Tren Ekbis

Melesat 3,13% ke Atas 5.000 dalam 2 Hari, IHSG Masih Rentan Koreksi

  • JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya kembali ke level psikologis 5.000-an, setelah kembali melanjutkan penguatannya dalam dua hari secara...

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya kembali ke level psikologis 5.000-an, setelah kembali melanjutkan penguatannya dalam dua hari secara beruntun. Menutup perdagangan hari ini, Senin, 8 Juni 2020, IHSG berada pada level 5.070,56 atau naik 2,48% dari hari sebelumnya 4.947,78.

Dengan catatan itu, total penguatan IHSG dalam dua hari mencapai 3,13% dari posisi 4 Juni 2020 pada level 4.916,7.

Kalangan analis yang dihubungi Trenasia.com langsung menyambut positif penguatan IHSG yang tertinggi dalam tiga bulan terakhir ini.

Salah satunya Analis PT MNC Sekuritas Victoria Venny. Venny menyebut, ada beberapa sentimen baik dari global maupun domestik yang mempengaruhi penguatan IHSG. Dari global misalnya, respons positif adanya kenaikan jumlah lapangan kerja di Amerika Serikat yang melebihi ekpektasi pasar.

Sementara dari domestik, Venny cenderung melihat adanya optimisme dari market akan reopening kegiatan bisnis setelah pembatasan sosial berskala besar (PSBB). “Sehingga aktivitas manufaktur dapat berjalan kembali,” ungkap Venny.

Selain itu, lanjut Venny, cadangan devisa juga meningkat pada Mei 2020 yang membuat market semakin antusias di tengah ekonomi yang slowdown karena COVID-19.

Serupa, Analis PT Indo Premier Sekuritas Mino menerangkan, setidaknya ada tiga faktor pendorongan penguatan IHSG. Mulai dari solidnya data tenaga kerja Amerika pada Mei yang menambah optimisme investor akan proses pemulihan ekonomi, naiknya sebagian besar harga komoditas, dan berlanjutnya aksi beli asing di saham big cap.

Adapun Analis PT OSO Sekuritas Sukarno Alatas lebih menekankan faktor rilis cadangan devisa Indonesia pada Mei yang naik jadi US$130,5 miliar.

Masih Rentan Koreksi

Sukarno menilai, potensi pergerakan IHSG besok masih ada peluang melanjutkan penguatan. “Karena secara faktor teknikal indeks sudah breakout resist terdekat. Artinya ada potensi mencari resist baru,” ungkap dia.

Tapi dia menyarankan, pelaku pasar tetap hati-hati akan adanya aksi profit taking karena indeks sudah naik signifikan.

Venny juga meminta para investor mewaspadai adanya potensi sell off dalam waktu dekat. “Karena sebenarnya dari ekonomi domestik sendiri belum begitu kuat, kemudian dari peningkatan jumlah kasus COVID-19 juga semakin tinggi. Jadi, market saat ini masih sangat rentan akan koreksi,” jelas Venny.

Meski belum memiliki proyeksi IHSG sepekan ke depan atau hingga akhir semester I, Venny punya level support – ressistance IHSG perdagangan Selasa, 9 Juni 2020 pada level 4.900 – 5.100.

Sementara Sukarno yang menilai aktivitas ekonomi mulai berjalan, punya proyeksi IHSG berkisar 4.975-5.350.

Di sisi lain, Mino memproyeksikan IHSG pada perdagangan besok bisa bergerak pada kisaran 4.935-5.200. Dengan catatan: “Tidak ada lonjakan kasus baru COVID-19. Maka sentimennya bisa bertahan,” kata dia.

Head of Research Equity Technical Analyst PT Reliance Securities Lanjar Nafi menambahkan, indikator stochastic dan RSI mulai menjenuh pada area overboght akan menjadi signal pemberat pergerakkan IHSG selanjutnya.

“Sehingga kami perkirakan secara teknikal IHSG akan bergerak cenderung cukup berat mencoba bertahan pada zona positif dengan support-resistance 4.944-5.080,” jelasnya. (SKO)