Menilik Kerugian Investor Akibat Saham Gorengan
- Seberapa besar risiko saham gorengan bagi investor ritel? Simak data sanksi OJK, pola manipulasi pasar, ciri saham berisiko, dan cara menghindarinya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham gorengan masih menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai investor ritel di pasar modal Indonesia. Pergerakan harga yang melonjak tajam dalam waktu singkat dapat menarik investor melalui fenomena fear of missing out (FOMO), tetapi pada saat yang sama juga meningkatkan risiko kerugian ketika harga berbalik turun.
Fenomena tersebut menjadi semakin relevan seiring bertambahnya jumlah investor di pasar modal Indonesia. Hingga akhir Januari 2026, jumlah Single Investor Identification (SID) telah mencapai sekitar 21,03 juta, dengan hampir 9 juta di antaranya merupakan investor saham ritel.
Sepanjang 2025, jumlah investor baru juga bertambah sekitar 5,34 juta. Sekitar 54% investor baru tersebut berusia di bawah 30 tahun.
Pertumbuhan investor ritel menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat di pasar modal. Namun, bertambahnya jumlah investor baru juga membuat kebutuhan terhadap literasi investasi menjadi semakin penting.
Salah satu risikonya adalah terjebak pada saham yang mengalami kenaikan harga secara tidak wajar atau saham yang kerap disebut sebagai saham gorengan.
Baca juga : Mengembalikan Pendidikan: Saat Mamdani Tarik Tuas Rem Pemakaian AI
Seberapa Besar Kerugian Investor Akibat Saham Gorengan?
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan sepanjang 2022 hingga Januari 2026, regulator menjatuhkan denda administratif sekitar Rp542,49 miliar kepada 3.418 pihak dalam berbagai kasus di sektor pasar modal.
Khusus kasus yang berkaitan dengan manipulasi pasar, denda yang dikenakan mencapai sekitar Rp240,65 miliar dan melibatkan 151 pihak.
Dalam periode yang sama, terdapat puluhan perkara pidana terkait pelanggaran di pasar modal, termasuk kasus manipulasi pasar.
Namun, angka Rp240,65 miliar tersebut tidak dapat disebut sebagai total kerugian investor. Angka tersebut merupakan nilai sanksi administratif yang dikenakan regulator, sedangkan kerugian investor harus dihitung berdasarkan transaksi, perubahan harga, jumlah saham yang dimiliki, serta posisi masing-masing investor.
Dengan kata lain, dampak saham gorengan terhadap investor jauh lebih kompleks daripada sekadar melihat nilai denda yang dijatuhkan regulator.
Kerugian biasanya terjadi ketika investor membeli saham setelah harga mengalami kenaikan tajam.
Dalam skenario sederhana, harga sebuah saham awalnya berada di level Rp100. Setelah digerakkan oleh transaksi dan sentimen tertentu, harganya naik menjadi Rp200, Rp300 atau bahkan lebih tinggi.
Kenaikan tersebut kemudian menarik investor lain yang melihat saham tersebut terus naik. Ketika semakin banyak investor ritel masuk, pemegang saham yang membeli lebih awal dapat menjual kepemilikannya. Jika tekanan jual semakin besar sementara pembeli mulai menghilang, harga saham dapat jatuh dengan cepat.
Investor yang masuk mendekati harga puncak akhirnya menanggung kerugian terbesar. Karena itu, kenaikan harga yang sangat cepat tidak selalu menunjukkan bahwa fundamental perusahaan membaik.
Baca juga : Kenapa BUMN Indonesia Hobi Beranak-pinak?
Mengenal Saham Gorengan
Istilah saham gorengan bukan istilah resmi dalam regulasi pasar modal. Istilah tersebut umumnya digunakan untuk menggambarkan saham yang mengalami pergerakan harga dan volume perdagangan secara tidak wajar, sering kali dikaitkan dengan spekulasi atau dugaan manipulasi pasar.
Manipulasi pasar sendiri merupakan tindakan yang dilarang dalam pasar modal. Salah satu pola yang sering dikaitkan dengan praktik tersebut adalah pump and dump.
Dalam pola tersebut, harga saham didorong naik sehingga menciptakan persepsi bahwa saham sedang diminati pasar. Ketika investor lain mulai masuk karena FOMO, pihak yang telah memiliki saham dapat menjual kepemilikannya.
Jika aksi jual berlangsung besar-besaran, harga kemudian dapat mengalami penurunan tajam.
Beberapa Pola yang Perlu Diwaspadai
1. Pump and dump, harga saham didorong naik secara agresif untuk menarik perhatian investor. Setelah harga berada pada level tinggi, terjadi aksi jual besar-besaran.
2. Wash sale, transaksi dilakukan sedemikian rupa sehingga menciptakan kesan adanya aktivitas perdagangan yang ramai, padahal transaksi tersebut tidak mencerminkan minat pasar yang sebenarnya.
3. Painting the tape, aktivitas transaksi tertentu digunakan untuk membentuk gambaran harga atau volume perdagangan yang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap saham.
