Harga Pertamax Turun Agustus 2026? Cek 3 Skenarionya
- Harga Pertamax berpeluang turun dari Rp16.250 per liter. Berikut simulasi harga baru, penjelasan ESDM, serta pengaruh minyak dunia dan kurs rupiah.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Setelah hampir dua bulan bertahan di level Rp16.250 per liter, harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax berpeluang mengalami penyesuaian.
Sinyal tersebut disampaikan langsung oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) seiring mulai melandainya harga minyak dunia dan evaluasi pemerintah terhadap harga keekonomian BBM.
Meski belum memastikan adanya penurunan, pernyataan pemerintah kali ini menjadi yang paling eksplisit sejak Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026.
Jika tren harga minyak dan nilai tukar rupiah bertahan, sejumlah simulasi menunjukkan harga keekonomian Pertamax berpotensi turun ke kisaran Rp14.500 hingga Rp15.500 per liter.
Lantas, bagaimana simulasi perhitungannya? Kapan harga baru bisa berlaku? Dan apakah masyarakat bisa berharap Pertamax kembali ke level sebelum kenaikan?
ESDM Beri Sinyal Penyesuaian Harga Pertamax
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan pemerintah tengah menghitung kembali harga keekonomian Pertamax berdasarkan biaya pokok penyediaan (BPP), perkembangan harga minyak dunia, dan komponen keuntungan yang menjadi dasar penetapan harga BBM nonsubsidi.
"Jadi nanti akan dihitung BPP (biaya pokok penyediaan)-nya Pertamina ditambah keuntungan. Nanti kami dari Kementerian ESDM akan mencoba melihat kira-kira harga yang ini keekonomiannya bagaimana," ujar Yuliot, dikutip Jumat, 31 Juli 2026.
Baca juga : IHSG Hijau Kala KOSPI Ambruk 34 Persen: 5 Pelajaran Penting bagi Investor
Menurutnya, harga Pertamax sebagai BBM nonsubsidi memang mengikuti dinamika pasar internasional. Apabila rata-rata harga minyak mentah menunjukkan tren penurunan, operator memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian harga. "Kalau potensi nanti ini harga minyak secara rata-rata turun, ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga," tegasnya.
Pernyataan tersebut kembali diperkuat pada Jumat, 31 Juli 2026, saat Yuliot menyebut pemerintah masih mengevaluasi rata-rata harga minyak internasional sebelum menetapkan keputusan akhir. "Ya (terkait potensi penyesuaian harga Pertamax hingga Dex Series) besok kita cek lagi rata-rata harga internasional," katanya di Tapanuli Selatan.
Pernyataan itu menjadi sinyal paling kuat bahwa pemerintah membuka peluang penurunan harga Pertamax apabila hasil evaluasi menunjukkan harga keekonomian memang lebih rendah dibanding periode sebelumnya.
Baca juga : Menguat, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 31 Juli 2026?

Harga Minyak Dunia Mulai Melandai
Sinyal tersebut muncul di tengah pergerakan harga minyak dunia yang mulai melemah. Berdasarkan data Refinitiv hingga Jumat, 31 Juli 2026 pukul 09.20 WIB, harga minyak Brent berada di US$88 per barel, turun 1,16% dibanding penutupan sehari sebelumnya di US$89,03 per barel.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$81,84 per barel, turun 2,09% dari posisi US$83,59 per barel pada perdagangan sebelumnya.
Sebelumnya, pada 28 Juli 2026, harga Brent bahkan sempat turun ke US$83,86 per barel, menjadi level terendah sejak pertengahan Juli.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Arab Saudi mengusulkan pembentukan koalisi pertahanan maritim multinasional untuk meningkatkan keamanan di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Langkah tersebut dipandang pasar berpotensi mengurangi risiko gangguan distribusi minyak global sehingga premi risiko mulai berkurang.
Meski demikian, harga minyak masih bergerak fluktuatif setelah sempat melonjak hingga US$100,07 per barel pada 23 Juli 2026 akibat ketegangan geopolitik.
Bagaimana Cara Menghitung Harga Pertamax?
Harga Pertamax tidak ditentukan berdasarkan harga minyak harian. Penetapan harga menggunakan formula yang mengacu pada Mean of Platts Singapore (MOPS) sebagai acuan harga produk BBM di kawasan Asia, kemudian dikombinasikan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Artinya, terdapat dua komponen utama yang menentukan harga keekonomian Pertamax:
- Rata-rata harga MOPS selama periode perhitungan.
