Tren Ekbis

Investor Asing Lepas Saham Himbara hingga Rp200 M, Kapan Aksi Jual Ramai-ramai Ini Berakhir?

  • Belum ada katalis positif yang cukup kuat untuk menarik kembali arus modal asing (capital inflow) ke pasar saham domestik. Kondisi ini membuat harga saham bank-bank besar sulit untuk naik secara signifikan dalam waktu dekat.
KV_ATM_LINK_2.png
Ilustrasi ATM Link untuk Bank BUMN atau Himbara. (BNI)

JAKARTA - Sejumlah saham bank milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mengalami tekanan jual dari investor asing. Tekanan ini terjadi di tengah kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian global dan minimnya katalis positif di dalam negeri. Berdasarkan data RTI Business, total aksi jual bersih (net sell) investor asing terhadap saham-saham bank Himbara pada perdagangan Senin, 21 April 2025, mencapai Rp 205,6 miliar.

Di antara saham-saham Himbara, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi yang paling banyak dilepas oleh investor asing dengan nilai penjualan mencapai Rp 112,6 miliar. Disusul oleh saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang mencatatkan aksi jual asing senilai Rp 87,2 miliar. Sementara itu, saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) juga terkena imbas tekanan jual, meskipun dalam jumlah yang lebih kecil, yakni sebesar Rp 5,8 miliar.

Kapital Asing Mengalir Keluar dari Sektor Perbankan

Menanggapi fenomena ini, Senior Economist PT Mirae Asset Sekuritas, Rully Wisnubroto, menjelaskan bahwa tekanan jual yang terjadi terutama disebabkan oleh derasnya arus keluar dana asing (capital outflow) dari pasar saham Indonesia, khususnya di sektor perbankan.

“Saat ini yang paling besar pengaruhnya hingga saham-saham bank Himbara anjlok adalah outflow yang cukup besar,” ujar Rully dalam acara Media Day by Mirae Asset Sekuritas pekan lalu di Jakarta. 

Minimnya Katalis Positif Hambat Inflow

Rully juga menambahkan bahwa belum ada katalis positif yang cukup kuat untuk menarik kembali arus modal asing (capital inflow) ke pasar saham domestik. Kondisi ini membuat harga saham bank-bank besar sulit untuk naik secara signifikan dalam waktu dekat.

“Kita belum melihat tanda-tanda inflow yang akan sangat kuat. Jadi, kemungkinan untuk mengalami kenaikan signifikan juga masih terbatas,” paparnya.

Baca Juga: Saham Bank BUMN Telah Diskon hingga 30 Persen, Momentum Beli?

Menurut Rully, investor global masih bersikap wait and see terhadap arah kebijakan suku bunga global. Selain itu, ketidakpastian kondisi makroekonomi turut menjadi faktor yang menahan pergerakan positif saham-saham sektor perbankan.

Risiko Fundamental Perbankan Jadi Sorotan

Selain faktor eksternal, investor juga semakin memperhatikan risiko dari sisi fundamental perusahaan perbankan. Rully mengingatkan bahwa jika pertumbuhan ekonomi nasional melambat, maka kinerja bank-bank besar, termasuk anggota Himbara, juga akan ikut terdampak.

“Kalau nanti growth ekonomi kita lebih rendah, sudah pasti pertumbuhan kinerja perbankan juga akan menurun. Belum lagi jika suku bunga tetap ditahan tinggi dan likuiditas masih ketat,” jelasnya.

NPL dan Pencadangan Jadi Beban Tambahan

Kekhawatiran akan meningkatnya rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) juga turut membayangi saham-saham perbankan. Apabila laju pertumbuhan ekonomi melemah, risiko meningkatnya NPL semakin besar. Kondisi ini dapat menekan profitabilitas bank karena kebutuhan pencadangan yang meningkat.

“Risikonya bisa ke arah kenaikan NPL kalau ekonomi melambat. Profitabilitas bank juga bisa terganggu karena beban pencadangan yang cukup besar,” ujar Rully.

Menurutnya, meskipun pencadangan yang tinggi mencerminkan kehati-hatian bank dalam mengelola risiko kredit, hal tersebut tetap menjadi beban yang signifikan terhadap laba bersih bank.

“Iya, pencadangan besar memang penting sebagai bentuk kehati-hatian, tapi tetap saja itu akan berdampak pada profit mereka,” tambahnya.

Harapan Akan Perbaikan Sentimen

Meski saat ini sektor perbankan tengah dalam tekanan, Rully masih optimistis bahwa kondisi ini tidak akan berlangsung lama. Ia berharap perbaikan sentimen global dan domestik bisa menarik kembali minat investor asing terhadap saham-saham bank nasional.

“Mudah-mudahan outflow-nya tidak akan terlalu besar lagi ke depan. Tapi memang kita masih perlu melihat bagaimana perkembangan kondisi makro dan global dalam waktu dekat,” tutupnya.