Tren Ekbis

Kenapa Indonesia Rawan Gempa? Bisakah Gempa Diprediksi dan Dicegah?

  • Indonesia memiliki ratusan sesar aktif dan sejumlah zona megathrust. Kenali penyebab gempa, fakta soal tanda gempa dan cara menghadapi guncangan.
freepik__upload__25719 (1).png
Ilustrasi gempa. (Freepik)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), mengingatkan jika Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerawanan gempa bumi tinggi. Kondisi tersebut bukan terjadi secara kebetulan, melainkan berkaitan dengan posisi Indonesia yang berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif.

Secara geologi, wilayah Indonesia dipengaruhi interaksi Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik dan Lempeng Laut Filipina. Pergerakan lempeng tersebut menciptakan zona subduksi, sesar aktif dan berbagai sumber gempa di darat maupun laut. Badan Geologi mencatat sumber gempa di Indonesia antara lain berasal dari zona megathrust, intraslab, outer rise dan sesar aktif.

Data BMKG menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 295 sesar aktif dan lebih dari 16 segmen megathrust. Aktivitas tektonik tersebut membuat Indonesia mengalami sekitar 5.000-6.000 gempa bumi setiap tahun dengan berbagai magnitudo dan kedalaman

Kenapa Indonesia Rawan Gempa?

Sederhananya, lempeng bumi terus bergerak. Ketika dua lempeng bertemu dan salah satunya menunjam ke bawah lempeng lain, tekanan dan energi dapat terakumulasi. Ketika batuan tidak lagi mampu menahan tekanan tersebut, energi dilepaskan dalam bentuk gelombang seismik yang kemudian dirasakan sebagai gempa.

Salah satu contoh penting adalah zona subduksi di selatan Jawa. BMKG mencatat proses penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah wilayah Eurasia berlangsung dengan kecepatan sekitar 60-70 milimeter per tahun. Pergerakan tersebut menjadi salah satu sumber potensi gempa besar di wilayah selatan Jawa.

Indonesia juga berada di kawasan Cincin Api Pasifik, sehingga selain gempa tektonik, aktivitas gunung api juga dapat menghasilkan gempa vulkanik. Karena itu, risiko kegempaan Indonesia berasal dari kombinasi kondisi tektonik dan vulkanik.

Baca juga : Seberapa Besar Potensi Kerugian Ekonomi Akibat Kebakaran Hutan Kalimantan?

Apakah Gempa Bisa Diprediksi dan Dicegah?

Jawabannya belum bisa, hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi gempa secara tepat dengan menjawab tiga pertanyaan sekaligus: kapan terjadi, di mana lokasinya dan berapa magnitudonya.

BMKG secara tegas membedakan antara potensi gempa dan prediksi gempa. Misalnya, suatu zona megathrust dapat diketahui memiliki potensi menghasilkan gempa besar berdasarkan kajian geologi dan sejarah kegempaan. Namun, informasi tersebut tidak berarti gempa akan terjadi pada tanggal atau waktu tertentu.

Hal serupa juga ditegaskan US Geological Survey (USGS). Secara ilmiah belum tersedia metode yang dapat memprediksi kejadian gempa tertentu secara akurat. Para ilmuwan dapat menghitung probabilitas atau tingkat kejadian gempa dalam jangka panjang, tetapi bukan menentukan bahwa gempa akan terjadi, misalnya, besok pukul 10.00 dengan magnitudo tertentu.

Karena itu, informasi mengenai potensi megathrust tidak seharusnya dibaca sebagai ramalan bahwa gempa besar akan segera terjadi.

Selain itu gempa bumi juga tidak dapat dicegah. Hingga hari ini manusia tidak memiliki teknologi untuk menghentikan pergerakan lempeng atau melepaskan energi tektonik secara aman sebelum menjadi gempa.

