Menilik Roadmap Ekonomi Biru Indonesia, 11 Sektor Menjanjikan
- Indonesia memiliki 11 sektor ekonomi biru dengan potensi besar, mulai dari perikanan hingga karbon biru. Nilainya diperkirakan mencapai US$14 triliun.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Rokhmin Dahuri, mengungkap besarnya potensi sektor kelautan yang dimiliki Indonesia. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi sumber daya laut yang sangat besar.
Menurutnya, kekayaan tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional. Ia memperkirakan potensi ekonomi wilayah laut Indonesia mencapai US$14 triliun per tahun dan berpeluang menciptakan hingga 45 juta lapangan kerja.
Potensi tersebut berasal dari berbagai aktivitas ekonomi berbasis laut dan pesisir yang mencakup perikanan, pariwisata, transportasi, energi, industri, hingga karbon biru.
Meski memiliki potensi besar, pemanfaatan ekonomi kelautan Indonesia dinilai belum optimal. Kontribusi sektor maritim terhadap perekonomian nasional saat ini masih sekitar 7%, sementara pemerintah menargetkannya meningkat menjadi 15% terhadap PDB pada 2045.
“Sayangnya, hingga saat ini potensi ekonomi dari sektor kelautan tersebut belum dimanfaatkan secara produktif dan optimal,” jelas Rokhmin Dahuri dalam acara Konferensi Svarnasamudera Nusantara Ocean Week, dikutip Kamis, 10 September 2026.
Baca juga : Nyaris Stagnan, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?
Lantas, apa saja sektor ekonomi biru Indonesia dan seberapa besar potensinya?
Sektor Ekonomi Biru Indonesia
Berdasarkan identifikasi Rokhmin Dahuri, terdapat 11 sektor strategis ekonomi biru Indonesia. Sektor tersebut terdiri dari perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan hasil laut, pariwisata bahari, transportasi laut dan logistik, energi terbarukan laut, migas dan mineral laut, industri galangan kapal, karbon biru, bioteknologi kelautan, serta ekonomi kerakyatan pesisir.
Ke-11 sektor tersebut menunjukkan bahwa ekonomi biru tidak hanya berkaitan dengan aktivitas menangkap ikan. Laut juga memiliki potensi besar sebagai sumber energi, bahan baku industri, jasa transportasi, pariwisata, hingga pengembangan teknologi dan produk bernilai tambah tinggi.
Sejumlah kajian menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari sektor kelautan Indonesia. Climateworks memperkirakan potensi ekonomi biru Indonesia mencapai sekitar US$1,3 triliun. Sementara itu, sejumlah kajian lain memperkirakan potensi ekonomi laut Indonesia lebih dari US$280 miliar per tahun.
DPR RI juga pernah menyebut potensi ekonomi biru Indonesia dapat mencapai lebih dari Rp3.000 triliun. Besarnya perbedaan angka tersebut salah satunya disebabkan oleh perbedaan definisi, cakupan sektor, serta metode perhitungan yang digunakan. Namun, seluruh estimasi tersebut menunjukkan satu hal yang sama, yakni potensi ekonomi kelautan Indonesia sangat besar.
Potensi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kontribusi sektor maritim terhadap PDB nasional.
Baca juga : Mengenal Megathrust Indonesia: 14 Segmen dan Potensi Gempanya
Seberapa Besar Sektor Perikanan Indonesia?
Perikanan menjadi salah satu sektor utama dalam ekonomi biru Indonesia. Pada 2025, produksi perikanan nasional mencapai sekitar 26,25 juta ton, meningkat 3,8% secara tahunan.
Produksi tersebut terdiri dari sekitar 11,65 juta ton rumput laut, 7,85 juta ton perikanan tangkap, dan 6,75 juta ton perikanan budidaya.
Dari sisi perdagangan, ekspor produk perikanan Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$6,27 miliar atau sekitar Rp107 triliun, meningkat 5,38% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, PDB sektor perikanan mencapai sekitar Rp610,75 triliun, tumbuh 10,11% secara tahunan. Amerika Serikat, China, dan negara-negara ASEAN menjadi sejumlah pasar utama produk perikanan Indonesia. Komoditas seperti udang dan tuna menjadi salah satu produk unggulan ekspor.
