Tren Ekbis

Ironi Agrinas: Kelola Jutaan Hektare Sawit, Laba Malah dari Konstruksi

  • Agrinas Palma Nusantara mengelola 4,11 juta hektare lahan, tetapi laba 2025 hanya Rp27,9 miliar dari jasa konstruksi. Mengapa bisa demikian?
images (7).jpg
Agrinas (Akun Resmi Agrinas)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) kini menjadi salah satu pengelola aset perkebunan terbesar di Indonesia setelah menerima mandat pemerintah untuk mengelola 4,11 juta hektare lahan di kawasan hutan. 

Luasan tersebut bahkan hampir 14 kali lebih besar dibandingkan kebun milik PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), emiten sawit terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, di balik besarnya aset yang dikelola, terdapat ironi. 

Sepanjang Tahun Buku 2025, laba bersih perusahaan hanya mencapai Rp27,9 miliar, dan bukan berasal dari bisnis perkebunan sawit, melainkan dari usaha jasa konsultansi konstruksi, bisnis warisan sebelum perusahaan bertransformasi menjadi BUMN pengelola perkebunan.

Sementara itu, hasil pengelolaan aset perkebunan negara memang menghasilkan surplus operasional Rp2,86 triliun, tetapi angka tersebut bukan merupakan laba perusahaan karena seluruh aktivitas dilakukan dalam rangka penugasan pemerintah.

Baca juga : Siapa Penguasa Bisnis Tepung Terigu Indonesia?

Agrinas Kelola Lahan Sawit Terbesar di Indonesia

Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani mengatakan luas lahan yang dikelola perseroan meningkat signifikan dalam waktu singkat.

Sepanjang 2025, Agrinas mengelola sekitar 1,7 juta hektare lahan perkebunan. Kini, luas areal tersebut melonjak menjadi 4,11 juta hektare, termasuk sekitar 730 ribu hektare kebun kelapa sawit yang sudah produktif.

Secara keseluruhan, pemerintah memberikan mandat kepada Agrinas untuk mengelola lahan perkebunan di kawasan hutan seluas 4,11 juta hektare, dengan sekitar 730 ribu hingga 774 ribu hektare telah tertanami kelapa sawit.

Abdul Ghani kala memberikan keterangan dalam rapat dengan Komisi VI di gedung DPR RI Jakarta. (Agrinas)

Sebagai tambahan, perusahaan juga memperoleh tugas membuka sekitar 400 ribu hektare kebun sawit baru sebagai bagian dari optimalisasi aset negara.

Jika dibandingkan secara geografis, luas lahan tersebut hampir menyamai ukuran Provinsi Jawa Timur yang memiliki luas sekitar 4,7 juta hektare.

Skala tersebut menjadikan Agrinas sebagai salah satu pengelola aset perkebunan terbesar di Indonesia, bahkan melampaui sebagian besar perusahaan sawit nasional.

Hampir 14 Kali Astra Agro

Besarnya aset Agrinas terlihat semakin mencolok ketika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan sawit yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Berikut perbandingan luas lahan yang dikelola,

  • Agrinas Palma Nusantara: sekitar 4,11 juta hektare.
  • Astra Agro Lestari (AALI): sekitar 284 ribu hektare.
  • Triputra Agro Persada (TAPG): sekitar 161 ribu hektare.
  • Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMAR): sekitar 137 ribu hektare.
  • PP London Sumatra (LSIP): sekitar 111 ribu hektare.

Artinya, luas lahan yang berada di bawah pengelolaan Agrinas hampir 14 kali lebih besar dibandingkan Astra Agro Lestari yang selama ini dikenal sebagai salah satu perusahaan perkebunan sawit terbesar di Indonesia.

Perbandingan tersebut juga menunjukkan bahwa aset yang dikelola Agrinas jauh melampaui emiten-emiten sawit papan atas lainnya.

Ironinya, Laba Perusahaan Hanya Rp27 Miliar

Meski mengelola aset dalam skala raksasa, laba bersih perusahaan sepanjang 2025 hanya mencapai Rp27,9 miliar. Abdul Ghani mengakui capaian tersebut memang masih jauh dari optimal. "Karena perusahaan ini dulunya adalah perusahaan karya, jadi hanya Rp27 miliar." jelasnya dalam rapat dengan Komisi VI di gedung DPR RI Jakarta, Senin, 6 Juli 2026.

Ia menjelaskan bahwa laba tersebut berasal dari kegiatan usaha korporasi berupa jasa konsultansi konstruksi, bukan dari pengelolaan perkebunan.

