Cimory dan Kunci Suksesi Menuju Generasi Kedua
- Cimory terus berkembang di bawah generasi kedua keluarga Sutantio. Simak strategi suksesi Bambang Sutantio dan pertumbuhan bisnis CMRY.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Regenerasi kepemimpinan jadi salah satu fase penting dalam perjalanan bisnis keluarga. Hal tersebut juga terjadi di PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) atau Cimory, perusahaan makanan dan minuman yang didirikan oleh Bambang Sutantio pada 2004.
Memasuki usia 60-an, Bambang mulai mengurangi keterlibatan dalam pengelolaan operasional perusahaan dan memberikan ruang lebih besar kepada generasi kedua.
Langkah tersebut tidak berarti Bambang sepenuhnya meninggalkan perusahaan. Ia tetap berada di jajaran manajemen sebagai Presiden Komisaris, sementara tongkat kepemimpinan operasional kini berada di tangan anak-anaknya.
Farell Sutantio menjabat sebagai Presiden Direktur dan CEO, sedangkan Axel Sutantio memegang posisi sebagai Consumer Food CEO.Perubahan tersebut menjadi bagian dari strategi suksesi yang telah dipersiapkan Bambang.
Bagi pendiri Cimory tersebut, keberlanjutan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh modal, produk, maupun ekspansi bisnis, tetapi juga kesiapan generasi penerus.
Baca juga : Kembangkan Bus Listrik, Danantara Guyur VKTR Rp2 Triliun
Bambang Sutantio Pilih Lepas Kendali Secara Bertahap
Bagi seorang founder, melepaskan kendali atas perusahaan yang dibangun dari nol bukan perkara mudah. Namun, Bambang memilih melakukan proses tersebut ketika dirinya masih dapat mengawasi perkembangan bisnis.
Filosofi tersebut berangkat dari pandangan bahwa investasi terbesar dalam bisnis keluarga bukan hanya perusahaan, tetapi juga mempersiapkan anak-anak sebagai generasi penerus.
Dengan memberikan ruang kepada generasi kedua sejak lebih awal, anak-anak tidak hanya menerima perusahaan yang sudah jadi, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk belajar mengambil keputusan dan menghadapi risiko bisnis secara langsung.
Bambang masih berada di perusahaan sebagai Presiden Komisaris. Posisi tersebut membuatnya tetap dapat memberikan arahan dan melakukan pengawasan, sementara pengelolaan bisnis sehari-hari diserahkan kepada generasi berikutnya.
Strategi tersebut juga menghindari ketergantungan perusahaan terhadap satu figur pendiri.
Hanya 30% Bisnis Keluarga Bertahan ke Generasi Kedua
Suksesi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam bisnis keluarga. Sejumlah literatur bisnis keluarga yang mengutip Family Firm Institute (FFI) menyebut sekitar 30% bisnis keluarga mampu bertahan hingga generasi kedua.
Angka tersebut turun menjadi sekitar 12% pada generasi ketiga dan hanya sekitar 3% yang mampu bertahan hingga generasi keempat atau lebih.
Persoalan tersebut tidak selalu berkaitan dengan kemampuan bisnis menghasilkan keuntungan. Salah satu tantangan terbesar justru terletak pada proses pergantian kepemimpinan. Founder yang terlalu lama mempertahankan kendali dapat membuat generasi penerus kesulitan memperoleh ruang untuk mengambil keputusan.
Sebaliknya, pelepasan kendali yang dilakukan secara bertahap dapat memberikan kesempatan bagi generasi kedua untuk belajar sebelum sepenuhnya mengambil alih perusahaan. Pola inilah yang terlihat dalam proses regenerasi di Cimory.
Dalam struktur kepemimpinan terbaru, generasi kedua keluarga Sutantio mulai memegang peran strategis. Farell Sutantio dipercaya sebagai Presiden Direktur & CEO, posisi yang menempatkannya sebagai pemimpin utama dalam pengelolaan perusahaan.
Baca juga : Melemah, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 2 September 2026?
Sementara itu, Axel Sutantio menjalankan peran sebagai Consumer Food CEO, terutama dalam mengembangkan bisnis makanan konsumsi. Di sisi lain, Bambang Sutantio tetap berada di posisi Presiden Komisaris.
