Kenapa Daging Ayam Amat Populer di Indonesia?
- Mengapa ayam begitu populer di Indonesia? Simak faktor harga, produksi, budaya, agama, serta data konsumsi ayam Indonesia dibandingkan negara ASEAN.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Ayam menjadi salah satu sumber protein hewani yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir setiap daerah memiliki olahan ayam, mulai dari ayam goreng, ayam bakar, opor, soto, ayam penyet hingga berbagai makanan cepat saji.
Popularitas ayam di Indonesia tidak muncul begitu saja. Ada sejumlah faktor yang membuat konsumsi daging ayam terus berkembang, mulai dari harga yang relatif terjangkau, pasokan yang melimpah, kesesuaian dengan preferensi masyarakat Muslim, hingga kuatnya posisi ayam dalam budaya kuliner Nusantara.
Di sisi lain, meskipun masyarakat Indonesia dikenal gemar makan ayam, konsumsi daging unggas per kapita Indonesia ternyata masih lebih rendah dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara, terutama Malaysia.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian yang diolah dari Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi daging ayam ras Indonesia mencapai 7,46 kilogram per kapita per tahun pada 2023. Angka tersebut sedikit turun menjadi 7,27 kilogram per kapita pada 2024.
Baca juga : Bill Gates, AI dan Masa Depan Pekerjaan
Lantas, mengapa ayam begitu populer di Indonesia dan bagaimana posisi konsumsi ayam Indonesia dibandingkan negara lain?
Harga Ayam Relatif Terjangkau
Faktor ekonomi menjadi salah satu alasan utama masyarakat Indonesia memilih ayam sebagai sumber protein. Daging ayam ras atau broiler umumnya memiliki harga yang lebih murah dibandingkan daging sapi.
Pada Januari 2026, harga ayam broiler berada di kisaran Rp40.000-an per kilogram, sedangkan harga daging sapi dapat mencapai sekitar Rp140.000 per kilogram. Perbedaan harga tersebut membuat ayam lebih mudah dijangkau oleh masyarakat dari berbagai kelompok pendapatan.
Ayam juga dapat dibeli dalam berbagai bentuk dan jumlah. Konsumen dapat membeli ayam utuh, potongan tertentu seperti dada dan paha, maupun produk olahan.
Kondisi tersebut membuat ayam fleksibel untuk kebutuhan rumah tangga. Masyarakat dapat menyesuaikan pembelian dengan jumlah anggota keluarga dan kemampuan ekonomi.
Selain itu, ayam dapat menjadi bahan makanan untuk berbagai jenis masakan sehingga satu bahan baku dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari maupun acara khusus.
Harga dan konsumsi ayam juga didukung oleh besarnya produksi dalam negeri. Produksi daging ayam broiler Indonesia mencapai sekitar 4 juta ton pada 2023. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan produksi daging sapi dan kerbau yang berada di kisaran 437.000 ton pada tahun yang sama.
Besarnya produksi membuat ayam relatif mudah ditemukan di berbagai wilayah. Produk ayam tersedia mulai dari pasar tradisional, pedagang keliling, supermarket, restoran, warung makan hingga layanan pesan-antar makanan.
Ketersediaan pasokan yang luas kemudian mendukung terbentuknya pola konsumsi. Ayam tidak hanya dikonsumsi pada acara tertentu, tetapi telah menjadi bagian dari menu sehari-hari banyak rumah tangga.
Baca juga : 3 Skill Kunci untuk Hemat Uang In This Economy
Ayam Sudah Menjadi Bagian dari Budaya Kuliner
Popularitas ayam juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan budaya masyarakat Indonesia. Berbagai daerah memiliki makanan khas berbahan ayam. Di Jawa terdapat ayam ingkung yang digunakan dalam sejumlah tradisi dan selamatan. Sementara dalam budaya Sunda terdapat ayam bakakak yang dapat disajikan dalam acara tertentu.
Ayam juga digunakan dalam berbagai tradisi masyarakat di daerah lain. Di luar aspek tradisi, kekayaan rempah Indonesia membuat ayam dapat diolah dengan berbagai cita rasa. Ayam dapat digoreng, dibakar, dipanggang, direbus maupun dimasak menggunakan bumbu khas daerah.