4. Rumor dan FOMO, saham tiba-tiba ramai dibicarakan di media sosial, grup percakapan atau forum investor tanpa diikuti informasi material yang jelas dari perusahaan. Investor kemudian membeli bukan karena memahami bisnis perusahaan, tetapi karena takut ketinggalan kenaikan harga.
Apa Ciri-Ciri Saham Gorengan?
Tidak ada satu indikator yang secara otomatis dapat menyatakan sebuah saham sebagai saham gorengan. Namun, investor dapat memperhatikan sejumlah red flag,
- Penggerak harga
- Saham yang perlu diwaspadai: lebih banyak digerakkan rumor dan sentimen jangka pendek.
- Saham dengan fundamental lebih terukur: pergerakan harga lebih berkaitan dengan kinerja bisnis dan prospek perusahaan.
- Volatilitas
- Saham yang perlu diwaspadai: pergerakan harga sangat tinggi dan ekstrem.
- Saham dengan fundamental lebih terukur: pergerakan harga cenderung lebih mencerminkan perkembangan bisnis.
- Likuiditas
- Saham yang perlu diwaspadai: likuiditas dapat tipis dan tidak konsisten.
- Saham dengan fundamental lebih terukur: relatif lebih likuid sehingga transaksi jual dan beli lebih mudah dilakukan.
- Informasi
- Saham yang perlu diwaspadai: ramai dibicarakan di media sosial tetapi minim informasi resmi dari perusahaan.
- Saham dengan fundamental lebih terukur: didukung laporan keuangan dan keterbukaan informasi yang dapat dianalisis investor.
- Valuasi
- Saham yang perlu diwaspadai: valuasinya sulit dijelaskan berdasarkan kinerja perusahaan.
- Saham dengan fundamental lebih terukur: valuasi dapat dibandingkan dengan kinerja historis dan perusahaan lain dalam sektor yang sama.
- Laporan keuangan
- Saham yang perlu diwaspadai: investor perlu mencermati adanya anomali dalam laporan keuangan.
- Saham dengan fundamental lebih terukur: kinerja perusahaan relatif lebih mudah dianalisis melalui pendapatan, laba, arus kas, aset dan utang.
- Profil investor
- Saham yang perlu diwaspadai: lebih banyak didorong sentimen dan aktivitas spekulatif.
- Saham dengan fundamental lebih terukur: keputusan investasi lebih banyak didasarkan pada analisis kinerja dan prospek perusahaan
Yang perlu dipahami, saham berkapitalisasi kecil bukan berarti otomatis saham gorengan. Demikian pula, saham berkapitalisasi besar tidak otomatis bebas dari risiko. Investor harus melihat keseluruhan kondisi perusahaan dan pola perdagangan.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: AADI dan HRTA Meroket, ESSA Anjlok
Membedakan Saham Gorengan dan Saham Fundamental?
Investor dapat menggunakan pendekatan sederhana dengan memeriksa beberapa aspek berikut.
1. Lihat Laporan Keuangan
Jangan hanya melihat grafik harga, periksa pendapatan, laba bersih, arus kas, utang dan perkembangan aset perusahaan setidaknya dalam beberapa tahun terakhir. Jika harga saham meningkat berkali-kali lipat sementara kinerja bisnis tidak menunjukkan perubahan yang sebanding, investor perlu lebih berhati-hati.
2. Periksa Keterbukaan Informasi
Informasi penting mengenai emiten seharusnya dapat ditelusuri melalui keterbukaan informasi resmi. Jika sebuah saham naik drastis hanya karena rumor di media sosial, sementara perusahaan tidak memberikan informasi yang mendukung rumor tersebut, investor sebaiknya tidak langsung mengambil keputusan.
3. Cek Struktur Pemegang Saham
Struktur kepemilikan juga penting diperhatikan. Investor dapat melihat siapa pemegang saham utama dan bagaimana perubahan kepemilikan terjadi dari waktu ke waktu. Kepemilikan yang terkonsentrasi bukan otomatis berarti manipulasi, tetapi dapat menjadi salah satu faktor risiko yang perlu dipahami.
4. Bandingkan Valuasi
Investor dapat menggunakan indikator seperti Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) sebagai salah satu alat analisis. Namun, rasio tersebut tidak boleh digunakan sendirian.
PER yang tinggi, misalnya, tidak selalu berarti saham mahal. Investor juga perlu mempertimbangkan pertumbuhan laba, prospek industri dan karakter bisnis perusahaan.
5. Jangan Membeli Hanya Karena Viral
Ini menjadi salah satu prinsip paling penting. Jika alasan utama membeli saham adalah karena seseorang di media sosial mengatakan harga akan naik, investor sebenarnya sedang mengambil keputusan berdasarkan sentimen, bukan analisis perusahaan.
Rumor dapat menjadi bahan awal untuk mencari informasi, tetapi bukan pengganti analisis fundamental.

Muhammad Imam Hatami
Editor