Besarnya produksi perikanan belum otomatis menghasilkan nilai ekonomi maksimal bagi Indonesia. Salah satu tantangannya adalah masih terbatasnya hilirisasi dan nilai tambah produk kelautan.
Hilirisasi diperlukan agar komoditas laut tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah atau produk bernilai rendah. Pengolahan di dalam negeri dapat menciptakan produk dengan nilai jual lebih tinggi sekaligus membuka lapangan kerja dan memperkuat industri nasional.
Salah satu contoh kesenjangan nilai tambah terlihat pada komoditas benih bening lobster (BBL). Indonesia diperkirakan memiliki potensi lebih dari 200 juta ekor BBL per tahun. Dengan asumsi nilai sekitar Rp40.000 per ekor, potensi ekonominya dapat mencapai sekitar Rp9 triliun.
Namun, harga di tingkat nelayan disebut berada di kisaran Rp10.000–Rp15.000 per ekor. Sementara di pasar Vietnam, harganya dapat mencapai Rp40.000–Rp70.000 per ekor, bahkan dalam kondisi tertentu bisa mencapai Rp150.000.
Perbedaan tersebut menunjukkan adanya potensi nilai tambah yang cukup besar di sepanjang rantai pasok lobster.
Baca juga : Geothermal Flores dan Maori: Dari Audit Menuju Kepemilikan
Peta Jalan Ekonomi Biru
Selain perikanan, karbon biru (blue carbon) menjadi salah satu sektor yang berpotensi besar dalam ekonomi biru. Karbon biru merujuk pada karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir dan laut, terutama mangrove, padang lamun, serta rawa payau.
Indonesia memiliki sekitar 17% ekosistem karbon biru dunia. Karena itu, perlindungan ekosistem tersebut memiliki manfaat ekologis sekaligus potensi ekonomi.
Pengembangan karbon biru dapat mendukung perdagangan karbon, pencapaian target pengurangan emisi, konservasi, serta menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat pesisir.
Program konservasi laut juga ditargetkan dapat menghasilkan sekitar 800.000 ton karbon per tahun, dengan potensi nilai ekonomi hingga Rp20 triliun dan menciptakan sekitar 83.000 lapangan kerja.
Pemerintah telah menetapkan ekonomi biru sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang Indonesia.
Dalam Peta Jalan Ekonomi Biru Indonesia 2023–2045, kontribusi ekonomi maritim ditargetkan meningkat dari sekitar 7,6% menjadi 15% terhadap PDB pada 2045. Dalam berbagai proyeksi, nilai PDB dari sektor maritim pada 2045 diperkirakan dapat mencapai sekitar US$7,4 triliun hingga US$9,8 triliun.
Pemerintah juga menargetkan penciptaan sekitar 45 juta lapangan kerja, perluasan kawasan konservasi laut hingga sekitar 97,5 juta hektare, serta kebutuhan investasi ekonomi biru sekitar US$681 miliar.
Target tersebut menunjukkan bahwa ekonomi biru diproyeksikan bukan sekadar kebijakan konservasi, melainkan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi nasional.
Sektor lain yang memiliki peluang besar adalah bioteknologi kelautan. Sektor ini memanfaatkan organisme dan sumber daya laut untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, seperti pangan inovatif, biomaterial, bahan farmasi, biomolekul, hingga produk yang berasal dari limbah perikanan.
Bioteknologi kelautan diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan atau CAGR sekitar 7%.
Pengembangan sektor ini dapat menjadi bagian dari strategi hilirisasi karena sumber daya laut tidak hanya dimanfaatkan sebagai komoditas mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk berbasis teknologi dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Dengan target kontribusi 15% terhadap PDB pada 2045, kebutuhan investasi yang besar, serta dorongan hilirisasi dan konservasi, ekonomi biru berpotensi menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
Kuncinya bukan hanya meningkatkan produksi laut, tetapi juga memastikan semakin banyak nilai tambah, investasi, lapangan kerja, dan manfaat ekonomi yang tinggal di Indonesia.

Muhammad Imam Hatami
Editor
