Tren Ekbis

Banyak Saran Invest Saham,Tapi Kenapa Mayoritas Malah Rugi?

  • Euforia investasi saham terus meningkat, namun data menunjukkan sebagian besar investor ritel justru tertinggal dari indeks pasar.
Ilustrasi Pengamatan IHSG - Panji 4.jpg
Ilustrasi pengamatan IHSG. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Mayoritas investor ritel secara global rugi atau tertinggal jauh dari indeks pasar. Studi longitudinal PiP World atas 8 juta trader dan 295 juta transaksi selama 27 tahun menemukan bahwa 74 hingga 89% investor ritel rugi dalam setiap periode volatilitas besar. 

Angka itu tidak berubah selama hampir tiga dekade. Di Indonesia, kondisinya tidak jauh berbeda: IHSG naik 6,3 persen di kuartal pertama 2024, tapi lebih dari 54 persen saham justru turun atau stagnan di periode yang sama.

Buka aplikasi investasi mana saja, kontennya hampir seragam, 'mulai dari Rp10 ribu', 'uang bekerja untuk kamu', 'jangan cuma nabung, invest'. Influencer keuangan tumbuh subur, seminar saham penuh, jumlah investor di Indonesia mencapai lebih dari 15,5 juta per awal 2025 menurut KSEI, dengan investor ritel mendominasi 99,7%.

Pertanyaannya sederhana, kalau saham itu mudah dan menguntungkan, kenapa mayoritas yang masuk justru rugi?

Realita yang Jarang Disuarakan

PiP World mempublikasikan studi longitudinal terbesar dalam sejarah perdagangan ritel pada 2025, 8 juta trader, 295 juta transaksi, rentang waktu 27 tahun.

Kesimpulannya satu, tingkat kegagalan tidak berubah. Antara 74 hingga 89% investor ritel rugi di setiap periode volatilitas besar. Tidak peduli seberapa berkembangnya teknologi, seberapa mudahnya akses, atau seberapa banyaknya konten edukasi keuangan.

Di level pasar, Dalbar Inc. menemukan rata-rata investor ritel tertinggal dari indeks S&P 500 sebesar 6,1 persen per tahun selama 20 tahun. Di 2023, gap itu bahkan melebar. 

Penyebabnya bukan kurang pintar, investor cenderung menjual saat pasar jatuh dan masuk lagi saat sudah naik, pola yang memastikan mereka selalu terlambat.

Baca juga : Jakarta Dikuasai Anak Muda, Tapi Sebagian 'Putus Asa'

Di Indonesia, kondisi ini berlapis, data BEI 2024 menunjukkan pada kuartal pertama, IHSG naik 6,3%. Tapi lebih dari 54% saham justru turun atau stagnan di periode yang sama. 

IHSG naik tidak berarti portofolio kamu naik, kenaikan indeks sering terkonsentrasi di segelintir saham besar, sementara mayoritas saham bergerak ke arah berbeda.

Pelajaran dari Crash Januari 2026

Tidak ada contoh lebih jelas dari peristiwa Januari 2026. Tanggal 20 Januari 2026, IHSG mencetak all-time high menembus level 9.000. Euforia merata, Platform Stockbit Sekuritas Digital mencatat transaksi mingguan Rp40,4 triliun dengan frekuensi 12,6 juta kali pada pekan puncaknya.

Delapan hari kemudian, 28 Januari 2026, IHSG ambruk 7,35% ke level 8.320 dalam satu hari perdagangan. Trading halt diaktifkan, pemicunya satu pengumuman dari MSCI soal pembekuan sementara rebalancing indeks akibat kekhawatiran transparansi free float. Investor yang masuk di puncak euforia langsung tercekik.

Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden, menyatakan terbuka bahwa banyak investor ritel menanggung kerugian signifikan dari kejadian ini. Angka yang lebih mengkhawatirkan, setelah crash, aktivitas investor ritel di platform digital turun drastis dari puncaknya, tanda yang konsisten dengan pola global, masuk saat euforia, keluar setelah rugi.

Baca juga : Gaji 10 Juta Berasa Miskin? Bisa Cek 3 Pengeluaran Gaib Ini

Tiga Alasan Struktural yang Jarang Dibahas

1. Investor ritel selalu ketinggalan informasi

Sebagian besar investor ritel Indonesia mengambil keputusan berdasarkan broker summary yang datanya sudah tertinggal hingga 16 jam. Smart money bergerak berdasarkan data real-time. 

Ketika volatilitas meledak, ritel selalu jadi pihak paling lambat keluar dan paling cepat rugi. Ini bukan soal kecerdasan, ini soal asimetri informasi yang sistemik.

2. IHSG naik bukan berarti semua saham naik

Kenaikan indeks sering didorong rotasi sektor, bukan pergerakan merata. Di awal 2024, sektor keuangan naik 9,8 persen, tapi sektor properti dan konsumer masih terkoreksi. 

Investor yang memegang saham properti tidak merasakan efek apapun dari kenaikan IHSG. Ini yang Barber dan Odean (2000) sebut salah waktu, bukan salah saham.

3. Emosi mengalahkan strategi

Studi PiP World menyebutnya 'emotional self-sabotage': siklus empat fase yang selalu berulang, panic buying di puncak, panic selling di bawah, menyalahkan pasar, lalu kembali lagi saat kondisi membaik. Pola ini tidak berubah selama 27 tahun meski aplikasinya berganti, kontennya bertambah, dan investornya semakin muda.

Data yang Perlu Kamu Tahu

  • 8,46 juta investor saham di Indonesia per akhir 2025, tumbuh 32,6% YoY (KSEI, 2025)
  • 99,7% dari 15,5 juta investor pasar modal adalah investor ritel (KSEI, awal 2025)
  • 74-89% investor ritel rugi dalam setiap periode volatilitas besar selama 27 tahun (PiP World, 2025)
  • Rata-rata investor ritel tertinggal dari S&P 500 sebesar 6,1% per tahun selama 20 tahun (Dalbar Inc.)
  • 80% day trader keluar dari pasar dalam dua tahun pertama (Bloomberg Intelligence)
  • IHSG naik 6,3% di Q1 2024, tapi 54% saham justru turun atau stagnan (BEI Quarterly Report, 2024)
  • IHSG crash 7,35% pada 28 Januari 2026 dipicu MSCI freeze, investor ritel jadi pihak paling lambat keluar
  • 40% individu global tidak berinvestasi karena takut rugi (WEF Global Retail Investor Outlook, 2024)