Menilik Prospek dan Kinerja BREN, Gencar Diburu Asing
- FINANCIALREVIEW.ID – PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah investor asing justru melakukan akumulasi saha

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kembali diborong investor asing di tengah derasnya aksi jual di Bursa Efek Indonesia (BEI). Fenomena ini memunculkan pertanyaan, mengapa saham energi terbarukan milik konglomerat Prajogo Pangestu tersebut masih menjadi incaran ketika dana asing keluar dari pasar domestik?
Di balik pergerakan tersebut, BREN memang memiliki kombinasi antara fundamental yang terus membaik, prospek ekspansi pembangkit panas bumi, hingga posisi strategis dalam transisi energi Indonesia. Namun, di sisi lain, valuasi saham yang sangat tinggi membuat emiten ini juga menyimpan risiko besar bagi investor.
Pada perdagangan Selasa, 14 Juli 2026, investor asing membukukan net buy saham BREN sebesar Rp48,65 miliar. Nilai tersebut menempatkan BREN sebagai saham dengan pembelian bersih asing terbesar ketiga, setelah TLKM yang mencatat net buy sekitar Rp63 miliar dan TPIA sekitar Rp62,5 miliar.
Aksi beli tersebut terjadi di tengah tekanan besar di pasar modal Indonesia. Secara keseluruhan, investor asing masih mencatatkan net sell Rp830,60 miliar di seluruh pasar serta Rp885,58 miliar di pasar reguler.
Kondisi ini menunjukkan adanya akumulasi selektif terhadap saham-saham tertentu yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang, termasuk BREN.
Pada perdagangan Rabu, 15 Juli 2026, saham BREN menguat sekitar 4,64%, menjadikannya salah satu kontributor utama penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Meski demikian, harga sahamnya masih berada jauh di bawah level tertinggi dalam 52 minggu yang pernah mencapai Rp10.725, sementara kisaran terendah berada di Rp2.300.
Baca juga : Saham TLKM Masih Murah? Asing Borong Saat Pasar Berdarah
Kinerja Keuangan 2025 Masih Bertumbuh
Laporan keuangan audit tahun buku 2025 menunjukkan BREN masih mampu mempertahankan pertumbuhan di tengah kondisi industri yang menantang.
Pendapatan perusahaan meningkat menjadi US$605 juta, naik sekitar 1,4% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$597 juta.
Meski kenaikan pendapatan relatif terbatas, laba bersih justru meningkat lebih cepat. Perseroan membukukan laba bersih US$165 juta, naik sekitar 6,5% secara tahunan, sementara laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 8,26% menjadi US$132,2 juta.
Salah satu kekuatan terbesar BREN terletak pada profitabilitasnya. Perusahaan mencatat EBITDA sebesar US$518 juta dengan margin EBITDA mencapai 85,6%, termasuk salah satu yang tertinggi di Bursa Efek Indonesia.
Peningkatan laba tersebut didukung oleh penurunan biaya keuangan sebesar 11,6% menjadi sekitar US$119 juta sebagai hasil optimalisasi struktur utang.
Dari sisi operasional, kapasitas pembangkit bruto meningkat menjadi 910 MW, didorong oleh penyelesaian proyek retrofit Salak serta kontribusi unit binary plant di area yang sama.
Sementara itu, total aset perusahaan mencapai US$3,86 miliar, sedangkan total liabilitas turun sekitar 2,3% menjadi US$2,98 miliar.
Memasuki 2026, pertumbuhan BREN menunjukkan akselerasi yang jauh lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang kuartal I 2026, pendapatan meningkat menjadi Rp2,78 triliun, tumbuh 11,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
EBITDA naik lebih tinggi lagi, yakni 17,9%, menjadi sekitar Rp1,97 triliun, sementara laba bersih melonjak 27,6% menjadi sekitar Rp724,6 miliar.
Margin EBITDA tetap terjaga di level sekitar 70,8%, sedangkan margin laba bersih mencapai sekitar 26%, mencerminkan efisiensi operasional yang tetap kuat.
Perbaikan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan mulai memasuki fase baru setelah berbagai proyek ekspansi mulai memberikan kontribusi terhadap pendapatan.
Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Naik Tipis, PRDL Masih Ngebut
Mengapa Margin BREN Sangat Tinggi?
Salah satu alasan utama investor tetap melirik BREN adalah karakteristik bisnis panas bumi.
Berbeda dengan pembangkit berbasis batu bara maupun gas yang bergantung pada fluktuasi harga bahan bakar, pembangkit listrik panas bumi memiliki biaya operasional yang relatif stabil setelah fasilitas selesai dibangun.
Karena itu, perusahaan mampu menghasilkan margin EBITDA yang jauh lebih tinggi dibandingkan banyak emiten energi lainnya. Selain itu, pendapatan BREN sebagian besar berasal dari kontrak penjualan listrik jangka panjang sehingga memberikan arus kas yang relatif stabil.
Meski fundamental terus membaik, valuasi saham BREN masih menjadi sumber perdebatan di kalangan investor. Berdasarkan data korporasi di kuartal I 2026, saham BREN diperdagangkan pada:
- PER sekitar 616 kali
- PBV sekitar 28 kali
- EV/EBITDA sekitar 251 kali
- Nilai buku per saham sekitar Rp118,94
- Kapitalisasi pasar sekitar Rp447 triliun
Angka tersebut menjadikan BREN sebagai salah satu saham dengan valuasi paling mahal di Bursa Efek Indonesia. Valuasi setinggi itu menunjukkan bahwa pasar telah memasukkan ekspektasi pertumbuhan perusahaan untuk beberapa tahun ke depan ke dalam harga saham saat ini.
