Sengsara di Amerika, Huawei Juara di Kampung Halaman
- Para konsumen di China berduyun-duyun membeli perangkat Huawei ketika raksasa teknologi China itu menghadapi badai di AS dan negara lain. Badai tersebut...

Acep Saepudin
Author


Para konsumen di China berduyun-duyun membeli perangkat Huawei ketika raksasa teknologi tersebut menghadapi badai karena diblokir di Amerika Serikat (AS) dan negara lain. Akibatnya Huawei tidak dapat menyematkan Android versi terbaru pada ponsel cerdas Mate 30 terbarunya.
Data baru perusahaan riset Canalys menyebutkan, Huawei mendistribusikan sebanyak 41,5 juta smartphone di China pada kuartal ketiga. Jumlah tersebut mewakili pertumbuhan 66% dari tahun ke tahun. Raksasa teknologi China tersebut menguasai 42% pasar ponsel pintar China secara keseluruhan. Kenaikan ini jauh melampaui Apple, dan pesaing lokal seperti Vivo, Oppo dan Xiaomi.
"Huawei membuka celah besar antara dirinya dengan vendor lain," kata Nicole Peng, VP mobilitas Canalys. "Posisi dominannya memberi Huawei kemampuan untuk bernegosiasi dengan rantai pasokan dan meningkatkan pangsa pasar dengan mitra penyalurnya."
Menurut Peng, pada kuartal ketiga Huawei saat ini meraih rekor pangsa pasar ponsel cerdas China saat pengiriman perangkatnya melonjak melewati para pesaingnya.
Namun, pada Rabu Canalys menyebutkan, pasar ponsel pintar China masih tetap "suram". Di mana pengiriman secara keseluruhan menyusut 3% dibanding tahun sebelumnya. Apple, penjual smartphone terbesar ketiga di dunia, menyebutkan tentang lemahnya permintaan smartphone di China awal tahun ini.
Apple mempertahankan posisinya sebagai penjual smartphone kelima terbesar di China, menurut Canalys. Penelitian menemukan fakta iPhone 11 menyumbang hampir 40% dari pengiriman kuartal ketiga Apple di wilayah tersebut. Analis mengamati dengan seksama prospek Apple untuk pasar China. Hal itu terutama ketika perusahaan ini merilis laporan pendapatan setelah tutup pasar pada hari Rabu.
Mengancam Keamanan Nasional Amerika Serikat
Para pejabat AS mengatakan teknologi yang dimiliki Huawei dapat menimbulkan risiko keamanan nasional yang berpotensi membuka celah bagi mata-mata Tiongkok.
Mereka merujuk pada undang-undang Tiongkok yang diduga mengharuskan setiap perusahaan domestik membantu mengumpulkan data intelijen jika Beijing memintanya.
Sedangkan Huawei telah berulang kali membantah terlibat dalam segala bentuk spionase atau memberikan data kepada pemerintah Tiongkok.
