Tren Ekbis

Krisis BBM Momentum Pindah ke Mobil Listrik? Simak Tantangannya

  • Perubahan dari kendaran berbasis BBM ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) mulai dipandang sebagai alternatif strategis untuk mengurangi kerentanan energi nasional.
nilsbogdanovs--IcuB09ioJ0-unsplash.jpg
Kia Mobil Listrik (unsplash)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Isu ketahanan energi kembali menjadi sorotan di Indonesia setelah muncul laporan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah daerah dalam beberapa pekan terakhir. 

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan fluktuasi harga minyak dunia, banyak pihak mulai mempertanyakan ketergantungan besar Indonesia terhadap BBM berbasis fosil. 

Dalam situasi ini, perubahan dari kendaran berbasis BBM ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) mulai dipandang sebagai alternatif strategis untuk mengurangi kerentanan energi nasional.

Kerentanan Pasokan Energi Nasional

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memberikan tekanan terhadap pasar energi global. Sebagai negara yang masih sangat bergantung pada impor minyak, Indonesia ikut merasakan dampaknya.

Beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Riau dilaporkan mengalami gangguan pasokan BBM. Kondisi ini menyoroti persoalan mendasar dalam sistem energi nasional, yakni keterbatasan cadangan BBM.

Data kementerian ESDM menunjukkan bahwa ketahanan stok BBM Indonesia hanya berkisar 20–26 hari. Rinciannya antara lain solar cukup untuk sekitar 18 har, pertalite cukup untuk (RON 90) sekitar 19 hari dan pertamax (RON 92) cukup untuk sekitar 26 hari

Angka tersebut masih jauh dari standar ketahanan energi yang direkomendasikan oleh International Energy Agency (IEA), yaitu setara 90 hari impor minyak.

Sebagai perbandingan, negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan bahkan memiliki cadangan energi hingga sekitar 200 hari. Perbedaan ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam membangun sistem ketahanan energi yang kuat.

Baca juga : Daftar Negara yang Sudah Cabut Insentif Pajak Mobil Listrik

Kerentanan tersebut semakin terasa karena Indonesia masih harus mengimpor hampir dua pertiga kebutuhan minyak nasional. Sekitar 20 persen impor minyak mentah berasal dari kawasan Timur Tengah, wilayah yang kerap dilanda konflik dan ketidakstabilan geopolitik.

Efisiensi Biaya Kendaraan Listrik

Di tengah ketidakpastian harga BBM, kendaraan listrik mulai menarik perhatian karena efisiensi biaya operasionalnya. Sejumlah studi menunjukkan bahwa biaya penggunaan EV jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin.

Dikutip laman Vinfast, Rabu, 11 Maret 2026 ntuk kendaraan roda empat, perbandingan biaya tahunan menunjukkan selisih yang cukup besar. Sementara itu, mobil konvensional umumnya menghabiskan Rp12 juta hingga Rp18 juta per tahun untuk BBM. Sebaliknya, mobil listrik hanya membutuhkan sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per tahun untuk listrik.

Artinya, pemilik mobil listrik dapat menghemat sekitar Rp9 juta hingga Rp15 juta setiap tahun hanya dari sisi energi. Penghematan juga datang dari sisi pajak kendaraan. Banyak daerah di Indonesia memberikan pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) untuk EV, sementara kendaraan konvensional masih dikenakan pajak sekitar 1,5 hingga 2,5 persen dari nilai kendaraan.

Selain itu, biaya perawatan kendaraan listrik juga cenderung lebih rendah karena tidak membutuhkan servis rutin seperti penggantian oli mesin, filter bahan bakar, atau komponen pembakaran lainnya.

Jika digabungkan, total penghematan biaya kepemilikan kendaraan listrik dapat mencapai sekitar Rp25 juta per tahun dibandingkan mobil bensin di kelas yang sama.

Efisiensi yang sama juga terlihat pada kendaraan roda dua. Untuk perjalanan sekitar 60 hingga 100 kilometer, motor listrik hanya membutuhkan biaya listrik sekitar Rp3.000. Sementara motor bensin dapat menghabiskan Rp20.000 hingga Rp30.000 untuk bahan bakar pada jarak yang sama.

Dengan demikian, penggunaan motor listrik dapat menghemat hingga 80% biaya energi harian dibandingkan motor konvensional.

Baca juga : Insentif Dicabut, Ini Proyeksi Harga Mobil Listrik 2026

Pemerintah Indonesia terus mendorong adopsi kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional. Melalui berbagai kebijakan, pemerintah memberikan sejumlah insentif finansial bagi pemilik kendaraan listrik. Salah satu yang paling signifikan adalah pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang di banyak daerah ditetapkan 0 persen.

Selain itu, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) untuk kendaraan listrik juga ditetapkan sangat rendah atau bahkan dibebaskan di beberapa wilayah. Kebijakan ini dapat mengurangi biaya awal pembelian kendaraan hingga puluhan juta rupiah.

Meski beberapa insentif pembelian seperti diskon PPN untuk mobil listrik rakitan lokal telah berakhir pada akhir 2025, insentif kepemilikan jangka panjang tetap membuat kendaraan listrik menarik secara ekonomi.

Pertumbuhan dan Tantangan Pasar EV di Indonesia

Dukungan kebijakan pemerintah dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap efisiensi energi mulai mendorong pertumbuhan pasar kendaraan listrik.

Penjualan mobil listrik di Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan. Sepanjang tahun 2025, total penjualan mencapai sekitar 103.931 unit, meningkat sekitar 141 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada awal 2026, penjualan EV bahkan dilaporkan meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Produsen otomotif baru juga mulai meramaikan pasar. Salah satunya adalah BYD, produsen kendaraan listrik asal China, yang kini mulai menempati posisi penting dalam pasar otomotif nasional.

Meski pertumbuhannya pesat, adopsi kendaraan listrik di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kenaikan biaya baterai akibat kebijakan tarif impor komponen baterai sekitar 20 persen untuk produk dari luar kawasan ASEAN yang diberlakukan sejak pertengahan 2025.

Kenaikan biaya ini sempat memperlambat adopsi kendaraan listrik, khususnya di sektor kendaraan niaga ringan. Selain itu, para analis juga menyoroti pentingnya konsistensi kebijakan pemerintah agar momentum pertumbuhan EV tidak terhenti. Tanpa dukungan regulasi yang stabil, investasi industri kendaraan listrik berpotensi melambat.

Situasi kelangkaan BBM dan fluktuasi harga minyak global kembali mengingatkan pentingnya diversifikasi sumber energi. Kendaraan listrik tidak hanya menawarkan efisiensi biaya bagi pengguna, tetapi juga berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak.

Bagi masyarakat, beralih ke kendaraan listrik dapat menjadi langkah kecil menuju kemandirian energi pribadi. Sementara bagi negara, percepatan adopsi EV dapat membantu memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu.