Tren Ekbis

Industri Geser Cara Pandang ESG Jadi Strategi Bisnis Jangka Panjang

  • Lautan Luas menilai kolaborasi industri, pemerintah, dan penyedia energi terbarukan menjadi kunci mempercepat transisi energi dan implementasi ESG di Indonesia.
Ilustrasi ESG.jpeg
Ilustrasi ESG (Bank Mandiri)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Target Indonesia mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada 2060 atau lebih cepat semakin mendorong perubahan cara pandang dunia usaha terhadap transisi energi. 

Jika sebelumnya Environmental, Social, and Governance (ESG) kerap diposisikan sebagai kewajiban kepatuhan (compliance), kini semakin banyak perusahaan mulai menjadikannya sebagai strategi bisnis untuk menjaga daya saing, efisiensi operasional, hingga menarik investasi.

Perubahan paradigma tersebut menjadi benang merah dalam diskusi yang digelar PT Lautan Luas Tbk. bersama Greenvolt Power Indonesia dan Indonesia ESG Professional Association (IEPA) di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.

Dekarbonisasi Kini Menjadi Strategi Korporasi

Indonesia telah memperbarui Kebijakan Energi Nasional dan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025–2060 dengan target bauran energi terbarukan mencapai lebih dari 70% pada 2060.

Target tersebut dinilai tidak mungkin dicapai hanya melalui kebijakan pemerintah. Sektor industri, yang merupakan salah satu konsumen energi terbesar di Indonesia, memegang peran penting dalam mempercepat dekarbonisasi nasional.

Dalam paparannya, Head of Investor Relations, Corporate Communications & ESG Manager PT Lautan Luas Tbk., Eurike Hadijaya, menegaskan bahwa keberlanjutan kini telah menjadi bagian dari arah bisnis perusahaan.

"ESG bukan lagi sekadar kewajiban pelaporan atau memenuhi regulasi, tetapi menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menciptakan nilai jangka panjang." ujar Eurike, dikutip keterangan perusahaan.

Menurutnya, transformasi menuju penggunaan energi terbarukan juga akan memperkuat ketahanan operasional perusahaan di tengah meningkatnya volatilitas harga energi global.

Ia menjelaskan bahwa perusahaan kini tidak hanya mengejar efisiensi biaya, tetapi juga berupaya menurunkan jejak karbon agar tetap relevan di tengah tuntutan investor, pelanggan, hingga mitra internasional yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Tekanan Global Membuat ESG Sulit Ditinggalkan

Meski beberapa negara mulai menunjukkan perubahan arah kebijakan energi, tuntutan pasar internasional terhadap praktik bisnis berkelanjutan justru terus meningkat.

Chairman Indonesia ESG Professional Association (IEPA), Herry Ginanjar, menilai banyak perusahaan masih memandang ESG sebagai beban tambahan. Padahal menurutnya, pendekatan tersebut sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan pasar global.

"ESG bukan cost center, tetapi investment center. Perusahaan yang mulai bertransformasi lebih awal justru memiliki peluang memperoleh akses pembiayaan yang lebih baik, meningkatkan daya saing, serta memperkuat kepercayaan investor." kata Herry.

Ia menambahkan, standar keberlanjutan kini semakin menjadi persyaratan dalam rantai pasok global.

Produk-produk yang dipasarkan ke berbagai negara, khususnya kawasan Eropa, mulai dituntut memiliki jejak karbon yang lebih rendah serta proses produksi yang lebih bertanggung jawab.

Kondisi tersebut membuat implementasi ESG tidak lagi bersifat sukarela, melainkan menjadi bagian dari strategi mempertahankan pasar ekspor.

Energi Terbarukan Dinilai Mampu Menekan Risiko Bisnis

Dari sisi penyedia solusi energi, Head of Business Development Greenvolt Power Indonesia, Bobby Benly, mengatakan kebutuhan perusahaan terhadap energi bersih terus meningkat.

Menurutnya, perusahaan kini tidak lagi hanya menghitung biaya listrik, tetapi juga mempertimbangkan risiko jangka panjang akibat fluktuasi harga energi konvensional serta tuntutan pengurangan emisi karbon.

"Transisi energi bukan hanya soal mengganti sumber listrik, tetapi bagaimana perusahaan membangun bisnis yang lebih tangguh, efisien, dan berkelanjutan." ujar Bobby.

Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya maupun sumber energi terbarukan lainnya mampu memberikan kepastian biaya energi dalam jangka panjang sekaligus membantu perusahaan memenuhi target dekarbonisasi.

Pemerintah memiliki peran dalam menciptakan regulasi yang mendukung investasi hijau. Dunia usaha bertugas melakukan transformasi operasional menuju produksi yang lebih efisien dan rendah karbon.

Sementara penyedia teknologi energi terbarukan menyediakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Di sisi lain, asosiasi seperti IEPA berperan memperkuat kapasitas perusahaan dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip ESG secara lebih terukur.

Sinergi tersebut dinilai menjadi fondasi penting agar target dekarbonisasi nasional tidak berhenti pada level kebijakan, tetapi benar-benar diterapkan di tingkat operasional perusahaan.

Bagi dunia usaha, ESG tidak lagi dipandang sebagai biaya tambahan, melainkan sebagai investasi strategis untuk menjaga pertumbuhan bisnis, memperkuat ketahanan operasional, sekaligus memastikan perusahaan tetap kompetitif di tengah ekonomi global yang semakin mengutamakan keberlanjutan.