Tren Ekbis

Fakta GIIA-GMFI: Ketika Kinerja Anak BUMN Tumbuh, Induknya Justru Rugi

  • GMFI mencatat laba US$33,9 juta pada 2025, tumbuh 26,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, Garuda Indonesia membukukan rugi Rp5,46 triliun.
Pemerintah Diskon Tiket Pesawat 30 Persen dan Nihilkan Pajak Hotel di 10 Daerah

JAKARTA, TRENASIA.ID – Kinerja keuangan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) dan induknya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), menunjukkan perbedaan tajam sepanjang tahun buku 2025. 

Di tengah tekanan keuangan yang membayangi maskapai nasional tersebut, GMFI justru mencatat pertumbuhan laba bersih sekaligus memperbaiki posisi ekuitas dari negatif menjadi positif.

Berdasarkan data kinerja yang dihimpun, GMFI membukukan laba bersih sebesar US$33,9 juta atau sekitar Rp570 miliar pada 2025. Capaian ini meningkat 26,3% dibandingkan US$26,9 juta pada 2024.

Sebaliknya, Garuda Indonesia mencatat kerugian bersih sebesar US$322,48 juta atau sekitar Rp5,46 triliun pada 2025. Kerugian tersebut membengkak 343,5% dibandingkan rugi US$72,70 juta pada tahun sebelumnya.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa bisnis perawatan, perbaikan, dan pemeriksaan pesawat atau maintenance, repair, and overhaul (MRO) yang dijalankan GMFI memiliki dinamika kinerja berbeda dari bisnis penerbangan komersial Garuda Indonesia.

Meski demikian, perbandingan laba kedua perusahaan tidak dapat berdiri sendiri. Perbedaan model bisnis, struktur biaya, sumber pendapatan, serta transaksi korporasi turut memengaruhi kondisi keuangan masing-masing perusahaan.

Baca juga : Sampai Kapan Cadangan Minyak RI Bisa Bertahan?

Kinerja Keuangan GMFI 2025: Pendapatan dan Laba Meningkat

Pertumbuhan laba GMFI pada 2025 ditopang oleh peningkatan pendapatan usaha. Perusahaan mencatat pendapatan sebesar US$491,9 juta atau sekitar Rp8,25 triliun, naik 16,8% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan pertumbuhan pendapatan yang lebih rendah daripada pertumbuhan laba bersih, kinerja tersebut juga mengindikasikan peningkatan margin laba bersih. Berdasarkan angka yang tersedia, margin laba bersih GMFI meningkat dari sekitar 5,5% pada 2024 menjadi 6,9% pada 2025.

Kenaikan margin ini menunjukkan jika laba bersih tumbuh lebih cepat daripada pendapatan. Namun, untuk memastikan faktor yang paling berpengaruh, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap laporan laba rugi, termasuk beban usaha, biaya keuangan, pajak, dan keuntungan atau kerugian nonoperasional.

Dari sisi neraca, total aset GMFI meningkat menjadi US$813 juta atau sekitar Rp13,6 triliun pada akhir 2025. Nilai tersebut tumbuh 91,5% dibandingkan periode sebelumnya.

Peningkatan aset tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan signifikan pada posisi ekuitas perseroan. GMFI yang sebelumnya memiliki ekuitas negatif US$257,9 juta berhasil membalikkan posisi tersebut menjadi positif US$114,6 juta atau sekitar Rp1,92 triliun.

Perubahan ini menjadi salah satu perkembangan penting dalam kondisi keuangan GMFI. Ekuitas positif menunjukkan bahwa nilai aset bersih perusahaan kembali berada di atas nol setelah memperhitungkan kewajiban. Kendati demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta menjamin seluruh persoalan likuiditas dan kewajiban perusahaan telah terselesaikan.

Baca juga : Mesin Di Balik Laba Elnusa (ELSA) yang Terbang 29 Persen

Garuda Indonesia Rugi Rp5,46 Triliun pada 2025

Berbeda dari GMFI, kinerja keuangan Garuda Indonesia masih menghadapi tekanan besar. Maskapai tersebut membukukan rugi bersih US$322,48 juta pada 2025, meningkat tajam dibandingkan kerugian US$72,70 juta pada 2024.

Pembengkakan kerugian ini menunjukkan bahwa perusahaan masih menghadapi tantangan dalam menghasilkan laba bersih. Namun, besarnya kerugian saja belum cukup untuk menyimpulkan penyebab penurunan kinerja. Analisis lebih lanjut perlu melihat pendapatan penerbangan, biaya operasional, beban bahan bakar, biaya perawatan armada, biaya keuangan, serta dampak restrukturisasi yang tercatat dalam laporan keuangan.

