Bank Digital Tak Cukup Punya Aplikasi, Ekosistem Jadi Kunci Persaingan
- Bank digital tak lagi hanya mengandalkan aplikasi. Ekosistem, kemitraan, dan integrasi layanan menjadi strategi baru merebut aktivitas pengguna.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Persaingan bank digital di Indonesia memasuki fase baru. Kemudahan membuka rekening dan layanan perbankan melalui aplikasi kini semakin menjadi standar industri. Di tengah perubahan tersebut, bank digital mulai mencari sumber pertumbuhan melalui integrasi dengan ekosistem digital yang lebih luas.
Perubahan ini terjadi ketika aktivitas ekonomi masyarakat semakin bergeser ke kanal digital. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi pada Juli 2026, tumbuh 28,69% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pada periode yang sama, transaksi melalui aplikasi mobile tumbuh 24,25% yoy, sedangkan transaksi internet meningkat 9,39% yoy.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan jika aktivitas finansial masyarakat semakin terhubung dengan perangkat dan platform digital. Bagi industri perbankan, kondisi ini membuka peluang sekaligus menciptakan tuntutan baru akan layanan keuangan yang tidak cukup hanya hadir dalam bentuk aplikasi, tetapi juga terhubung dengan aktivitas ekonomi pengguna.
Transaksi Digital Makin Besar
Perubahan perilaku tersebut terlihat dari perkembangan sistem pembayaran nasional. Pada triwulan II-2026, Bank Indonesia mencatat volume transaksi melalui aplikasi mobile tumbuh 31,39% yoy, sedangkan transaksi internet meningkat 16,88% yoy.
Pertumbuhan QRIS bahkan mencapai 100,12% yoy pada periode tersebut. Sementara volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 1,529 miliar transaksi, tumbuh 38,09% yoy, dengan nilai transaksi mencapai Rp3.777 triliun.
Hingga Juni 2026, jumlah pengguna QRIS juga telah mencapai 65,77 juta pengguna. Dari jumlah tersebut, sebanyak 6,23 juta merupakan pengguna baru sepanjang Januari-Juni 2026. QRIS juga telah menjangkau 44,86 juta merchant, dengan 96,68% di antaranya merupakan UMKM.
Besarnya aktivitas tersebut membuat ruang persaingan bank digital semakin luas. Bank tidak hanya bersaing untuk mendapatkan nasabah, tetapi juga berusaha menjadi bagian dari transaksi yang dilakukan nasabah dalam kehidupan sehari-hari.
Bank Digital Mulai Masuk ke Ekosistem
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri melihat setidaknya terdapat dua model bisnis utama bank digital. Pertama, bank digital dengan model stand-alone business, yakni bank yang memiliki ekosistem terbatas atau tidak memiliki ekosistem sebagai saluran distribusi.
Kedua, bank digital yang bersinergi dengan lembaga jasa keuangan atau perusahaan teknologi besar (BigTech) dalam sebuah ekosistem. Menurut OJK, model kedua menggunakan kemitraan untuk memperluas basis nasabah, dengan target jangka panjang membangun kemampuan intermediasi secara mandiri sehingga ketergantungan terhadap mitra dapat dikurangi.
Dengan model tersebut, ekosistem berfungsi sebagai saluran distribusi. Bank dapat memanfaatkan aktivitas pengguna yang sudah tersedia di platform mitra untuk menawarkan layanan keuangan.
Artinya, bank digital tidak harus selalu mendatangkan pengguna melalui aplikasi perbankan semata. Nasabah dapat mengenal atau menggunakan layanan bank ketika sedang melakukan aktivitas lain, seperti berbelanja, menggunakan transportasi, membayar tagihan atau menjalankan kegiatan usaha.
Strategi tersebut terlihat dari langkah sejumlah bank digital. SeaBank, misalnya, menyebut pengembangan ekosistem ritel sebagai salah satu pilar pertumbuhan bisnis dalam laporan tahunannya.
Pendekatan serupa juga terlihat pada BCA Digital. Dalam laporan tahunan 2025, bank tersebut mencatat pengembangan berbagai layanan yang tidak berhenti pada fungsi rekening, termasuk virtual account, business internet banking, bluRDN, serta sistem pendukung pembiayaan seperti loan origination dan scoring system.
BCA Digital juga mengembangkan kolaborasi dengan berbagai pihak di luar perbankan. Salah satu contohnya adalah ekosistem blu yang bekerja sama dengan perusahaan teknologi lingkungan Rekosistem dalam program pengelolaan sampah.
Model tersebut menunjukkan bahwa ekosistem bank digital dapat berkembang melampaui transaksi keuangan konvensional. Layanan perbankan dapat ditempatkan di tengah berbagai kebutuhan pengguna dan aktivitas ekonomi lainnya.
Pemain lain yang secara terbuka mengandalkan pendekatan ekosistem adalah Superbank. Setelah masuk ke ekosistem Emtek dan Grab, bank ini mengembangkan model bisnis dengan memanfaatkan jaringan perusahaan yang berada di belakangnya.
Superbank menyebut akan memperkuat sinergi dengan ekosistem digital Grab-OVO dan Emtek di Indonesia. Dukungan tersebut menjadi bagian dari strategi bank setelah melantai di Bursa Efek Indonesia.
OJK Perkuat Pengawasan Bank Digital
Namun, semakin luas hubungan bank dengan ekosistem juga membawa konsekuensi terhadap risiko. Ketergantungan pada teknologi, penyedia layanan pihak ketiga dan mitra bisnis membuat pengelolaan risiko menjadi semakin kompleks.
OJK pada Desember 2025 bahkan membentuk Direktorat Pengawasan Perbankan Digital yang mulai efektif pada 2026. Penguatan tersebut dilakukan untuk menghadapi karakteristik bisnis bank digital, termasuk risiko keamanan siber, pengelolaan pihak ketiga dan perlindungan data nasabah.
OJK juga menekankan pentingnya digital resilience atau ketahanan digital karena bank digital sangat bergantung pada teknologi dan infrastruktur digital dalam menjalankan layanan.
Dengan demikian, semakin luas ekosistem yang dibangun bank, semakin penting pula kemampuan bank memastikan seluruh rantai layanan tetap aman dan berjalan tanpa gangguan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
