Tren Ekbis

Harga BBM Pertamina Terbaru Juni 2026: Siapa Diuntungkan?

  • Update harga BBM Pertamina 1 Juni 2026: diesel turun, Pertamax Turbo naik, subsidi tetap. Cek tabel lengkap dan penjelasannya di sini.
Pertamax Turun Harga - Panji 2.jpg
Petugas tengah mengganti papan harga BBM di sebuah SPBU kawasan Kebun Jeruk Jakarta Barat. PT Pertamina hari ini 3 Januari 2023 pukul 14.00 menurunkan harga Pertamax,Pertamax Turbo dan Pertamina Dex. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA TRENASIA.ID - PT Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga sejumlah bahan bakar minyak nonsubsidi mulai 1 Juni 2026. Dexlite turun dari Rp 26.000 menjadi Rp 23.000 per liter, Pertamina Dex turun dari Rp 27.900 menjadi Rp 24.800 per liter, sementara Pertamax Turbo naik Rp 850 menjadi Rp 20.750 per liter.

Harga BBM subsidi tidak ikut berubah. Pertalite tetap Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter. Perubahan bulan ini terbilang tidak biasa karena BBM diesel justru turun di tengah tekanan harga minyak dunia yang masih di atas US$ 100 per barel sepanjang Mei. 

Tabel Harga BBM Pertamina Juni 2026 (Jabodetabek)

ProdukMei 2026Juni 2026Perubahan
Pertalite (RON 90)Rp 10.000Rp 10.000Tetap
Biosolar SubsidiRp 6.800Rp 6.800Tetap
Pertamax (RON 92)Rp 12.300Rp 12.300Tetap
Pertamax Green 95Rp 12.900Rp 12.900Tetap
Pertamax Turbo (RON 98)Rp 19.900Rp 20.750+Rp 850
Dexlite (CN 51)Rp 26.000Rp 23.000-Rp 3.000
Pertamina Dex (CN 53)Rp 27.900Rp 24.800-Rp 3.100

Kenapa Diesel Turun Saat Minyak Masih Mahal

Di atas kertas, kondisi bulan ini seharusnya mendorong semua harga BBM naik. Rata-rata harga minyak Brent sepanjang Mei 2026 tercatat di US$ 103,71 per barel, naik 1,22% dari bulan sebelumnya, sementara WTI rata-rata di US$ 98,42 per barel. 

Rupiah pun tertekan 3,24% terhadap dolar AS sepanjang Mei dan ditutup di Rp 17.865 per dolar pada akhir bulan. Dua variabel itu biasanya jadi alasan harga BBM naik. Tapi justru sebaliknya yang terjadi untuk diesel.

Kuncinya ada di dinamika akhir Mei. Minyak mentah Brent mencatatkan penurunan lebih dari 19% sepanjang Mei, performa bulanan terburuk dalam enam tahun terakhir sejak awal pandemi Maret 2020, seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan perdamaian Amerika Serikat dan Iran. 

Penurunan tajam di pekan terakhir itulah yang membuat rata-rata harga referensi untuk perhitungan Juni lebih rendah dari angka harian yang beredar di berita. Formula penetapan harga BBM pemerintah menggunakan rata-rata Mean of Platts Singapore (MOPS) periode tertentu, bukan harga spot hari ini. 

Hasilnya, penurunan tajam minyak diesel global di akhir Mei langsung tercermin dalam harga Dexlite dan Pertamina Dex bulan ini.

Siapa yang Paling Merasakan Selisih Rp 3.000

Penurunan Dexlite Rp 3.000 per liter terdengar kecil untuk pengendara harian. Tapi untuk segmen yang konsumsinya tinggi, selisih itu lumayan nyata.

SUV diesel seperti Fortuner dan Pajero Sport direkomendasikan menggunakan Pertamina Dex karena kandungan sulfurnya di bawah 50 ppm. Dengan tangki 80 liter, sekali isi penuh kini lebih hemat sekitar Rp 248.000 dibanding bulan lalu. Detik

Dampak yang lebih besar justru ada di sektor logistik dan transportasi barang. Truk angkutan dengan konsumsi 200 liter per hari bisa menghemat hingga Rp 600.000 per hari jika beralih ke Dexlite, atau sekitar Rp 18 juta per bulan per unit. Di industri pengiriman dan distribusi, ini bukan angka kecil.

Pertalite Tidak Berubah, Tapi Tekanan Belum Selesai

Bagi mayoritas pengendara motor dan mobil kecil, harga bulan ini tidak berubah sama sekali. Pertalite tetap Rp 10.000 per liter dan belum ada sinyal pemerintah akan menyesuaikannya dalam waktu dekat.

Yang perlu dicermati justru arah harga minyak ke depan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama seputar Selat Hormuz, membuat pasar minyak sulit tenang. Jika negosiasi AS-Iran kembali buntu, harga minyak bisa melompat lagi dalam hitungan hari, dan formula perhitungan BBM bulan depan akan berubah drastis. 

Rupiah juga masih jadi variabel yang belum stabil. Selama tekanan fiskal domestik belum mereda, nilai tukar akan tetap jadi faktor risiko yang membayangi setiap siklus penyesuaian BBM bulanan.