Keragaman tersebut membuat ayam memiliki posisi yang kuat dalam kuliner Indonesia.
Data konsumsi daging ayam ras yang diolah Kementerian Pertanian dari BPS menunjukkan adanya peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2019, konsumsi daging ayam ras tercatat sebesar 5,69 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut naik menjadi 6,04 kilogram pada 2020 dan kembali meningkat menjadi 6,55 kilogram pada 2021.
Konsumsi kemudian mencapai 7,15 kilogram pada 2022 dan 7,46 kilogram per kapita pada 2023.
Namun, konsumsi sedikit menurun pada 2024 menjadi 7,27 kilogram per kapita per tahun.
- 2019: 5,69 kg/kapita
- 2020: 6,04 kg/kapita
- 2021: 6,55 kg/kapita
- 2022: 7,15 kg/kapita
- 2023: 7,46 kg/kapita
- 2024: 7,27 kg/kapita
Secara umum, data tersebut menunjukkan konsumsi ayam ras Indonesia berada di kisaran 7 kilogram per kapita per tahun dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagai perbandingan, konsumsi daging sapi Indonesia hanya sekitar 0,45 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut menunjukkan dominannya ayam sebagai salah satu sumber protein hewani masyarakat Indonesia.
Baca juga : RUU Perampasan Aset, Apakah RI Kekurangan Senjata Lawan Korupsi?
Konsumsi Ayam Indonesia Masih Rendah Dibanding ASEAN
Menariknya, tingginya popularitas ayam di Indonesia belum membuat konsumsi per kapitanya menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.
Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) melalui Our World in Data menunjukkan konsumsi daging unggas Indonesia pada 2023 mencapai 15,95 kilogram per kapita per tahun.
Angka tersebut masih jauh di bawah Malaysia yang mencapai 51,90 kilogram per kapita. Berikut perbandingan konsumsi daging unggas di sejumlah negara Asia Tenggara pada 2023,
- Malaysia: 51,90 kg/kapita
- Vietnam: 19,65 kg/kapita
- Indonesia: 15,95 kg/kapita
- Filipina: 15,75 kg/kapita
- Myanmar: 12,09 kg/kapita
- Thailand: 10,23 kg/kapita
Terdapat perbedaan cukup besar antara data konsumsi ayam Indonesia berdasarkan BPS dan FAO.
BPS melalui data yang diolah Kementerian Pertanian mencatat konsumsi daging ayam ras sebesar 7,46 kilogram per kapita pada 2023. Sementara FAO mencatat konsumsi daging unggas Indonesia sebesar 15,95 kilogram per kapita pada tahun yang sama.
Perbedaan tersebut terjadi karena metodologi yang digunakan tidak sama. Data BPS mengukur konsumsi aktual rumah tangga berdasarkan survei. Sementara data FAO lebih menggambarkan ketersediaan pangan atau food supply pada tingkat nasional yang dihitung dari sejumlah komponen, seperti produksi, impor, ekspor dan stok.
Dengan demikian, angka FAO tidak dapat disamakan secara langsung dengan konsumsi aktual rumah tangga yang diukur melalui survei BPS.
Popularitas ayam di Indonesia merupakan hasil kombinasi faktor ekonomi, ketersediaan, agama dan budaya.
Baca juga : Hubungan Ekonomi Malaysia-RI dan Polemik BWPT
Harga yang relatif terjangkau membuat ayam dapat dikonsumsi berbagai kelompok masyarakat. Produksi yang besar memastikan pasokan tersedia di berbagai daerah. Sementara aspek kehalalan membuat ayam dapat diterima secara luas oleh masyarakat Muslim.
Di saat yang sama, ayam telah melekat dalam budaya kuliner Indonesia. Beragam teknik memasak dan penggunaan rempah membuat ayam dapat hadir dalam berbagai bentuk makanan, dari menu rumahan hingga hidangan restoran. Data konsumsi juga menunjukkan adanya peningkatan dalam jangka panjang meskipun terjadi sedikit penurunan pada 2024.

Chrisna Chanis Cara
Editor
