Tren Ekbis

Jalan Terjal Danantara Benahi Ringsek BUMN Karya

  • Danantara mengakui kondisi BUMN Karya masih babak belur. Simak kinerja terbaru WIKA, WSKT, PTPP, ADHI, hingga Hutama Karya beserta strategi restrukturisasi.
Tren Data Proyek BUMN Karya
Proyek BUMN Karya (Tren Asia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Upaya pemerintah menyehatkan badan usaha milik negara (BUMN) sektor konstruksi masih menghadapi tantangan besar. 

Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengakui sebagian BUMN Karya masih dalam kondisi "babak belur" dan "berdarah-darah" akibat akumulasi persoalan keuangan, tingginya utang, proyek bermasalah, hingga lemahnya arus kas.

Meski sejumlah perusahaan mulai menunjukkan perbaikan kinerja pada semester I 2026, Danantara menilai pekerjaan rumah yang harus diselesaikan masih sangat besar.

Restrukturisasi utang, penyehatan aset, hingga konsolidasi perusahaan menjadi agenda utama sebelum rencana merger tujuh BUMN Karya menjadi tiga entitas dapat direalisasikan.

"Memang butuh berkesinambungan. Energi kita juga terbatas. Selesai satu, masuk satu lagi," kata Dony, dalam keterangan resminya, di Jakarta, dikutip Rabu, 5 Agustus 2026.

Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Melambat ke 5,29 Persen, RI Mulai Kehilangan Momentum

Danantara Akui Kondisi BUMN Belum Baik-baik Saja

Menurut Dony, tantangan tidak hanya terjadi di sektor konstruksi, tetapi juga merambah perusahaan properti hingga jasa logistik milik negara. Ia mengaku sempat frustrasi ketika melihat kondisi sejumlah perusahaan BUMN yang memiliki aset jauh lebih kecil dibandingkan total utangnya.

"Baru masuk ke Pos, kondisinya begitu lagi. Baru masuk ke properti, saya juga frustrasi. Bayangkan, bagaimana tidak frustrasi? Kita lakukan repairment (perbaikan), aset tinggal Rp7 triliun, sementara utangnya Rp24 triliun. Mau diapakan?" tambahnya.

Dony mengatakan pemerintah memilih bersikap terbuka kepada masyarakat mengenai kondisi sebenarnya yang dihadapi BUMN. "Saya orangnya apa adanya. Saya ingin masyarakat tahu bahwa kita sedang memperbaiki kondisi yang memang tidak baik-baik saja." ujarnya.

Menurutnya, proses penyehatan tidak cukup hanya mengganti manajemen, tetapi juga harus menyelesaikan persoalan fundamental yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.

 Baca juga : Mengapa Rasa Cukup Sulit Dicapai Meski Gaji Terus Bertambah?

WIKA Masih Menanggung Beban Proyek Whoosh

Salah satu perusahaan yang masih menghadapi tekanan besar adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Pada kuartal I 2026, WIKA membukukan rugi konsolidasi sebesar Rp1,13 triliun.

Salah satu penyebab utama berasal dari investasi pada PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium pemegang saham proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh).

Selama kuartal I 2026, WIKA mencatat rugi dari kepemilikan saham di PSBI sebesar Rp483,80 miliar. WIKA sendiri memiliki 33,36% saham PSBI, menjadi pemegang saham terbesar kedua setelah PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang menguasai 58,53%.

Kerugian investasi tersebut meningkat sekitar 45,73% dibandingkan posisi akhir Maret 2025. Dony mengakui investasi Whoosh masih menjadi salah satu beban utama perusahaan.

"Ini menjadi beban buat mereka (WIKA), tapi kan pada akhirnya harus kita selesaikan, nggak mungkin kita diamkan." ujar Donny.

Ia menegaskan penyelesaian dilakukan secara bertahap. "Jadi saya hanya berupaya menyelesaikan satu per satu. Bagaimana kemudian ini semuanya menjadi proper dan benar." tegasnya.

Pendapatan Waskita Melonjak

Perbaikan mulai terlihat di PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dari sisi operasional. Pendapatan usaha WSKT pada semester I 2026 meningkat 58,49% secara tahunan menjadi Rp4,91 triliun.

Namun kenaikan pendapatan tersebut belum mampu mengembalikan perusahaan ke zona laba. WSKT masih mencatat rugi bersih sebesar Rp1,91 triliun, meski kerugian tersebut menyusut sekitar 16,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tekanan utama masih berasal dari tingginya beban keuangan sebesar Rp1,89 triliun. Selain itu, perusahaan juga membukukan rugi dari entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp168,1 miliar.

Per 30 Juni 2026, total aset WSKT mencapai Rp68,08 triliun, sementara total liabilitas mencapai Rp66,53 triliun. Ekuitas perusahaan tersisa Rp1,55 triliun, turun 57,74% sejak awal tahun.