Pada akhir Desember 2025, ekuitas Garuda Indonesia tercatat sebesar US$91,91 juta atau sekitar Rp1,5 triliun berdasarkan data yang tersedia. Dengan demikian, ekuitas perseroan masih positif, meskipun ruang penyangga modalnya perlu dicermati di tengah kerugian yang membesar.

Kondisi tersebut berbeda dengan GMFI, yang berhasil memperbaiki posisi ekuitasnya pada periode yang sama. Perbedaan ini menjadi penting karena kesehatan keuangan anak usaha tidak selalu bergerak searah dengan kondisi perusahaan induknya.

Baca juga : Laba ANTM Terbang 46 Persen, Penjualan Nikel Mulai Bergeliat

Mengapa GMFI Mampu Membukukan Laba?

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan perkembangan kinerja GMFI sepanjang 2025, mulai dari penguatan operasional hingga diversifikasi sumber pendapatan.

1. Peningkatan produktivitas dan efisiensi operasional

GMFI menjalankan transformasi operasional dengan fokus pada peningkatan produktivitas, percepatan turnaround time (TAT), penguatan infrastruktur, dan pemenuhan sertifikasi internasional.

Dalam bisnis MRO, turnaround time merujuk pada waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan perawatan pesawat. Proses yang lebih cepat dan terukur dapat membantu meningkatkan kapasitas pengerjaan, mengoptimalkan penggunaan fasilitas, serta memperbaiki pengalaman pelanggan.

2. Inbreng lahan memperkuat struktur permodalan

Perbaikan ekuitas GMFI juga berkaitan dengan aksi korporasi berupa pemasukan aset berupa lahan atau inbreng senilai Rp5,6 triliun.

Secara umum, inbreng merupakan penyetoran modal dalam bentuk aset nonkas. Jika dilakukan melalui penerbitan saham dan memenuhi ketentuan akuntansi yang berlaku, transaksi ini dapat meningkatkan nilai aset dan ekuitas perusahaan.

Dalam konteks GMFI, transaksi tersebut menjadi salah satu faktor penting di balik perubahan posisi ekuitas dari negatif menjadi positif. Meski demikian, kenaikan ekuitas akibat transaksi penyetoran aset perlu dibedakan dari pertumbuhan ekuitas yang berasal dari akumulasi laba usaha.

Artinya, pemulihan posisi ekuitas GMFI tidak hanya perlu dibaca dari sisi profitabilitas, tetapi juga dari perubahan struktur permodalan dan transaksi korporasi yang berlangsung sepanjang tahun.

3. Pendapatan dari pelanggan di luar grup mencapai 28,7%

GMFI juga memiliki sumber pendapatan dari pelanggan di luar kelompok usaha Garuda Indonesia. Sepanjang 2025, pendapatan dari segmen non-group-afiliasi mencapai US$141,3 juta atau sekitar 28,7% dari total pendapatan perusahaan.

Porsi tersebut memperlihatkan bahwa bisnis GMFI tidak sepenuhnya bergantung pada kebutuhan perawatan armada perusahaan dalam grup Garuda.

Diversifikasi pelanggan penting bagi perusahaan MRO karena dapat memperluas pasar, meningkatkan utilisasi fasilitas, dan mengurangi ketergantungan pada satu kelompok pelanggan. 

4. Bisnis non-pesawat komersial tumbuh 59,9%

Selain melayani perawatan pesawat komersial, GMFI mengembangkan lini bisnis lain, termasuk Defense Industry, Industrial Solutions, dan Power Services.

Gabungan lini bisnis non-pesawat komersial tersebut tumbuh 59,9% menjadi US$36,7 juta pada 2025. Diversifikasi ini berpotensi memperluas sumber pendapatan GMFI di luar siklus industri penerbangan komersial. 

Meski begitu, kontribusi setiap segmen terhadap pendapatan dan laba perlu diperiksa lebih lanjut sebelum menyimpulkan bahwa lini tersebut menjadi pendorong utama pertumbuhan profitabilitas.

5. Mempertahankan pelanggan dan memperluas pasar internasional

GMFI juga mempertahankan pelanggan internasional, termasuk Korean Air, Vietjet Air, dan Cebu Pacific, serta menambah pelanggan baru seperti One Air, Air Swift, dan Texel Air berdasarkan informasi yang tersedia.

Keterlibatan pelanggan internasional dapat memperluas pasar jasa perawatan pesawat dan membuka peluang peningkatan pemanfaatan fasilitas perusahaan.

Namun, dampak komersial dari penambahan pelanggan akan bergantung pada nilai kontrak, jenis layanan, durasi kerja sama, dan realisasi pekerjaan. Nama pelanggan saja belum cukup untuk mengukur besarnya kontribusi terhadap pendapatan.