Broke but Busy, Ketika Sudah Kerja Keras Tapi Susah Nabung
- Buku Scarcity : Why Having Too Little Means So Much memperkenalkan konsep bandwidth tax, bahwa kekhawatiran finansial menguras kapasitas kognitif seseorang secara riil.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Fenomena “broke but busy” kini menjadi realita struktural bagi jutaan anak muda Indonesia. Generasi milenial dan Gen Z bekerja lebih keras dibanding generasi sebelumnya, namun justru memiliki tingkat tabungan yang lebih rendah.
Ini bukan sekadar soal gaya hidup atau kebiasaan boros, melainkan mencerminkan tekanan ekonomi yang semakin berat di tengah tuntutan produktivitas yang terus meningkat.
Berbagai faktor struktural menjadi penyebab utama, mulai dari upah yang cenderung stagnan, inflasi aset seperti harga rumah yang melonjak, hingga biaya hidup perkotaan yang terus naik.
Sejumlah literatur ilmiah juga menegaskan bahwa fenomena ini bukan krisis perilaku individu, melainkan krisis sistemik, di mana sistem ekonomi yang ada belum sepenuhnya berpihak pada kemampuan generasi muda untuk membangun stabilitas finansial.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Kamu bekerja 8–10 jam sehari, side hustle jalan, pengeluaran sudah dipangkas, tapi rekening tabungan tetap tipis di akhir bulan. Jika kamu merasakannya, kamu tidak sendirian dan ini bukan kesalahanmu.
Riset dari Pew Research Center (2022) menunjukkan bahwa milenial di negara berkembang menghadapi wealth gap yang lebih lebar dibanding generasi sebelumnya pada usia yang sama, meski jam kerja mereka lebih panjang.
Di Indonesia, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2023 mencatat bahwa kelompok usia 20–34 tahun memiliki rasio tabungan terhadap pendapatan yang paling rendah di antara semua kelompok usia produktif.
Baca juga : 30 Ribu Lowongan Manajer Koperasi, Pijakan Karier atau Proyek Sesaat?
Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, berikut lima alasan masuk akal kenapa generasi muda sekarang susah menabung meski sudah bekerja keras,
1. Upah Riil Stagnan di Tengah Inflasi Biaya Hidup
Kenaikan upah minimum tidak selalu mengimbangi laju inflasi, terutama inflasi di sektor perumahan dan pendidikan.
Studi Chetty (2017) yang diterbitkan di The Quarterly Journal of Economics menemukan bahwa mobilitas ekonomi antargenerasi di kalangan anak muda mengalami penurunan signifikan sejak 1980-an, dan upah riil generasi muda tumbuh jauh lebih lambat dibanding produktivitas mereka.
Di Indonesia, Josua Pardede, ekonom Bank Permata (2023), mencatat bahwa UMP DKI Jakarta naik rata-rata 5–7% per tahun, sementara biaya sewa hunian di Jakarta tumbuh 10–15% per tahun—menciptakan real wage squeeze yang menekan kemampuan menabung.
2. Fenomena "Cost of Living Crisis" yang Tidak Terlihat di Statistik Makro
PDB tumbuh, tapi daya beli anak muda menyusut. Paradoks ini dijelaskan melalui konsep hedonic treadmill dan lifestyle inflation.
Lusardi & Mitchell (2014) dalam jurnal Journal of Economic Literature menunjukkan bahwa rendahnya financial literacy memang berkontribusi pada keputusan menabung yang buruk, namun faktor yang lebih dominan adalah tekanan struktural meliputi harga properti, biaya pendidikan, dan inflasi kebutuhan pokok yang tumbuh lebih cepat dari pendapatan median.
Di Indonesia, biaya kos layak di Jakarta berkisar Rp1,5–3 juta/bulan, yang bisa menyerap 30–50% UMP jauh melampaui batas aman 30% yang direkomendasikan dalam perencanaan keuangan.