PT PP Mulai Pulih, Berhasil Kembali Mencetak Laba

Di tengah tekanan yang masih melanda sektor konstruksi, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026, PTPP berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp193,46 miliar, meski pendapatan usaha mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian tersebut menunjukkan perusahaan mulai memperbaiki profitabilitas melalui efisiensi operasional dan pengelolaan proyek. Meski demikian, tantangan likuiditas masih menjadi perhatian. Kas dan setara kas perusahaan turun menjadi Rp1,17 triliun, dari sebelumnya Rp2,89 triliun.

Sementara itu, total liabilitas meningkat menjadi sekitar Rp38,99 triliun, mencerminkan perusahaan masih menghadapi tekanan dari sisi struktur permodalan dan kewajiban jangka panjang.

Baca juga : Data dan Analisis Harga Emas Antam Hari Ini 5 Agustus 2026

Adhi Karya Bertahan dengan Laba Tipis

Perbaikan juga terlihat pada PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI). Pada semester I 2026, ADHI membukukan laba bersih sebesar Rp8,49 miliar, meningkat 12,57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun peningkatan laba tersebut terjadi di tengah penurunan pendapatan. Pendapatan usaha ADHI turun 18,36% menjadi Rp3,11 triliun, menjadi yang terendah dalam enam tahun terakhir.

Di sisi lain, laba bruto meningkat 22,27% menjadi Rp700,42 miliar, didorong penurunan beban pokok pendapatan yang lebih besar dibandingkan penurunan pendapatan.

Per 30 Juni 2026, total aset ADHI tercatat Rp27,53 triliun, dengan total liabilitas Rp24,21 triliun dan ekuitas sebesar Rp3,31 triliun.

Hutama Karya Masih Menjadi yang Paling Stabil

Di antara BUMN Karya, PT Hutama Karya (Persero) masih menjadi perusahaan dengan kondisi paling sehat. Perusahaan mencatat pendapatan sekitar Rp3,09 triliun, tumbuh 11,6% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara beban keuangan berhasil ditekan 24,5% menjadi sekitar Rp1,24 triliun. Hutama Karya juga menjadi salah satu BUMN Karya yang masih mampu membukukan laba di tengah tekanan industri konstruksi nasional.

PP Properti Jadi PR Besar Danantara

Selain perusahaan induk, Danantara juga menaruh perhatian besar terhadap anak usaha BUMN. Salah satunya adalah PT PP Properti Tbk.

Menurut Dony, perusahaan mengalami impairment atau penyesuaian nilai aset hampir Rp13 triliun. "PP Properti itu impairment hampir Rp13 triliun. Tidak sedikit. Satu per satu kita perbaiki." jelasnya.

Sepanjang 2025, PP Properti membukukan rugi bersih Rp4,84 triliun, setelah sebelumnya rugi Rp1,09 triliun pada 2024 dan Rp1,3 triliun pada 2023.

Lebih mengkhawatirkan lagi, arus kas operasi perusahaan telah berada dalam posisi negatif sejak 2021. Menurut Dony, persoalan tersebut merupakan akumulasi berbagai masalah yang harus dibereskan satu per satu.

"Kemarin problem Adhi Properti. Itu masih satu-satu diberesin. Itu kan peninggalan-peninggalan yang harus dibereskan pada saat ini." ungkapnya.

Dony menegaskan penyelesaian persoalan BUMN tidak cukup hanya melalui efisiensi operasional. "Satu kasus itu tidak cukup hanya repairment. Ada financial restructuring (restrukturisasi keuangan), ada langkah-langkah korporasi lainnya. Jadi, memang rumit." katanya.

Karena itu, Danantara memilih memprioritaskan restrukturisasi utang, penataan aset, serta pembenahan tata kelola sebelum menjalankan agenda konsolidasi BUMN Karya. Setelah kondisi perusahaan membaik, Danantara juga berencana mengintegrasikan aset properti milik berbagai BUMN ke dalam satu ekosistem pemasaran.

Laporan keuangan semester I 2026 menunjukkan kondisi BUMN Karya mulai bergerak ke arah yang lebih baik, meski pemulihannya belum merata. WIKA dan WSKT masih mencatat kerugian besar akibat beban utang dan proyek masa lalu.

Sementara PTPP dan ADHI berhasil kembali membukukan laba, meski masih menghadapi tantangan dari sisi likuiditas dan struktur permodalan. Di sisi lain, Hutama Karya tetap menjadi perusahaan dengan kinerja paling stabil.

Bagi Danantara, kondisi tersebut menjadi alasan mengapa restrukturisasi dilakukan secara bertahap. Fokusnya bukan hanya menyelamatkan laporan keuangan jangka pendek, tetapi membangun fondasi bisnis yang lebih sehat sebelum BUMN Karya memasuki fase konsolidasi dan transformasi berikutnya.