Struktur tersebut menunjukkan adanya pemisahan yang semakin jelas antara fungsi pengawasan dan pengelolaan operasional. Dengan demikian, generasi kedua memiliki ruang lebih besar untuk menentukan arah pertumbuhan bisnis, sedangkan pendiri tetap dapat memberikan pengawasan dari level komisaris.
Cimory Melantai di Bursa pada 2021
Peralihan kepemimpinan generasi kedua berlangsung ketika Cimory juga memasuki fase baru sebagai perusahaan terbuka. Pada 6 Desember 2021, PT Cisarua Mountain Dairy Tbk resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham CMRY.
Melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), Cimory berhasil menghimpun dana sekitar Rp3,66 triliun.
Momentum tersebut jadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan perusahaan. Cimory tidak lagi hanya berkembang sebagai bisnis keluarga, tetapi berubah menjadi perusahaan terbuka yang harus mempertanggungjawabkan kinerja kepada pemegang saham publik.
Menariknya, kinerja Cimory pada 2021 juga mengalami pertumbuhan signifikan. Pendapatan bersih perseroan mencapai sekitar Rp4,09 triliun, meningkat 120% secara tahunan. Pada periode yang sama, laba bersih melonjak 346% dari sekitar Rp177 miliar menjadi Rp790 miliar.
Regenerasi di Cimory menarik karena generasi kedua tidak sekadar mempertahankan bisnis yang diwariskan pendiri. Di bawah kepemimpinan generasi kedua, perusahaan melakukan ekspansi produk, memperluas saluran distribusi, memperkuat merek, hingga mengembangkan kategori makanan dan minuman baru.
Salah satu gambaran transformasi tersebut terlihat dari kontribusi produk dan saluran distribusi baru. Lebih dari 80% pendapatan Cimory saat ini disebut berasal dari produk dan channel distribusi yang belum ada pada 2012.
Angka tersebut menunjukkan besarnya perubahan model bisnis Cimory dalam lebih dari satu dekade. Dengan kata lain, generasi kedua tidak hanya berperan sebagai penjaga warisan bisnis Bambang Sutantio. Mereka juga membangun sumber pertumbuhan baru melalui inovasi dan ekspansi.
Baca juga : Analisis dan Insight Harga Emas Antam Hari Ini 2 September 2026
Consumer Foods Jadi Mesin Pertumbuhan Cimory
Cimory saat ini memiliki dua segmen bisnis utama, yaitu Produk Olahan Susu (Dairy) dan Makanan Konsumsi (Consumer Foods).
Pada 2025, segmen Consumer Foods menjadi penyumbang pendapatan terbesar. Segmen tersebut menghasilkan pendapatan sekitar Rp6,65 triliun, tumbuh 29% secara tahunan. Kontribusinya mencapai sekitar 62% dari total pendapatan Cimory.
Sementara itu, segmen Dairy mencatat pendapatan sekitar Rp4,07 triliun, meningkat 5% secara tahunan. Produk Dairy Cimory mencakup berbagai produk seperti susu segar, susu UHT, yogurt drink, yogurt cup, hingga Cimory Squeeze.
Adapun Consumer Foods antara lain ditopang produk seperti Kanzler, termasuk berbagai produk sosis dan makanan olahan. Diversifikasi tersebut membuat Cimory tidak lagi hanya dikenal sebagai produsen yogurt dan susu, tetapi berkembang menjadi perusahaan makanan dan minuman dengan portofolio produk yang lebih luas.
Pertumbuhan bisnis tersebut masih berlanjut hingga semester I 2026. Cimory mencatatkan pendapatan sekitar Rp6,46 triliun pada enam bulan pertama 2026, tumbuh 25,49% secara tahunan.
Laba bersih mencapai sekitar Rp1,17 triliun, meningkat 17,88% yoy. Dari sisi segmen, pendapatan Dairy mencapai sekitar Rp2,77 triliun, melonjak 54,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Consumer Foods mencatat pendapatan sekitar Rp3,68 triliun, tumbuh 10,03% secara tahunan. Total aset perseroan pada semester I 2026 juga meningkat menjadi sekitar Rp9,24 triliun.

Chrisna Chanis Cara
Editor
