Tren Ekbis

Damai AS-Iran Hari Ini, Bisakah Harga BBM dan Barang Impor Turun?

  • Damai AS-Iran dan dibukanya Selat Hormuz mendorong penguatan rupiah, kenaikan IHSG, serta penurunan harga minyak yang berpotensi menekan inflasi
Pertamax Turun Harga - Panji 2.jpg
Petugas tengah mengganti papan harga BBM di sebuah SPBU kawasan Kebun Jeruk Jakarta Barat. PT Pertamina hari ini 3 Januari 2023 pukul 14.00 menurunkan harga Pertamax,Pertamax Turbo dan Pertamina Dex. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diumumkan pada Senin, 15 Juni 2026, membawa kabar baik bagi Indonesia. 

Kesepakatan yang mengakhiri konflik di Timur Tengah dan membuka kembali Selat Hormuz langsung memicu penguatan rupiah, kenaikan pasar saham, serta penurunan harga minyak dunia.

Bagi masyarakat, dampaknya tidak hanya terlihat di pasar keuangan. Jika kondisi ini bertahan, harga BBM nonsubsidi berpotensi turun, tekanan inflasi dapat mereda, dan biaya impor berbagai barang menjadi lebih murah.

"Setelah pembicaraan intensif, kami dengan senang hati mengumumkan bahwa Kesepakatan Damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah TERCAPAI," kata Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif dalam pengumumannya di media sosial X.

Mengapa Perdamaian AS-Iran Penting bagi Indonesia?

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ketika konflik terjadi dan jalur tersebut terganggu, harga minyak global biasanya melonjak karena pasar khawatir terhadap pasokan energi.

Kini, setelah kesepakatan damai tercapai dan Selat Hormuz kembali dibuka, kekhawatiran pasar berkurang. Akibatnya, harga minyak dunia langsung mengalami penurunan.

Bagi Indonesia yang masih mengimpor minyak mentah dan BBM, penurunan harga minyak dunia dapat membantu mengurangi biaya energi dan tekanan terhadap anggaran negara.

Baca juga : Membaca Work-Life Balance dari Perspektif Andre Gorz

IHSG Langsung Naik

Pasar saham Indonesia menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari meredanya ketegangan geopolitik tersebut.

Pada perdagangan Senin pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak lebih dari 3% dan sempat menembus level 6.200. Penguatan ini didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah ancaman konflik di Timur Tengah mereda.

Investor asing juga kembali masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena kondisi global dianggap lebih stabil dibandingkan beberapa bulan terakhir.

Bagi masyarakat yang memiliki investasi saham, reksa dana saham, atau dana pensiun yang ditempatkan di pasar modal, kenaikan IHSG berpotensi meningkatkan nilai portofolio investasi mereka.

Rupiah Menguat

Selain pasar saham, nilai tukar rupiah juga menguat terhadap dolar Amerika Serikat.

Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.770 hingga Rp17.780 per dolar AS atau menguat sekitar 0,5% dibandingkan penutupan pekan lalu. Penguatan ini terjadi karena investor kembali memburu aset negara berkembang dan kebutuhan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai mulai berkurang.

Rupiah yang lebih kuat dapat membantu menekan biaya impor barang, mulai dari bahan baku industri, produk elektronik, hingga komoditas pangan tertentu yang masih bergantung pada pasar global.

Baca juga : 7 Tanda Kamu Sudah Cerdas dalam Mengelola Uang

Apakah Harga Pertamax Bisa Turun?

Ini menjadi pertanyaan yang paling banyak dicari masyarakat. Setelah perdamaian diumumkan, harga minyak mentah Brent langsung turun lebih dari 4%, dari sebelumnya di atas US$87 per barel menjadi di bawah US$84 per barel.

Jika tren pelemahan harga minyak dunia berlangsung dalam beberapa minggu ke depan, peluang penurunan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax menjadi semakin besar.

Meski demikian, penyesuaian harga BBM biasanya tidak terjadi secara instan karena dipengaruhi rata-rata harga minyak dalam periode tertentu serta kebijakan perusahaan energi.

Apakah Inflasi Bisa Turun?

Harga energi merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi inflasi. Ketika harga minyak turun, biaya transportasi dan distribusi barang berpotensi menjadi lebih rendah. Dalam jangka waktu tertentu, kondisi ini dapat membantu meredakan tekanan harga berbagai kebutuhan masyarakat.

Dengan inflasi yang lebih terkendali, daya beli masyarakat juga berpotensi lebih terjaga. Meski pasar menyambut positif perkembangan ini, proses perdamaian belum sepenuhnya selesai.

Baca juga : Gen Z Mau Daftar CPNS 2026? Ini 5 Persiapan Wajib dan 5 Kesalahan Pendaftar

Kesepakatan yang diumumkan saat ini masih berupa tahap awal dan akan dilanjutkan dengan negosiasi lanjutan dalam 60 hari ke depan, termasuk pembahasan mengenai program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber utama ketegangan.

Artinya, pasar masih akan mencermati perkembangan diplomatik berikutnya sebelum memastikan bahwa risiko geopolitik benar-benar berakhir.

Bagi masyarakat, kabar ini berarti ada harapan terhadap biaya hidup yang lebih terkendali, terutama jika tren harga energi global terus menurun dalam beberapa bulan mendatang.