3. Gig Economy: Pendapatan Tidak Stabil = Tabungan Tidak Konsisten
Semakin banyak anak muda yang bekerja dalam model kontrak, freelance, atau platform digital. Fleksibilitas ini datang dengan harga: ketidakpastian pendapatan.
Katz & Krueger (2019) dalam American Economic Review menemukan bahwa pekerja dalam alternative work arrangements memiliki tingkat tabungan pensiun yang 40% lebih rendah dibanding pekerja tetap pada tingkat pendapatan yang sama.
Di Indonesia, Asosiasi Gig Economy Indonesia mencatat lebih dari 13 juta pekerja platform aktif pada 2023—dan sebagian besar tidak memiliki akses ke BPJS Ketenagakerjaan secara konsisten, memperparah ketidakmampuan menabung jangka panjang.
4. Utang Konsumtif dan Jebakan BNPL (Buy Now, Pay Later)
Kemudahan akses kredit bukan selalu pertanda kemakmuran seringkali itu adalah tanda tekanan likuiditas. Dalam Journal of Economic Psychology membuktikan bahwa individu dengan kendali diri rendah lebih rentan terjebak dalam utang konsumtif, namun penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa desain produk keuangan yang eksploitatif (seperti cicilan 0% yang menyembunyikan biaya tersembunyi) juga berperan besar.
OJK melaporkan bahwa outstanding pinjaman online di Indonesia mencapai Rp68 triliun pada awal 2024, dengan kelompok usia 19–34 tahun menjadi debitur terbesar mengindikasikan bahwa utang konsumtif kini menjadi pelengkap gaya hidup, bukan lagi anomali.
Baca juga : Ekonomi Tongkrongan: Ketika Teman Bisa Pengaruhi Keuanganmu
5. Mental Load Finansial: Stres Kemiskinan Menguras Kapasitas Kognitif
Ini mungkin faktor yang paling jarang dibahas, namun paling krusial secara ilmiah. Mullainathan & Shafir (2013) dalam buku Scarcity: Why Having Too Little Means So Much memperkenalkan konsep bandwidth tax, bahwa kekhawatiran finansial menguras kapasitas kognitif seseorang secara riil, membuat pengambilan keputusan keuangan jangka panjang menjadi lebih sulit.
Artinya, seseorang yang terus-menerus khawatir soal tagihan akhir bulan secara neurologis lebih sulit membuat keputusan menabung yang optimal bukan karena malas, tetapi karena mental bandwidth mereka sudah terkuras habis untuk bertahan hidup.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Solusi individual mengurangi ngopi dan jajan tidak akan menyelesaikan masalah struktural. Namun dalam batas kendali pribadi, beberapa pendekatan berbasis bukti dapat membantu, diantaranya sebagai berikut,
- Automasi tabungan - Penelitian behavioral economics menunjukkan bahwa sistem opt-out (tabungan otomatis yang harus aktif dinonaktifkan) meningkatkan tingkat tabungan secara signifikan dibanding sistem opt-in. (Thaler & Benartzi, 2004, Journal of Political Economy)
- Rekening terpisah tujuan spesifik - Pemisahan akun untuk tujuan berbeda (mental accounting) terbukti mengurangi pengeluaran impulsif dan meningkatkan disiplin menabung.
- Advokasi kebijakan - Dorong regulasi yang melindungi pekerja gig, perumahan terjangkau, dan literasi keuangan di kurikulum nasional.
Generasi muda Indonesia bukan generasi yang tidak bisa menabung karena tidak mau. Mereka adalah generasi yang bekerja di dalam sistem yang upahnya stagnan, biaya hidupnya melonjak, dan jaring pengamannya berlubang.
Literatur ilmiah sudah menegaskan ini. Yang belum terjadi adalah respons kebijakan yang setara dengan skala masalahnya.

Chrisna Chanis Cara
Editor
