BNGA Cetak CASA Rekor 73,9%, Laba Tumbuh di Tengah Tekanan Suku Bunga
- CIMB Niaga mencatat laba Rp2,27 triliun hingga April 2026. CASA mencapai rekor 73,9%, kualitas aset sehat, dan saham BNGA masih dinilai undervalued.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menunjukkan ketahanan kinerja di tengah tekanan suku bunga tinggi dan persaingan penghimpunan dana yang semakin ketat.
Sepanjang kuartal I-2026 hingga April 2026, bank swasta terbesar kedua di Indonesia ini masih mampu membukukan laba yang relatif stabil, ditopang pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee-based income), kualitas aset yang terjaga, serta rasio dana murah (CASA) yang mencapai level tertinggi dalam sejarah perseroan.
Di sisi pasar modal, saham BNGA juga masih diperdagangkan di bawah estimasi nilai wajarnya, sehingga menarik perhatian investor yang mencari emiten perbankan dengan fundamental kuat dan valuasi relatif murah.
Laba Bersih Stabil Meski Margin Bunga Tertekan
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, CIMB Niaga membukukan laba bersih konsolidasi sebesar sekitar Rp1,76–1,77 triliun pada kuartal I-2026, turun tipis sekitar 2,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, secara bank only, laba bersih mencapai Rp1,73 triliun, meningkat 6,5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Hingga April 2026, laba bersih bank tercatat Rp2,27 triliun, atau tumbuh sekitar 0,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja laba tersebut menunjukkan kemampuan perseroan menjaga profitabilitas meski menghadapi tekanan pada pendapatan bunga bersih.
Ringkasan laba CIMB Niaga
- Laba bersih konsolidasi kuartal I-2026: Rp1,76–1,77 triliun
- Laba bersih bank only kuartal I-2026: Rp1,73 triliun
- Laba bersih hingga April 2026: Rp2,27 triliun
- Pertumbuhan laba hingga April: 0,8% YoY
- EPS (Earnings Per Share): Rp70,20
Baca juga : IHSG 22 Juni 2026 Dibuka Naik 0,49 Persen, Ini Datanya
Net Interest Income Turun Akibat Beban Dana Naik
Seperti yang dialami sebagian besar industri perbankan, CIMB Niaga menghadapi tekanan pada margin bunga akibat tingginya biaya dana (cost of fund). Pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) tercatat sebesar Rp3,22 triliun pada kuartal I-2026, turun sekitar 3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Hingga April 2026, NII mencapai Rp3,87 triliun, masih mengalami penurunan tipis sekitar 1% secara tahunan. Tekanan tersebut terjadi karena: beberapa faktor sebagai berikut,
- Pendapatan bunga turun 8,6% YoY menjadi Rp5,69 triliun
- Beban bunga meningkat 14,78% YoY menjadi Rp2,48 triliun
Kondisi ini menunjukkan persaingan ketat perbankan dalam menghimpun dana masyarakat yang berdampak pada kenaikan biaya bunga.
Di tengah perlambatan pendapatan bunga, CIMB Niaga berhasil memperkuat sumber pendapatan non-bunga. Pendapatan komisi, provisi, dan fee meningkat signifikan sepanjang awal 2026. Pertumbuhan fee-based income,
- Kuartal I-2026: Rp764,60 miliar
- Pertumbuhan: 13,75% YoY
- Hingga April 2026: Rp915,15 miliar
- Pertumbuhan: 20,39% YoY
Pertumbuhan dua digit tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membantu menjaga profitabilitas perusahaan.
Baca juga : Pengusaha AMDK Bersiap Hadapi Pemberlakuan SNI Oktober 2026
Kredit dan Dana Pihak Ketiga Tumbuh Positif
Per 31 Maret 2026, total aset konsolidasi CIMB Niaga mencapai Rp368,2 triliun. Di sisi intermediasi, penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh menjadi Rp235,1 triliun, meningkat 2,2% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit berasal dari berbagai segmen bisnis, yaitu:
Pertumbuhan kredit per segmen :
- Corporate Banking: naik 4,8% YoY
- UKM: naik 1,2% YoY
- Consumer Banking: naik 0,2% YoY
Sementara itu, total dana pihak ketiga (DPK) meningkat menjadi Rp260,1 triliun, tumbuh 2,3% secara tahunan.