- Rata-rata kurs rupiah terhadap dolar AS.
Karena menggunakan rata-rata bulanan, perubahan harga minyak dalam beberapa hari belum tentu langsung tercermin pada harga BBM di SPBU.
Simulasi Harga Baru Pertamax
Jika melihat perkembangan harga sepanjang Juli 2026, peluang penurunan harga Pertamax mulai terbuka. Pergerakan harga Brent sepanjang bulan menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi:
- Awal Juli sempat berada di sekitar US$72 per barel.
- Naik hingga US$100,07 per barel pada 23 Juli.
- Turun kembali ke kisaran US$85,87–US$83,86 per barel pada 27–28 Juli.
- Berada di sekitar US$88 per barel pada 31 Juli.
Dengan mempertimbangkan seluruh pergerakan tersebut, rata-rata harga Brent selama Juli diperkirakan berada di kisaran US$85–87 per barel.
Dari sisi nilai tukar, rupiah sepanjang Juli bergerak di rentang Rp17.875 hingga Rp18.111 per dolar AS, sementara pada 31 Juli menguat ke sekitar Rp18.040 per dolar AS. Rata-rata kurs bulan ini diperkirakan berada di kisaran Rp17.900–Rp18.000 per dolar AS.
Baca juga : Tren Take Over KPR Menguat, Kuasai 60 Persen Pasar
Mengacu pada asumsi tersebut, harga keekonomian Pertamax diperkirakan turun menjadi sekitar,
Rp14.500–Rp15.500 per liter.
Level tersebut memang masih lebih tinggi dibanding harga sebelum kenaikan pada Mei 2026 yang berada di Rp12.300 per liter, namun menunjukkan adanya penurunan yang cukup signifikan dibanding harga saat ini sebesar Rp16.250 per liter.
Sebelumnya, ekonom Yayan juga memperkirakan harga Pertamax berpotensi turun menjadi sekitar Rp15.228 per liter pada Juli dan dapat mencapai Rp14.557 per liter pada Agustus apabila tren harga minyak terus berlanjut.
Mengapa Harga Pertamax Belum Langsung Turun?
Meski harga minyak sempat turun, terdapat beberapa faktor yang membuat penyesuaian harga tidak bisa dilakukan secara otomatis.
- Pertama, formula penetapan harga menggunakan rata-rata MOPS, bukan harga minyak harian. Artinya, lonjakan harga hingga di atas US$100 per barel pada pertengahan Juli masih ikut memengaruhi rata-rata bulan tersebut.
- Kedua, volatilitas harga minyak sepanjang Juli tergolong sangat tinggi sehingga pemerintah masih perlu memastikan tren penurunan benar-benar berlanjut sebelum menetapkan harga baru.
- Ketiga, ketidakpastian geopolitik global masih membayangi pasar energi. Pemerintah menilai kondisi tersebut masih dapat memicu kenaikan harga minyak sewaktu-waktu.
- Keempat, harga minyak internasional saat ini juga masih berada di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang dipatok sekitar US$70 per barel.
Sejumlah ekonom dan analis memperkirakan besaran penurunan harga Pertamax akan bergantung pada metode yang digunakan Pertamina.
Dalam skenario optimistis, apabila formula dalam Kepmen ESDM Nomor 19 Tahun 2019 diterapkan sepenuhnya mengikuti harga keekonomian, Pertamax berpotensi turun hingga sekitar Rp13.700 per liter.
Pada skenario moderat, dengan pendekatan smoothing atau perataan harga, Pertamax diperkirakan berada di kisaran Rp16.000 per liter, atau hanya turun tipis dari harga saat ini.
Sementara pada skenario konservatif, penyesuaian diperkirakan hanya berkisar Rp200 hingga Rp500 per liter, apabila rata-rata MOPS dan nilai tukar rupiah tidak berubah signifikan dibanding periode sebelumnya.
Keputusan resmi mengenai harga Pertamax diperkirakan diumumkan pada 1 Agustus 2026, bersamaan dengan evaluasi rutin harga BBM nonsubsidi.
Sebelum keputusan ditetapkan, Pertamina bersama pemerintah masih harus menyelesaikan perhitungan rata-rata MOPS sepanjang Juli serta mempertimbangkan perkembangan nilai tukar rupiah.
Karena itu, sinyal yang diberikan ESDM saat ini belum berarti harga Pertamax dipastikan turun, melainkan menunjukkan bahwa ruang penyesuaian mulai terbuka apabila hasil evaluasi mendukung.

Chrisna Chanis Cara
Editor
