Tren Ekbis

Dunia Masuk Era Penuh Badai, Mampukah Risiko ESG Diredam?

  • World Economic Forum rilis Global Risks Report 2026. Benarkah ketegangan geopolitik dan perang dagang menutupi ancaman nyata dari krisis lingkungan?
Ilustrasi-bibit-pohon-Pexels-1-1024x573.jpg
ESG dan Transisi Energi (Dok/Ist)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Prospek global jangka panjang dinilai semakin suram di tengah ketegangan geoekonomi yang menyedot perhatian dunia saat ini. Laporan terbaru dari World Economic Forum menegaskan bahwa risiko lingkungan tetap mendominasi peringkat ancaman sistemik terbesar di masa depan nanti.

Global Risks Report edisi terbaru menunjukkan gambaran dunia yang kian pesimistis akibat rivalitas antarnegara yang menghambat kerja sama. "Untuk periode dua tahun ke depan, 50% pakar memperkirakan dunia akan berada dalam kondisi yang cukup bergejolak," ujar Saadia Zahidi, Managing Director World Economic Forum dalam Radio Davos dikutip pada Jumat, 13 Februari 2026.

Dalam horizon sepuluh tahun ke depan, sebanyak 57% pakar menilai situasi global akan penuh gejolak dan badai. Memburuknya persepsi ini mencerminkan kekhawatiran mendalam bahwa krisis lingkungan dan sosial akan menjadi ancaman struktural yang sulit dimitigasi secara mandiri.

1. Dominasi Risiko Lingkungan

Meskipun risiko lingkungan sempat turun peringkat karena dominasi isu geoekonomi jangka pendek, laporan menegaskan realitas yang sama sekali berbeda. Dalam horizon sepuluh tahun, risiko lingkungan kembali menduduki posisi teratas sebagai ancaman terbesar bagi stabilitas perekonomian dunia nantinya.

Ancaman utama yang disoroti meliputi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, hilangnya keanekaragaman hayati secara masif, serta perubahan bumi. Risiko-risiko kelestarian alam ini dinilai bersifat sangat struktural dan memiliki dampak sistemik yang luas terhadap perekonomian seluruh negara.

Pesimisme terhadap kemampuan dunia mengatasi masalah ini terlihat sangat jelas dalam data survei para pakar ekonomi tersebut. Responden yang memperkirakan kondisi global akan stabil dalam satu dekade ke depan hanya berkisar 9% hingga 10% dari total responden.

2. Hambatan Rivalitas Geopolitik

Laporan tersebut menyoroti bahwa dunia tengah memasuki apa yang disebut sebagai potensi era kompetisi baru yang sangat ketat. Meningkatnya rivalitas antarnegara dalam memperebutkan sumber daya dan supremasi teknologi menjadi hambatan utama bagi pelaksanaan agenda lingkungan global bersama.

Kondisi persaingan yang menajam ini dinilai berpotensi besar memperumit kerja sama global yang sangat dibutuhkan saat ini. Padahal, penanganan perubahan iklim dan degradasi lingkungan membutuhkan koordinasi lintas negara yang solid dan komitmen politik kuat dari semua pihak.

Keretakan ini secara langsung mempersulit tercapainya konsensus global dalam menerapkan standar keberlanjutan seragam dan target penurunan tingkat emisi. "Tatanan multilateral yang selama ini mendorong kemajuan dunia mulai mengalami tekanan dan keretakan," kata Saadia Zahidi dalam penjelasan resminya.

3. Ancaman Krisis Multi Dimensi

Forum ekonomi global menekankan adanya pergeseran paradigma mendasar dalam memandang berbagai isu lingkungan di sektor bisnis modern. Risiko lingkungan kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai isu tanggung jawab sosial, melainkan telah bertransformasi menjadi ancaman kerugian finansial perusahaan.

Perubahan tersebut dipicu oleh berbagai risiko lintas kategori yang meliputi sosial, ekonomi, teknologi, geopolitik, serta ancaman kelestarian alam. "Begitu banyak jenis risiko di lima kategori yang kami analisis terjadi pada saat yang sama," ucap Zahidi menegaskan temuan laporannya.

Dampak langsung terhadap aset fisik dan kelancaran operasi bisnis membuat faktor kelestarian lingkungan menjadi variabel krusial. Kegagalan korporasi dalam mengelola risiko alam dapat berujung pada kerugian materiil yang sangat besar dan mengancam stabilitas kelangsungan hidup perusahaan modern.

4. Distraksi Konfrontasi Geoekonomi

Dalam jangka pendek, perhatian dunia masih tersedot oleh tingginya risiko konfrontasi geoekonomi yang menjadi fokus utama. Kenaikan tarif perdagangan internasional dan kebijakan proteksionisme yang marak membuat pemerintah serta pelaku bisnis sibuk mengamankan kepentingan pertahanan ekonomi nasional mereka.

Kekhawatiran global ini mencakup pembatasan arus investasi langsung asing yang menjadi tumpuan bagi pertumbuhan banyak negara berkembang. "Tarif saat ini tetap lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, dan itulah mengapa risiko ini melonjak ke peringkat teratas," papar Zahidi membeberkan faktanya.

Fokus pada hambatan perdagangan ini berisiko mendistraksi perhatian dari alokasi sumber daya untuk transisi ekonomi hijau. Negara berkembang yang amat membutuhkan pendanaan penanggulangan iklim menjadi pihak yang paling rentan terdampak oleh panasnya ketegangan antarkekuatan ekonomi utama dunia.

5. Urgensi Mitigasi Lingkungan Dini

Tujuan utama dari publikasi inisiatif laporan risiko global ini adalah mendorong tindakan preventif nyata yang lebih segera. Fokus utama harus selalu diarahkan pada upaya berkelanjutan guna meningkatkan ketahanan terhadap guncangan lingkungan sekaligus memperkuat fondasi kerja sama multilateral internasional.

Kerja sama antarbangsa menjadi satu-satunya solusi yang paling logis untuk meminimalisir dampak kerugian ekologis sistemik bumi. "Tujuan dari inisiatif risiko ini adalah agar kita bisa mulai melakukan persiapan sejak sekarang, meningkatkan ketahanan, dan memperkuat kerja sama," tambah Zahidi.

Laporan ini menjadi peringatan keras bahwa menunda aksi pelestarian iklim demi kepentingan geopolitik akan membawa konsekuensi bencana. Memperkuat kerja sama multilateral adalah satu-satunya jalan untuk memitigasi risiko lingkungan yang memiliki sifat ancaman destruktif lintas batas negara masa depan.