Tren Ekbis

Masih Timpang, 97 Persen Dividen Disumbang Segelintir BUMN

  • Dana yang disetorkan BUMN berasal dari tiga sumber utama, yaitu dividen, pajak, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
dividen-jpeg-12cc6abd-7367-4c5f-869a-d669a86d474a.jpeg
Ilustrasi dividen. (MSM Consulting)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Kontribusi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terhadap penerimaan negara pada 2025 tercatat sangat besar. Dana yang disetorkan berasal dari tiga sumber utama, yaitu dividen, pajak, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), yang secara keseluruhan mencapai ratusan triliun rupiah.

Namun, terdapat perubahan signifikan dalam skema pengelolaan dana tersebut. Sejak pembentukan Danantara, dividen BUMN tidak lagi sepenuhnya masuk ke APBN, melainkan dialihkan sebagai sumber investasi jangka panjang melalui lembaga tersebut.

Didominasi Dividen dan Pajak

  • Dividen ke Danantara ditargetkan Rp170 triliun
  • Hanya Rp11,9 triliun yang masuk langsung ke APBN
  • Total kontribusi Pertamina mencapai Rp225–300 triliun per tahun
  • Total PNBP nasional mencapai Rp444,9 triliun (hingga November 2025)

Secara keseluruhan, BUMN menjadi salah satu tulang punggung penerimaan negara. Dividen menjadi komponen penting, meski kini sebagian besar dialihkan untuk dikelola sebagai investasi oleh Danantara.

Selain itu, kontribusi pajak dari BUMN juga sangat besar, terutama dari sektor energi dan perbankan. Hal ini membuat peran BUMN tidak hanya sebagai entitas bisnis, tetapi juga sebagai penyokong fiskal negara.

97% Dividen Disumbang Segelintir BUMN

  • Hanya 8 perusahaan menyumbang 97% dividen
  • Mayoritas berasal dari sektor perbankan dan energi
  • Lebih dari 1.000 entitas BUMN terdaftar secara keseluruhan

Meski jumlah BUMN sangat banyak, kontribusi terbesar justru berasal dari segelintir perusahaan besar. Konsentrasi ini menunjukkan adanya ketimpangan kinerja antar entitas BUMN.

Fenomena ini menjadi perhatian karena ketergantungan pada beberapa perusahaan saja berisiko terhadap stabilitas penerimaan negara jika terjadi penurunan kinerja di sektor tertentu.

Bank BUMN Penyumbang Dividen Terbesar

  • Bank Rakyat Indonesia menyetor Rp27,51 triliun
  • Bank Mandiri Rp22,63 triliun
  • Bank Negara Indonesia Rp8,37 triliun
  • Bank Tabungan Negara Rp451 miliar

Sektor jasa keuangan, khususnya perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), menjadi kontributor dividen terbesar bagi negara.

Kinerja solid sektor ini didorong oleh pertumbuhan kredit, laba bersih yang stabil, serta efisiensi operasional. Hal ini menjadikan bank BUMN sebagai “mesin uang” utama dalam struktur penerimaan negara.

Sektor Energi dan Tambang Sumbang PNBP Terbesar

  • Pertamina jadi kontributor terbesar secara total, dividen Pertamina mencapai Rp42,1 triliun
  • MIND ID menyetor Rp20,1 triliun, didukung anak usaha seperti Antam dan Bukit Asam

Selain perbankan, sektor energi dan tambang menjadi penyumbang utama melalui kombinasi dividen, pajak, dan royalti. Kontribusi ini sangat bergantung pada harga komoditas global.

Kinerja sektor ini juga memiliki dampak langsung terhadap PNBP, menjadikannya salah satu sumber penerimaan negara yang paling strategis.

Telekomunikasi dan Infrastruktur

  • Telkom Indonesia menyetor Rp10,96 triliun
  • PLN Rp3,35 triliun
  • Pelindo Rp1,7 triliun
  • Jasa Marga Rp791 miliar

Sektor telekomunikasi dan infrastruktur juga memberikan kontribusi signifikan, meski tidak sebesar sektor perbankan dan energi. Perusahaan-perusahaan ini tetap menjadi bagian penting dalam ekosistem BUMN.

Kontribusi tersebut mencerminkan peran BUMN dalam pembangunan nasional, khususnya dalam penyediaan layanan publik dan infrastruktur strategis.

Ketimpangan Kinerja Jadi PR Besar

  • Lebih dari 52% entitas BUMN masih merugi
  • Total kerugian mencapai Rp50 triliun per tahun
  • Ketergantungan tinggi pada segelintir perusahaan besar

Di balik kontribusi besar tersebut, terdapat tantangan serius berupa ketimpangan kinerja antar BUMN. Sebagian besar entitas, terutama anak dan cucu usaha, masih mencatatkan kerugian.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk melakukan restrukturisasi dan meningkatkan efisiensi. Tanpa perbaikan, BUMN yang merugi berpotensi menjadi beban fiskal di masa depan.

Secara keseluruhan, peran BUMN dalam menopang keuangan negara sangat vital. Namun, perubahan skema pengelolaan dividen dan ketimpangan kontribusi menunjukkan perlunya reformasi menyeluruh.

Ke depan, optimalisasi kinerja seluruh entitas BUMN menjadi kunci agar kontribusi tidak hanya besar, tetapi juga berkelanjutan dan merata.