Sementara itu, surplus operasional sebesar Rp2,86 triliun berasal dari pengelolaan aset perkebunan negara dalam rangka penugasan pemerintah sehingga tidak dicatat sebagai laba perseroan. Dengan kata lain, secara korporasi Agrinas masih berada pada tahap transisi menuju perusahaan perkebunan penuh.

Kontras tersebut semakin terlihat ketika dibandingkan dengan kinerja perusahaan sawit yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2025,

  • Triputra Agro Persada (TAPG) membukukan laba sekitar Rp3,70 triliun.
  • Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMAR) mencetak laba sekitar Rp2,58 triliun.
  • PP London Sumatra (LSIP) memperoleh laba sekitar Rp1,88 triliun.
  • Astra Agro Lestari (AALI) menghasilkan laba sekitar Rp1,47 triliun.

Padahal seluruh perusahaan tersebut mengelola lahan yang rata-rata berada di bawah 300 ribu hektare, jauh lebih kecil dibandingkan aset Agrinas. Jika dibandingkan, laba Agrinas yang sebesar Rp27,9 miliar hanya sekitar 1% hingga kurang dari 2% dari laba emiten-emiten sawit besar tersebut.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa besarnya aset belum otomatis menghasilkan keuntungan korporasi, terutama ketika perusahaan masih menjalankan fungsi sebagai pengelola aset negara dalam masa transformasi.

Baca juga : Profil Zainal Arifin Mochtar, Pakar Hukum UGM yang Masuk Tokoh Reset Indonesia

Mengapa Laba Agrinas Masih Kecil?

Ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa laba perusahaan masih relatif rendah.

1. Masih Masa Transformasi

Agrinas sebelumnya bukan perusahaan perkebunan, melainkan perusahaan jasa konstruksi milik negara. Karena itu, struktur organisasi, sistem operasional hingga sumber daya manusia masih dalam tahap pembentukan.

Menurut Abdul Ghani, prioritas utama manajemen saat ini adalah menyelesaikan organisasi perusahaan. "Pertama menyusun organisasi dulu, menyelesaikan organisasi-organisasi di korporasi perkebunan, lalu hari ini kita belum sampai selesai menyelesaikan kebutuhan tenaga. Insya Allah bulan Juli ini seluruh tenaga yang dibutuhkan, tenaga manajemen akan kita penuhi." jelasnya.

2. Surplus Bukan Laba

Surplus operasional Rp2,86 triliun bukan menjadi keuntungan perusahaan karena berasal dari penugasan pemerintah dalam mengelola aset perkebunan negara. Dengan demikian, angka tersebut tidak bisa disamakan dengan laba bersih emiten sawit yang menjalankan bisnis secara komersial.

3. Fokus Pembenahan Aset

Sebagian besar energi perusahaan masih diarahkan untuk:

  • penguatan legalitas aset,
  • pengamanan perusahaan,
  • penyempurnaan tata kelola pengadaan dan komersial,
  • penguatan organisasi,
  • peningkatan kapasitas sumber daya manusia,
  • perluasan kemitraan dengan petani dan koperasi,
  • penerapan Good Agricultural Practices (GAP),
  • percepatan hilirisasi komoditas pangan prioritas.

Kinerja Mulai Membaik

Meski belum mencapai target, manajemen mengklaim tren kinerja terus menunjukkan perbaikan sepanjang 2026. Menurut Abdul Ghani, pada Maret 2026 realisasi perusahaan baru mencapai sekitar separuh target.

Namun pada Mei, selisih terhadap target tinggal sekitar 25%. "Kalau di bulan Maret kita hanya separuh dari target, bulan Mei sudah tinggal 25%. Bulan Juni mungkin tinggal 15% dan bulan Agustus kita sudah akan mencapai target." ujar Ghani.

Ia optimistis pada akhir tahun perusahaan mampu melampaui target yang telah ditetapkan. "Insyaallah sampai akhir tahun kita akan leading on di atas target yang kita canangkan." jelas Ghani.

Selain mengejar produktivitas, Agrinas juga menekankan transformasi berbasis keberlanjutan. Abdul Ghani mengatakan pengelolaan perkebunan ke depan akan mengedepankan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG).

Ke depan, keberhasilan Agrinas tidak hanya akan diukur dari luas lahan yang dikelola, tetapi juga dari kemampuannya mengubah aset perkebunan negara menjadi bisnis yang produktif dan menghasilkan keuntungan. 

Di tengah harga minyak sawit mentah (CPO) yang masih berada pada level tinggi dan luas areal yang jauh melampaui perusahaan-perusahaan sawit publik, tantangan terbesar Agrinas adalah membuktikan bahwa skala aset yang besar dapat diterjemahkan menjadi kinerja keuangan yang sepadan.