China Ingatkan Prancis Agar Tidak Diskriminasi Huawei
- PARIS - Sikap Pemerintah Prancis masih belum jelas terkait apakah akan mengikutsertakan vendor telekomunikasi asal China, Huawei, atau tidak,...

Acep Saepudin
Author


PARIS - Sikap Pemerintah Prancis masih belum jelas terkait apakah akan mengikutsertakan vendor telekomunikasi asal China, Huawei, atau tidak, dalam pengembangan jaringan 5G-nya. Sementara beberapa media massa lokal telah mengabarkan bahwa perusahaan tersebut besar kemungkinan akan mendapatkan pembatasan khusus di beberapa kota.
Saat ini, Prancis masih dalam tahap awal untuk meluncurkan teknologi nirkabel generasi berikutnya atau 5G.
Dikutip dari Reuters, Kedutaan Besar China di Paris pada Minggu (9/2) mendesak pemerintah Prancis agar tidak melakukan diskriminasi terhadap Huawei. Itu karena Prancis berencana memilih pemasok untuk jaringan seluler 5G dengan kemungkinan Huawei tidak masuk dalam pilihan.
Kedubes China menyebutkan dalam keterangan tertulisnya bahwa pihaknya merasa khawatir dengan pemberitaan-pemberitaan media lokal tersebut. Menurutnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron serta para pejabat lainnya telah berulangkali memberikan jaminan bahwa semua perusahaan akan mendapat perlakuan yang adil.
"Jika karena masalah keamanan, dan pemerintah Prancis benar-benar harus memaksakan pembatasan-pembatasan pada operator. Maka, Pemerintah Prancis harus transparan mengenai hal ini dan memperlakukan semua perusahaan secara adil. Dan lagi kekhawatiran akan resiko keamanan tentang Huawei sama sekali tidak berdasar," kata Kedubes China.
Sementara pihak Huawei sendiri belum segera merespon terkait pernyataan Kedubes tersebut begitupun dengan Kementerian Perekonomian Prancis yang menolak untuk berkomentar.
Kedubes China mengatakan bahwa China juga menggunakan perusahaan asing seperti Nokia dari Finlandia. Juga Ericsson dari Swedia, untuk melengkapi jaringan domestiknya.
"Kami tidak ingin melihat perusahaan-perusahaan Eropa di China terkena dampak diskriminasi terhadap Huawei dan dalam proteksionisme di Prancis dan negara-negara Eropa lainnya," lanjut Kedubes China.
Huawei yang merupakan perusahaan raksasa global China dalam peralatan jaringan telekomunikasi, menjadi pusat dari badai politik internasional. Ini terjadi ketika Amerika Serikat (AS) membujuk negara-negara lain agar tidak menggunakan atau membeli peralatan telekomunikasi dari Huawei.
AS masih mengkhawatirkan kemungkinan Huawei digunakan pemerintah China untuk mematai-matai negaranya. Hal ini sudah beberapa kali dibantah baik oleh Huawei maupun pemerintah China.
Sementara Agen Keamanan Siber Prancis, ANSSI, akan mengeluarkan temuan awal bulan ini. ANSSI merupakan badan negara yang meneliti peralatan berteknologi tinggi dari berbagai pemasok. Penelitian ANSSI tersebut untuk menentukan pemasok manakah yang risiko keamanannya lebih kecil.
Di seberang Selat Channel, Inggris telah mengizinkan Huawei ikut andil dalam pembangunan jaringan 5G dengan peran terbatas.
Sementara Uni Eropa telah menolak bujukan AS untuk pelarangan langsung terhadap Huawei dalam panduannya kepada negara-negara anggota. Dalam beberapa hari terakhir negeri Paman Sam menganjurkan para sekutunya untuk membeli saham Nokia dan Ericsson untuk melawan dominasi Huawei dalam teknologi 5G.