CASA Cetak Rekor Tertinggi
Salah satu pencapaian paling menonjol dari CIMB Niaga adalah peningkatan rasio dana murah atau CASA (Current Account Savings Account). Nilai CASA mencapai Rp192,3 triliun, meningkat 12,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan capaian tersebut, rasio CASA mencapai 73,9%, menjadi level tertinggi yang pernah dicatat perseroan.
Komposisi DPK CIMB Niaga
- Giro: Rp101,99 triliun (+19,76% YoY)
- Tabungan: Rp90,33 triliun (+8,47% YoY)
- Deposito: Rp67,52 triliun (-17,74% YoY)
Tingginya CASA menjadi faktor penting karena mampu membantu bank menekan biaya dana dan menjaga profitabilitas jangka panjang.
Di tengah tantangan ekonomi dan tingginya suku bunga, kualitas aset CIMB Niaga tetap berada dalam kategori sehat. Beberapa indikator utama menunjukkan kondisi yang relatif stabil diantaranya sebagai berikut,
- NPL Gross: 1,88%
- NPL Net: 0,74%
- Cost of Credit (CoC): di bawah 1%
- CAR (Capital Adequacy Ratio): 25,3%
- LDR (Loan to Deposit Ratio): 89,2%
Rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,3% menunjukkan CIMB Niaga memiliki ruang yang cukup besar untuk melakukan ekspansi bisnis sekaligus menjaga ketahanan terhadap risiko.
Saham BNGA Masih Diperdagangkan di Bawah Nilai Wajar
Di pasar saham, BNGA bergerak di kisaran Rp1.550–Rp1.615 sepanjang Juni 2026. Berdasarkan data perdagangan terbaru, saham BNGA ditutup pada level Rp1.610 per saham pada 22 Juni 2026. Harga tersebut masih berada di bawah estimasi nilai wajarnya.
Ringkasan valuasi saham BNGA,
- Harga saham: Rp1.610
- Target harga 12 bulan: Rp2.149,65
- Potensi kenaikan (upside): sekitar 29,9%
- GF Value: Rp1.829,06
- Posisi terhadap GF Value: diskon sekitar 12%
- Harga tertinggi 52 minggu: Rp1.920
- Harga terendah 52 minggu: Rp1.460
Valuasi tersebut menunjukkan saham BNGA masih berada dalam kategori menarik bagi investor yang mengutamakan fundamental dan potensi pertumbuhan jangka panjang.
Investor kawakan Indonesia, Lo Kheng Hong, tercatat masih menjadi salah satu pemegang saham publik terbesar BNGA. Per akhir Mei 2026, kepemilikannya di BNGA mencapai,
- 45,90 juta saham
- Setara 0,18% kepemilikan
- Menempati posisi pemegang saham terbesar keenam
Keberadaan investor nilai (value investor) seperti Lo Kheng Hong sering menjadi perhatian pasar karena dikenal fokus pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: AMRT dan INCO Naik, MBMA Turun
Memasuki paruh kedua 2026, tantangan utama CIMB Niaga masih berasal dari tekanan margin bunga akibat tingginya biaya dana dan kompetisi penghimpunan likuiditas di sektor perbankan. Namun demikian, sejumlah faktor diperkirakan dapat menjadi penopang kinerja perseroan, antara lain,
- Rasio CASA yang mencapai rekor tertinggi
- Pertumbuhan fee-based income yang konsisten dua digit
- Kualitas aset yang tetap sehat
- Modal yang sangat kuat dengan CAR di atas 25%
- Potensi ekspansi kredit seiring perbaikan aktivitas ekonomi
Dengan kombinasi fundamental yang solid, profitabilitas yang relatif stabil, serta valuasi yang masih berada di bawah estimasi nilai wajarnya, BNGA menjadi salah satu saham perbankan yang layak diperhatikan investor pada 2026.

Muhammad Imam Hatami
Editor
