Tren Ekbis

Mudik Lebaran, Emisi Mobil Pribadi 78% Lebih Tinggi dari Kereta Api

  • Kebijakan WFA dinilai efektif pangkas kepadatan mudik hingga 28%. Simak analisis pakar lingkungan IPB mengenai strategi menekan jejak karbon dan limbah selama libur Lebaran.
Mudik Pelabuhan Merak - Panji 5.jpg
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Posko Merak, Banten, mencatat sebanyak 671.790 orang menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera dari H-10 hingga H-3 Lebaran. Jumlah ini naik sebanyak 8% dari tahun lalu. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Ritual mudik Lebaran yang kian masif setiap tahunnya menyimpan tantangan lingkungan yang tidak main-main. Di balik kegembiraan bertemu keluarga, lonjakan mobilitas masyarakat yang didominasi oleh kendaraan pribadi memicu peningkatan emisi gas rumah kaca dan polusi udara secara signifikan di sepanjang jalur mudik.

Pakar Pengelolaan Lingkungan dan Pencemaran IPB University, Prof. Hefni Effendi, menekankan bahwa transisi pola transportasi dari kendaraan pribadi ke angkutan massal bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menekan dampak buruk terhadap iklim.

Tahun ini, urgensi tersebut semakin nyata. Data Kementerian Perhubungan memproyeksikan total pemudik mencapai 146,48 juta orang. Dari angka tersebut, sektor kendaraan pribadi masih mendominasi dengan estimasi 33 juta orang menggunakan mobil dan 12,74 juta orang mengandalkan sepeda motor.

Kondisi ini menciptakan beban emisi yang sangat berat. Secara kalkulasi, sebuah mobil pribadi rata-rata menghasilkan 192 gram CO2 per penumpang per kilometer. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kereta api yang hanya memproduksi 41 gram CO2 per penumpang per kilometer. Artinya, beralih ke kereta api dapat memangkas jejak karbon individu hingga 78%.

"Dengan meningkatnya penggunaan mobil dan motor pribadi, serta penambahan frekuensi moda transportasi lainnya, emisi gas rumah kaca dan jejak karbon transportasi akan terus merangkak naik," ujar Hefni dikutip dari laman IPB, Jumat 13 Maret 2026.

Strategi Memecah Konsentrasi Polusi

Selain emisi, konsentrasi polutan di titik kemacetan seperti gerbang tol menjadi perhatian serius.  Hefni mengapresiasi langkah pemerintah yang kembali membuka ruang kebijakan Work From Home (WFH) dan Work From Anywhere (WFA) menjelang hari raya.

Data menunjukkan bahwa tanpa skema WFA, puncak arus mudik bisa menyentuh angka 16,8 juta pergerakan dalam satu hari. Namun, dengan kebijakan kerja fleksibel, beban tersebut dapat ditekan hingga 28% menjadi sekitar 12,1 juta pergerakan. Pengurangan kepadatan ini secara langsung membantu mencegah akumulasi pencemaran udara dan kebisingan yang ekstrem di jalur-jalur utama.

Ancaman 72 Ribu Ton Sampah

Persoalan lingkungan saat mudik ternyata tidak hanya berhenti di udara.  Hefni mengingatkan risiko lonjakan limbah padat, terutama dari penggunaan kemasan sekali pakai (throw-away packaging).

Kementerian Lingkungan Hidup memproyeksikan timbulan sampah selama dua minggu periode mudik dan balik tahun ini bisa mencapai 72.000 ton. Angka ini menunjukkan kenaikan tajam sebesar 14.000 ton dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat di level 58.000 ton.

“Masyarakat perlu mulai beralih pada kemasan yang dapat digunakan kembali (reusable) untuk menekan volume sampah plastik yang biasanya menumpuk di rest area dan terminal,” tambah Hefni.

Untuk mewujudkan mudik yang lebih hijau, Hefni mendorong pemerintah dan sektor swasta untuk terus meningkatkan kualitas angkutan umum. Fokus pada ketepatan waktu, kenyamanan, serta perluasan rute menjadi kunci agar masyarakat mau meninggalkan kendaraan pribadi mereka.

Penyediaan fasilitas ini, menurutnya, harus dibarengi dengan pemberian insentif strategis bagi penyelenggara transportasi massal. Dengan layanan yang prima, angkutan publik tidak hanya akan menjadi solusi kemacetan, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan di masa depan.