Tren Ekbis

Bagaimana Perubahan Iklim Ganggu Musim Rambutan

  • JAKARTA, TRENASIA.ID— Buah rambutan yang selama ini dikenal sebagai penanda musim akhir tahun kini semakin sulit ditemui. Minimnya pasokan rambutan pada penghuj
rambutan-absen-di-akhir-tahun-pakar-buah-tropika-ipb-university-ungkap-alasannya-770x400.jpg
Rambutan (Freepik)

JAKARTA, TRENASIA.ID— Buah rambutan yang selama ini dikenal sebagai penanda musim akhir tahun kini semakin sulit ditemui. Minimnya pasokan rambutan pada penghujung 2025 memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, sekaligus menyoroti tantangan baru sektor hortikultura di tengah perubahan iklim.

Pakar buah tropika IPB University, Prof Sobir, menjelaskan bahwa turunnya produksi rambutan dipengaruhi kombinasi faktor iklim, fisiologi tanaman, hingga pertimbangan ekonomi. Salah satu faktor utama adalah kondisi cuaca sepanjang 2025 yang didominasi kemarau basah, sehingga proses induksi pembungaan rambutan tidak berlangsung optimal.

“Tanaman rambutan membutuhkan periode kering sekitar dua hingga empat minggu untuk merangsang pembungaan. Pada 2025, periode kering tersebut tidak terjadi secara jelas,” ujar Sobir dikutip dari laman IPB,  Senin18 Januari 2026.

Kondisi tersebut mencerminkan dampak perubahan iklim yang semakin nyata terhadap pola produksi buah musiman. Sejumlah riset menunjukkan bahwa tanaman buah tropis sangat sensitif terhadap perubahan durasi musim kering dan intensitas curah hujan. Studi yang dimuat dalam Agricultural and Forest Meteorology mencatat, peningkatan variabilitas hujan dapat mengganggu sinkronisasi pembungaan dan pembuahan tanaman hortikultura, sehingga panen menjadi tidak serempak dan volumenya menurun.

Temuan ini sejalan dengan laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang menyebutkan Asia Tenggara mengalami peningkatan variabilitas curah hujan hingga 10–20 persen dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan ini menyebabkan musim hujan dan kemarau semakin sulit diprediksi, berdampak langsung pada komoditas hortikultura berbasis musim seperti rambutan, mangga, dan durian.

Selain faktor iklim, Prof Sobir menjelaskan rambutan juga memiliki sifat biannual bearing, yakni berbuah lebat pada satu tahun dan cenderung menurun pada tahun berikutnya karena cadangan fotosintesis terkuras pada panen sebelumnya. “Biasanya rambutan berbunga pada awal musim hujan sekitar Oktober–November dan dipanen pada Desember. Namun ketika pola musim berubah, siklus ini ikut terganggu,” jelasnya.

Ia juga menanggapi anggapan bahwa pohon rambutan kini semakin jarang berbuah. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya dipicu faktor biologis, tetapi juga ekonomi. Nilai jual rambutan yang relatif rendah membuat sebagian petani enggan memanen ketika produksi sedikit karena dinilai tidak sebanding dengan biaya tenaga kerja dan distribusi.

Dari sisi ekonomi pertanian, ketidakpastian iklim meningkatkan risiko usaha tani buah musiman. Produksi yang fluktuatif menyulitkan petani dalam merencanakan panen dan pasokan ke pasar. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mendorong pergeseran minat petani dari komoditas buah musiman ke tanaman yang dianggap lebih stabil secara ekonomi.

Meski demikian, peluang pemulihan produksi tetap terbuka. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan sekitar 94,7 persen wilayah Indonesia pada 2026 akan mengalami curah hujan tahunan kategori normal, dengan kisaran 1.500–4.000 milimeter per tahun. Sementara sekitar 5,1 persen wilayah lainnya diprediksi berada pada kategori di atas normal.

Dengan pola hujan yang lebih stabil, Prof Sobir memperkirakan produksi rambutan pada 2026 berpeluang kembali membaik. Namun ia menekankan pentingnya adaptasi pertanian berbasis iklim, mulai dari pengelolaan air yang lebih presisi hingga pemilihan varietas yang lebih adaptif, agar musim buah tidak semakin sulit diprediksi di masa depan.