Ekonomi Haji dan Umrah Tembus Rp100 T, Pengusaha RI Incar Pasar Timur Tengah
- JAKARTA, TRENASIA.ID – Transformasi ekonomi dan pariwisata di Timur Tengah membuka peluang besar bagi pelaku usaha Indonesia. Momentum tersebut akan mengemuka

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Transformasi ekonomi dan pariwisata di Timur Tengah membuka peluang besar bagi pelaku usaha Indonesia. Momentum tersebut akan mengemuka dalam dua ajang internasional yang digelar di Jakarta, yakni Hajj Umrah International Tourism Mart (HUITM) 2026 pada 23 Juni 2026 dan The 16th Umrah & Hajj International Tourism Fair 2026 pada 24 Juni 2026.
Kedua pameran tersebut menjadi pintu masuk strategis bagi pengusaha nasional untuk bertemu langsung dengan pembeli (buyer), investor, dan mitra bisnis dari Timur Tengah, Asia, hingga Eropa melalui forum business-to-business (B2B).
Potensi ekonomi yang ditawarkan tidak kecil. Nilai ekosistem haji dan umrah Indonesia diperkirakan telah melampaui Rp100 triliun, sementara peluang ekspor produk makanan, rempah, dan bumbu siap saji ke sektor hotel, restoran, dan katering (HoReKa) Timur Tengah diperkirakan mencapai Rp50 triliun hingga Rp60 triliun per tahun.
Pakar Logistik sekaligus Pengurus Bidang Legislasi Luar Negeri Ikatan Alumni National Hotel Institute (IKA NHI), Andi Rene Rohadian, mengatakan peluang logistik Indonesia ke Timur Tengah jauh lebih besar dibanding sekadar memenuhi kebutuhan jemaah haji dan umrah.
Menurutnya, pasar Timur Tengah juga membutuhkan pasokan berkelanjutan untuk ratusan restoran Indonesia yang beroperasi di kawasan tersebut.
Data Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mencatat terdapat 1.221 restoran Indonesia yang tersebar di 67 negara. Arab Saudi menjadi salah satu negara dengan jumlah restoran Indonesia terbesar, diikuti negara-negara Teluk lainnya seperti Uni Emirat Arab (UAE), Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Tingginya jumlah restoran tersebut mendorong kebutuhan pasokan bahan baku dan bumbu siap saji dalam jumlah besar. Namun, tantangan utama masih berasal dari biaya logistik yang relatif tinggi.
Saat ini biaya pengiriman kontainer dari Jakarta ke Jeddah berkisar antara USD2.000 hingga USD4.500 dengan waktu transit sekitar 25 hingga 40 hari. Sementara itu, pengiriman ke Dubai berada pada kisaran USD900 hingga USD1.500 untuk kontainer 20 kaki dan USD1.500 hingga USD2.800 untuk kontainer 40 kaki.
Biaya tersebut berpotensi meningkat akibat fluktuasi harga energi global dan dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Saudi Vision 2030 Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Peluang pasar semakin terbuka lebar seiring implementasi Saudi Vision 2030 yang menargetkan 150 juta wisatawan per tahun pada akhir dekade ini.
Pada 2025, Arab Saudi telah mencatat sekitar 123 juta kunjungan wisatawan dengan total belanja pariwisata mencapai SR300 miliar atau setara USD81 miliar. Pertumbuhan tersebut menciptakan permintaan besar terhadap sektor hospitality, katering, logistik, hingga tenaga kerja terampil.
Mantan Restaurant General Manager McDonald's sekaligus pengurus IKA NHI, Wisnu Aji Nugroho, menilai perubahan struktur ekonomi Timur Tengah dari ketergantungan pada sektor minyak dan gas menuju pariwisata menjadi peluang yang harus segera dimanfaatkan Indonesia.
Menurut Wisnu, pemerintah daerah perlu memperkuat sektor bahan baku, industri pengolahan makanan, bumbu siap saji, logistik, hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM) pariwisata agar mampu masuk ke rantai pasok global Timur Tengah.
Selain produk pangan, peluang bisnis juga terbuka pada sektor perlengkapan ibadah, jasa logistik, hingga penyediaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) terampil untuk industri hotel dan katering di Arab Saudi.
Kampung Haji Indonesia Jadi Pasar Baru
Potensi ekonomi semakin besar dengan rencana pengembangan Kampung Haji Indonesia di Makkah. Proyek bernilai sekitar USD1,2 miliar atau setara Rp20 triliun tersebut diproyeksikan memiliki 6.025 kamar dengan kapasitas lebih dari 23.000 jemaah.
Kawasan tersebut juga akan dilengkapi pusat perbelanjaan, klinik kesehatan, food court, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya yang membutuhkan pasokan logistik dan pangan secara berkelanjutan.
Dengan jumlah jemaah Indonesia yang rata-rata mencapai 2 juta orang setiap tahun, kebutuhan dapur, bahan makanan, rempah-rempah, hingga bumbu masak siap saji diperkirakan menjadi pasar bernilai besar bagi pelaku usaha nasional.
Wisnu menilai tingginya biaya logistik yang selama ini menjadi kendala dapat diatasi melalui keterlibatan berbagai pihak, termasuk Danantara pada sektor logistik dan aviasi serta InJourney pada pengembangan ekosistem pariwisata.
Ia juga merekomendasikan agar pengiriman logistik ke Timur Tengah lebih banyak dilakukan di luar musim haji sehingga dapat menciptakan arus bisnis yang berjalan sepanjang tahun.
Momentum Daerah Menembus Pasar Global
Bagi pemerintah daerah, momentum ini menjadi kesempatan untuk mendorong produk unggulan daerah, rempah-rempah, makanan olahan, serta tenaga kerja terlatih agar masuk ke pasar Timur Tengah melalui jalur yang resmi dan berkelanjutan.
Jaringan luas IKA NHI yang digawangi Andi Rene Rohadian dan Wisnu Aji Nugroho juga siap menjadi jembatan kemitraan antara investor global, pemerintah daerah, dan pelaku usaha Indonesia.
Dengan besarnya kebutuhan sektor pariwisata dan hospitality Timur Tengah, dua pameran internasional yang digelar pada 23–24 Juni 2026 tersebut dinilai dapat menjadi langkah awal bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam transformasi ekonomi halal dunia sekaligus memperkuat ekspor nasional ke pasar global.
