Tren Ekbis

Harga Pangan di Jakarta Meroket, Tersengat Eskalasi Perang?

  • Krisis geopolitik picu lonjakan harga pangan Jakarta. CELIOS peringatkan dampak inflasi bagi warga saat pemerintah belum rilis stimulus.
Kirim AFPI Kunjungan Media - Panji 2.jpg
Karyawan PT Pangan Nusantara, perusahaan distributor makanan beku, yang memperoleh pembiayaan dari PT Alami Fintek Sharia (ALAMI Sharia), sedang memindahkan produk-produk makanan beku ke dalam gudang pendingin yang ada di Jagakarsa, Jakarta, saat kunjungan media pada Senin 30 Oktober 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Harga komoditas pangan di wilayah DKI Jakarta mengalami lonjakan ekstrem pada aktivitas perdagangan hari Rabu 4 Maret 2026. Eskalasi konflik serta meletusnya perang geopolitik sejak 28 Februari 2026 dinilai turut memberikan efek kejut terhadap rantai pasokan bahan pokok di ibukota.

Berdasarkan data yang dihimpun TrenAsia.id dari laman Dinas Pemprov DKI, lonjakan harga paling drastis sejak awal perang dipimpin oleh ikan kembung. Komoditas laut ini meroket tajam hingga mencapai angka 25% dengan rata-rata harga Rp50.000 per kilogram di pasaran.

Kenaikan harga jual tersebut ternyata terus menembus batasan psikologis baru. Komoditas ikan kembung bahkan tercatat telah sukses menembus angka jual Rp60.000 per kilogram secara khusus pada aktivitas transaksi jual beli harian di area perdagangan Pasar Senen hari ini.

Badai Kenaikan Harga Minyak Goreng

Menyusul di posisi nomor 2, produk minyak goreng Minyakita juga melonjak tajam sebesar 24,20% selama masa awal konflik ini. Disparitas harga sangat terasa di berbagai wilayah, menyentuh angka Rp21.000 per liter di kawasan perdagangan Pasar Grogol pagi tadi.

Sementara itu, titik penjualan harga termurah untuk minyak goreng berada di Pasar Senen sebesar Rp15.700 per liter. Dampak ketegangan kondisi global tersebut turut membuat pergerakan grafik harga komoditas pangan cabai rawit merah kembali terasa sangat pedas hari ini.

Harga cabai rawit secara rata-rata telah menembus angka Rp105.500 per kilogram. Rentang harganya pun terpantau sangat ekstrem, yakni termahal mencapai Rp150.000 per kilogram di Rawamangun dan rekor nilai harga jual termurah senilai Rp60.000 per kilogram di wilayah Jatinegara.

Ancaman Kebangkrutan Pengrajin Tempe

Tren harga jual yang konsisten naik tanpa henti sejak meletusnya perang akhir pekan lalu juga melanda komoditas kacang kedelai. Kenaikan nilai secara beruntun ini memberikan suatu pukulan sangat telak bagi laju roda bisnis operasional para perajin tahu tempe.

Kondisi pasar tersebut terjadi mengingat harganya telah sukses menyentuh angka Rp28.000 per kilogram di fasilitas Pasar Rawamangun. Beberapa bahan pangan pokok lain juga terus mencatatkan tren kenaikan nilai secara berkelanjutan sebagai imbas krisis geopolitik hingga aktivitas perdagangan hari ini.

Daging ayam broiler menyentuh angka Rp60.000 di Pasar Kalibaru pagi tadi. Sementara itu, komoditas bawang putih mencapai nilai Rp50.000 di area Pramuka, dan harga jual tepung terigu berhasil tembus Rp14.000 per kilogram di lokasi lapak pedagang Jembatan Merah.

Mencekik Kantong Kelas Menengah Bawah

Krisis yang memicu fluktuasi tajam serta lebarnya disparitas pasar semenjak bulan lalu ini sangat memberatkan masyarakat. Kondisi darurat tersebut menuntut seluruh konsumen untuk lebih cermat berbelanja setiap hari di tengah hancurnya stabilitas harga pangan yang meresahkan para warga.

Situasi ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi pemerintah agar segera mengamankan pasokan selama masa konflik geopolitik berlangsung. Apalagi kondisi kenaikan ini dibarengi oleh masa bulan Ramadan yang memang biasanya sering terjadi kenaikan harga, sehingga butuh stimulus terkait untuk menyeimbangkan kenaikan tersebu. 

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira mengatakan Perang di Iran menyebabkan Inflationary pressure, kenaikan harga yang mengancam berbagai komoditas dari minyak, listrik, pangan, hingga cicilan KPR. Hal ini dipicu oleh terganggunya arus perdagangan energi internasional di kawasan Selat Hormuz. 

"Sejauh ini belum ada paket kebijakan yang dikeluarkan Prabowo. Padahal kondisi sudah sangat mendesak. Hanya hitungan hari, efek perang Iran terasa di kantong kelas menengah dan bawah," ujar Bhima dalam keterangannya di laman Instagram CELIOS pada Rabu, 4 Maret 2026. 

Guncangan Rupiah dan Pelarian Asing

Selain kenaikan harga pangan, guncangan ekonomi imbas perang juga berpengaruh pada sektor keuangan dan nilai tukar mata uang domestik. Data pasar valuta asing menunjukkan adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebesar -1,17% sehingga menyentuh level 16.872 pada perdagangan hari ini.

Sebaliknya, angka kinerja indeks dolar tercatat mengalami penguatan hingga mencapai level 1,06% secara keseluruhan pada hari ini. Pantauan data pasar memperlihatkan pergerakan nilai indeks dolar yang menyentuh angka 99,206 berdasarkan informasi yang tersedia di dalam bursa internasional saat ini.

Tidak hanya itu, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG juga mencatatkan penurunan nilai dengan rapor kerugian sebesar -8,18%. Kondisi tersebut diikuti oleh aktivitas penyesuaian portofolio investor dengan total nilai jual bersih aset asing di bursa saham mencapai angka Rp10,1 triliun.

Berdasarkan catatan World Government Bond, nilai instrumen penjaminan risiko Indonesia dengan tenor 5 tahun dilaporkan meningkat sebesar 11,1%. Pergerakan nilai tersebut menyentuh angka 85,86 pada aktivitas perdagangan pasar utang internasional pada perdagangan hari ini.