Apabila ekspansi berjalan sesuai rencana dan laba terus meningkat, valuasi tersebut berpotensi menjadi lebih rasional seiring pertumbuhan laba. Sebaliknya, apabila kinerja meleset dari ekspektasi, risiko koreksi harga juga menjadi lebih besar.
Dividen Tetap Dibagikan, Yield Rendah, Utang Disorot
BREN juga tetap membagikan dividen untuk tahun buku 2025. Perseroan menetapkan total dividen sekitar US$30,5 juta, setara dengan 23% laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Sebagian besar laba atau sekitar 76% tetap ditahan untuk mendukung pendanaan ekspansi proyek-proyek energi terbarukan.
Jadwal pembagian dividen meliputi:
- Cum dividen: 2 Juli 2026
- Ex dividen: 3 Juli 2026
- Pembayaran dividen: 24 Juli 2026
Karena sebagian besar laba digunakan untuk investasi, dividend yield BREN relatif rendah dibandingkan emiten utilitas lainnya.
Dari sisi neraca, BREN masih memiliki tingkat leverage yang cukup tinggi. Pada kuartal I 2026, perusahaan memiliki,
- Kas sekitar Rp2,87 triliun
- Total aset sekitar Rp66,98 triliun
- Utang jangka pendek sekitar Rp6,17 triliun
- Utang jangka panjang sekitar Rp44,90 triliun
- Ekuitas sekitar Rp15,91 triliun
Dengan posisi tersebut, rasio Debt to Equity Ratio (DER) mencapai sekitar 3,21 kali.
Meskipun perusahaan berhasil menekan biaya bunga melalui restrukturisasi pendanaan, tingginya DER tetap menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati, terutama apabila suku bunga global kembali meningkat atau nilai tukar rupiah melemah.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: ANTM dan BBRI Naik, AKRA Turun
Target Kapasitas 1 GW Menjadi Katalis Terbesar
Prospek utama BREN dalam jangka pendek berasal dari ekspansi kapasitas pembangkit panas bumi. Pada awal Maret 2026, kapasitas panas bumi perusahaan telah mencapai sekitar 926 MW. Beberapa proyek utama yang sedang berjalan meliputi,
- Salak Unit 7 berkapasitas 40 MW
- Wayang Windu Unit 3 berkapasitas 30 MW
- Darajat Unit 3 berkapasitas 7 MW
Seluruh proyek tersebut ditargetkan selesai pada akhir 2026. Apabila target tercapai, kapasitas panas bumi BREN diperkirakan menembus 1 GW, ditambah sekitar 79 MW pembangkit tenaga bayu.
Sebelumnya, proyek retrofit Wayang Windu Unit 1 dan 2 bahkan berhasil diselesaikan rata-rata sekitar 20 hari lebih cepat dari jadwal, memperlihatkan kemampuan eksekusi proyek yang cukup baik.
Dalam jangka panjang, BREN menargetkan kapasitas panas bumi mencapai sekitar 1,9 GW pada 2032, dengan total kapasitas energi terbarukan sekitar 2,8 GW.
Artinya, kapasitas perusahaan berpotensi meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan posisi saat ini.
Prospek tersebut didukung oleh arah kebijakan pemerintah yang terus mendorong pengembangan energi baru terbarukan sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih.
Sebagai sumber listrik baseload, panas bumi memiliki posisi strategis karena mampu menghasilkan listrik secara stabil selama 24 jam.
Risiko yang Tetap Perlu Diperhatikan Investor
Meski prospeknya menarik, investasi di BREN tidak lepas dari berbagai risiko.
- Risiko pertama adalah valuasi yang sangat tinggi. Dengan PER sekitar 616 kali dan PBV sekitar 28 kali, ruang koreksi harga dapat terbuka apabila pertumbuhan laba tidak memenuhi ekspektasi pasar.
- Kedua, seluruh proyek ekspansi menuju target 1 GW masih harus diselesaikan tepat waktu. Keterlambatan proyek panas bumi merupakan risiko yang lazim terjadi karena kompleksitas pembangunan.
- Ketiga, tingkat utang yang masih tinggi membuat perusahaan sensitif terhadap perubahan suku bunga maupun pelemahan nilai tukar.
- Keempat, cakupan riset analis terhadap BREN masih relatif terbatas sehingga informasi yang tersedia bagi investor ritel tidak sebanyak emiten berkapitalisasi besar lainnya.
- Kelima, volatilitas harga saham BREN masih sangat tinggi. Dalam 52 minggu terakhir, harga pernah bergerak dari sekitar Rp2.300 hingga Rp10.725, mencerminkan fluktuasi yang signifikan.
- Terakhir, terdapat risiko perubahan komposisi indeks global. Apabila BREN keluar dari indeks MSCI pada proses peninjauan berkala, saham ini berpotensi mengalami tekanan akibat keluarnya dana pasif.
Masuknya dana asing ke saham BREN di tengah derasnya arus keluar modal dari pasar saham Indonesia menunjukkan bahwa sebagian investor institusi masih melihat prospek jangka panjang perusahaan secara positif.
Pandangan tersebut didukung oleh percepatan pertumbuhan laba pada kuartal I 2026, margin operasional yang sangat tinggi, target ekspansi kapasitas pembangkit hingga 1 GW pada akhir 2026, serta strategi pengembangan energi terbarukan hingga 2032.
Namun, valuasi yang sangat premium, tingkat utang yang masih tinggi, serta risiko keterlambatan proyek membuat saham ini lebih sesuai bagi investor dengan toleransi risiko tinggi. Bagi investor yang lebih konservatif, pendekatan menunggu valuasi yang lebih menarik atau kepastian realisasi proyek ekspansi dapat menjadi pilihan yang lebih bijak.

Chrisna Chanis Cara
Editor
