarkan studi FFI 2026, proporsi masyarakat yang rutin menabung meningkat dari 89% menjadi 92%.
Namun, peningkatan kebiasaan menabung belum sepenuhnya diikuti penerapan perencanaan keuangan yang lebih kuat. Sebanyak 55% masyarakat merasa perencanaan finansial yang dilakukan saat ini akan membawa mereka menuju kesuksesan finansial.
Di sisi lain, 80% masyarakat belum melakukan pencatatan keuangan, sementara hanya 27% yang memiliki dana darurat. Kondisi tersebut menunjukkan adanya jarak antara kesadaran mengenai pentingnya kesehatan finansial dengan penerapan pengelolaan keuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga : Mana Lebih Untung Sekarang, Investasi Emas atau Dolar?
Financial Fitness Turun, Kebutuhan Dasar Masih Jadi Prioritas
NielsenIQ melihat masyarakat masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan finansial dasar di tengah penurunan skor financial fitness.
Meski demikian, NielsenIQ juga melihat adanya perubahan positif dalam kebiasaan finansial masyarakat, terutama dalam hal menabung dan persiapan masa depan.
Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kesadaran finansial mulai berkembang. Namun, kebiasaan menyisihkan uang belum otomatis menunjukkan bahwa seseorang memiliki fondasi keuangan yang kuat.
Salah satu indikator yang masih menjadi perhatian adalah kepemilikan dana darurat. Dari masyarakat yang disurvei, baru 27% yang memiliki dana darurat.
Dana darurat sendiri berperan sebagai cadangan ketika masyarakat menghadapi kondisi tidak terduga, seperti kehilangan pendapatan, kebutuhan kesehatan, atau pengeluaran mendesak lainnya.
Studi FFI 2026 juga menunjukkan adanya perbedaan perilaku investasi antara masyarakat yang memiliki dana darurat dan mereka yang belum memilikinya.
Masyarakat yang memiliki dana darurat tercatat lebih banyak memiliki produk investasi kompleks seperti saham, deposito, reksa dana, dan forex.
Kepemilikan produk investasi kompleks pada kelompok yang memiliki dana darurat mencapai 9%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kelompok yang belum memiliki dana darurat, yakni 4%.
Perbedaan juga terlihat dari pertimbangan untuk memiliki produk investasi kompleks. Sebanyak 14% masyarakat yang memiliki dana darurat mempertimbangkan produk tersebut, sedangkan pada kelompok yang belum memiliki dana darurat hanya 2%.
Data tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara kesiapan finansial dan perilaku investasi. Namun, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan hubungan sebab-akibat antara kepemilikan dana darurat dengan keputusan investasi.
OCBC: Sehat Finansial Bukan Sekadar Punya Banyak Uang
PT Bank OCBC NISP Tbk atau OCBC menilai kesehatan finansial tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya uang yang dimiliki seseorang.
“Bagi OCBC, sehat secara finansial bukan sekadar tentang memiliki lebih banyak uang, tetapi tentang memiliki fondasi dan perencanaan yang membuat kita mampu menghadapi ketidakpastian, sekaligus memiliki ruang untuk bertumbuh,” ujar Lauda Muliana, Personal Banking Segment Head, OCBC.
Pandangan tersebut menempatkan perencanaan keuangan dan kemampuan menghadapi kondisi tidak terduga sebagai bagian dari financial fitness.
OCBC juga menekankan pentingnya mengubah pengetahuan finansial menjadi kebiasaan yang diterapkan secara konsisten.
“Jadi bukan hanya tahu ilmunya, tetapi juga harus mengaplikasikannya dengan bijak dan konsisten,” ujar Lauda.
Hal ini menjadi relevan dengan temuan FFI 2026 yang menunjukkan masih adanya kesenjangan antara pengetahuan mengenai keuangan dan praktik pengelolaan uang.
Sebanyak 55% masyarakat menilai perencanaan finansial dapat membawa kesuksesan finansial, tetapi 80% belum melakukan pencatatan keuangan dan hanya 27% memiliki dana darurat.
Sehat Finansial Tetap Bisa Menikmati Lifestyle
OCBC juga tidak memandang kesehatan finansial sebagai kondisi yang mengharuskan masyarakat meninggalkan gaya hidup atau seluruh aktivitas konsumsi.
“OCBC percaya bahwa sehat secara finansial bisa berjalan beriringan dengan menikmati lifestyle,” ujar Lauda.
Dengan demikian, pengelolaan keuangan tidak hanya berkaitan dengan mengurangi pengeluaran, tetapi juga bagaimana seseorang membuat perencanaan sehingga kebutuhan saat ini dan tujuan finansial masa depan dapat berjalan beriringan.
Konsep tersebut kemudian dibawa OCBC melalui OCBC Nyala Festival 2026 yang digelar pada 18–20 September 2026 di Pondok Indah Mall 3, Jakarta.
Acara tersebut menghadirkan lebih dari 10 pembicara, workshop finansial serta permainan edukasi Moneyploration yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar mengenai pengelolaan keuangan.
Baca juga : Bahaya Mengintai Dari Alat dan Bahan Rumah Tangga
Melalui kegiatan tersebut, edukasi finansial tidak hanya disampaikan dalam bentuk informasi, tetapi juga melalui aktivitas yang lebih interaktif.
Temuan FFI 2026 memperlihatkan dua kondisi yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, semakin banyak masyarakat yang mulai membangun kebiasaan menabung. Di sisi lain, penerapan pengelolaan keuangan secara menyeluruh masih menjadi tantangan.
Kenaikan proporsi masyarakat yang menabung dari 89% menjadi 92% menjadi sinyal meningkatnya kesadaran untuk mempersiapkan masa depan.
Namun, angka 80% masyarakat yang belum melakukan pencatatan keuangan dan baru 27% yang memiliki dana darurat menunjukkan bahwa financial awareness belum sepenuhnya berubah menjadi financial action.