Baca juga : Svarna Bhumi Award, Upaya Pupuk Indonesia Dorong Inovasi Pertanian

Yang dapat dilakukan adalah mengurangi dampaknya, inilah yang disebut mitigasi gempa. Mitigasi dilakukan melalui pembangunan bangunan tahan gempa, penerapan standar konstruksi, pemetaan zona rawan, penataan ruang, sistem peringatan dini, edukasi masyarakat dan simulasi evakuasi.

Dengan kata lain, manusia memang belum bisa menghentikan gempa, tetapi korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat gempa dapat ditekan.

Masyarakat terkadang mengaitkan gempa dengan perubahan perilaku hewan, munculnya awan tertentu, air sumur berubah, suhu meningkat atau fenomena alam lainnya. Namun, hingga saat ini belum ada tanda tersebut yang terbukti secara konsisten dan dapat digunakan untuk memprediksi gempa.

Menurut lembaga U.S. Geological Survey, lembaga resmi badan geologi Amerika Serikat, menyebut perubahan perilaku hewan memang pernah dilaporkan sebelum beberapa gempa, tetapi belum ditemukan hubungan yang dapat direproduksi secara ilmiah antara perilaku tertentu dan terjadinya gempa.

Artinya, masyarakat tidak boleh menjadikan hewan, bentuk awan atau perubahan air sebagai sistem peringatan gempa. Yang justru perlu dipahami adalah peringatan dini berbeda dengan prediksi.

Indonesia Sudah Mengembangkan Peringatan Dini Gempa

Indonesia kini mengembangkan Indonesia Earthquake Early Warning System (InaEEWS). Sistem ini bukan meramal gempa sebelum terjadi, melainkan mendeteksi gempa yang sudah mulai terjadi, kemudian mengirimkan peringatan secepat mungkin sebelum gelombang guncangan yang lebih merusak tiba di lokasi tertentu.

Menurut BMKG, sistem InaEEWS dapat mendeteksi awal gelombang P sekitar 1 detik. Rata-rata pemrosesan parameter awal gempa berdasarkan data 2022-2026 sekitar 2,78 detik, sedangkan penyebaran peringatan melalui aplikasi dapat berlangsung sekitar 5-6 detik setelah parameter tertentu terbentuk.

Beberapa detik tersebut memang terdengar singkat, tetapi dapat menjadi sangat berharga untuk tindakan otomatis maupun respons manusia, seperti menghentikan operasi tertentu, memperingatkan masyarakat dan melakukan perlindungan diri.

Karena gempa tidak bisa diprediksi maupun dicegah, strategi paling rasional adalah bersiap sebelum gempa terjadi. BMKG merekomendasikan masyarakat mengenali kondisi bangunan tempat tinggal dan bekerja, memastikan struktur bangunan aman, mengetahui jalur evakuasi, mengenali lokasi tangga darurat, mempelajari pertolongan pertama serta menyiapkan kebutuhan darurat.

Baca juga : Ekonomi Berputar di Balik Hajatan 17-an Warga RW 10 Sawahan

Jika berada di dalam bangunan ketika gempa terjadi, prinsip utamanya adalah melindungi kepala dan tubuh, menjauh dari benda yang dapat jatuh, serta tidak menggunakan lift. Setelah guncangan berhenti, masyarakat perlu keluar secara tertib dan mengikuti informasi resmi.

Jika berada di wilayah pesisir dan gempa terasa kuat atau berlangsung lama, kewaspadaan terhadap tsunami menjadi sangat penting. Masyarakat perlu segera menuju tempat yang lebih tinggi atau mengikuti jalur evakuasi tanpa menunggu informasi yang tidak jelas sumbernya.

Indonesia tidak bisa mengubah posisi geologisnya. Lempeng akan terus bergerak dan gempa akan tetap menjadi bagian dari dinamika bumi. Namun, melalui bangunan yang lebih aman, sistem peringatan dini, tata ruang yang tepat dan masyarakat yang terlatih, risiko korban dan kerugian akibat gempa dapat dikurangi secara signifikan.