Tren Ekbis

Attention Economy, Ketika Perhatian Jadi Komoditas Mahal di Era Digital

  • Attention economy membuat perhatian manusia menjadi komoditas. Bagaimana bisnis, media, kreator dan platform berebut perhatian di Indonesia?
Ilustrasi wanita sedang menyelam media sosial.
Ilustrasi wanita sedang menyelam media sosial. (freepik.com)

KLATEN, TRENASIA.ID – Di tengah banjir informasi, barang yang semakin langka bukan lagi informasi, melainkan perhatian manusia. Setiap hari konsumen berhadapan dengan notifikasi, video pendek, iklan, promosi, rekomendasi algoritma hingga konten dari kreator yang semuanya berebut satu hal: waktu dan perhatian.

Fenomena tersebut dikenal sebagai attention economy atau ekonomi perhatian. Dalam sistem ini, perhatian manusia diperlakukan sebagai sumber daya yang terbatas dan bernilai ekonomi. 

Ketika informasi semakin melimpah, kemampuan manusia untuk memberikan perhatian justru menjadi semakin langka. Gagasan ini berakar pada pemikiran ekonom dan peraih Nobel Herbert A. Simon yang sejak 1971 mengingatkan bahwa kelimpahan informasi akan menciptakan kelangkaan perhatian.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, melihat perubahan tersebut semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menurut dia, ekonomi saat ini telah bergerak menjadi ekonomi yang mencari perhatian.

"Ekonomi sekarang adalah ekonomi mencari perhatian. Hari ini semua orang perlu perhatian," kata Rhenald dalam acara Ngobras bertema Retired, Not Expired: Kehidupan Setelah 9 to 5 di Klaten, belum lama ini.

Menurut Rhenald, perhatian kini berjalan beriringan dengan dua hal lain yang menentukan keputusan konsumen, yakni trust atau kepercayaan dan choice atau pilihan. "Perhatian, trust, choice,. Aduh, banyak sekali pilihan," ujarnya.

Dari Kain Kafan hingga Restoran, Semua Berebut Perhatian

Rhenald menggambarkan ekonomi perhatian melalui contoh yang sederhana. Ia bercerita tentang seseorang yang menjual kain dan kemudian sukses karena memilih ceruk yang mampu menarik perhatian masyarakat. "Kain apa, saya tanya. Kain kafan," kata Rhenald.

Hal serupa ia temui ketika memilih tempat makan di Yogyakarta. Ia sempat mempertimbangkan Kopi Klotok, tetapi urung datang karena restoran tersebut terlalu ramai.

Menurut Rhenald, popularitas sebuah tempat juga bisa memicu FOMO (fear of missing out). Ketika suatu tempat terus dibicarakan, perhatian publik menciptakan efek ikut-ikutan yang kemudian mendorong lebih banyak orang datang.

Praktisi bisnis senior, Rhenald Kasali, dalam acara Ngobras bertajuk Retired, Not Expired: Kehidupan Setelah 9 to 5 di Joglo Batik 82, Klaten, Rabu 5 Agustus 2026 sore. (Chrisna Chanis Cara/TrenAsia)

Masalahnya, perhatian yang sudah didapat tidak selalu berarti konsumen akan bertahan. Ketika pilihan semakin banyak, konsumen justru menghadapi persoalan baru. "Pilihan semakin luas bisa jadi masalah tersendiri," kata Rhenald.

Dalam konteks ekonomi perhatian, persoalannya bukan lagi bagaimana menemukan informasi, melainkan bagaimana membuat sebuah informasi, produk atau merek dipilih di antara begitu banyak alternatif.

Indonesia Masuk Pasar Ekonomi Perhatian

Skala persaingan tersebut terlihat dari besarnya aktivitas digital masyarakat Indonesia. DataReportal mencatat terdapat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025, dengan penetrasi internet mencapai 80,5% dari populasi. 

Pada periode yang sama terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial, setara dengan 62,9% populasi Indonesia. Artinya, ruang untuk merebut perhatian masyarakat semakin besar sekaligus semakin padat.

Perubahan itu juga terlihat dari nilai ekonomi digital Indonesia. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek dan Bain & Company memperkirakan ekonomi digital Indonesia hampir mencapai US$100 miliar pada 2025. 

Salah satu sektor dengan pertumbuhan paling cepat adalah media online, yang diproyeksikan naik 16% menjadi sekitar US$9 miliar, mencakup periklanan digital, video-on-demand, musik digital dan gaming.

Dengan kata lain, perhatian bukan sekadar konsep pemasaran. Ia sudah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang nilainya dapat dihitung.

Bisnis Kini jual Produk Sekaligus Perhatian

Model bisnis digital membuat hubungan antara perhatian dan uang menjadi semakin jelas.

Platform memberikan layanan secara gratis atau murah, sementara perhatian pengguna dimonetisasi melalui iklan, transaksi, langganan, data dan berbagai bentuk komersialisasi lainnya. 

Dalam literatur ekonomi perhatian, perusahaan dan platform dapat dipahami sebagai pihak yang berkompetisi memperoleh perhatian pengguna yang kemudian dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi.

Perubahan ini juga menggeser cara perusahaan membangun merek. Dulu, perusahaan cukup bertanya: "Apa yang ingin kita jual?" Kini pertanyaannya berkembang menjadi: "Bagaimana membuat orang berhenti scrolling dan memperhatikan kita?"

Karena itu, judul, gambar, video pendek, thumbnail, notifikasi, influencer, algoritma rekomendasi hingga desain aplikasi menjadi bagian dari perebutan perhatian.

Kreator Konten dan Nilai Perhatian

Ekonomi perhatian juga melahirkan kelompok baru: kreator konten. Mereka tidak selalu memiliki pabrik, toko atau aset fisik dalam jumlah besar. Aset terpenting mereka justru adalah audience.

Laporan e-Conomy SEA 2025 menunjukkan Indonesia menjadi salah satu pasar konsumsi media digital terbesar di Asia Tenggara. Bahkan transaksi video commerce di Indonesia melonjak 90% secara tahunan menjadi 2,6 miliar transaksi pada 2025, sementara jumlah penjual dan toko daring meningkat 75% menjadi sekitar 800 ribu.

Di titik ini, perhatian dapat berubah menjadi:

  • pengikut,
  • engagement,
  • transaksi,
  • iklan,
  • endorsement,
  • affiliate,
  • hingga penjualan produk sendiri.

Perhatian kemudian menjadi semacam modal ekonomi baru. Namun, distribusinya tidak merata. Sebuah studi 2025 mengenai pendapatan kreator di berbagai platform menemukan pola pendapatan yang sangat terkonsentrasi. 

Sistem rekomendasi algoritmik cenderung memberikan keuntungan lebih besar kepada kreator yang sudah berada di posisi atas, sementara sebagian besar kreator memperoleh pendapatan yang jauh lebih kecil. Artinya, mendapatkan perhatian belum otomatis berarti mendapatkan penghasilan besar.

Perhatian Manusia Terbatas

Di sinilah ekonomi perhatian memiliki paradoks. Jumlah informasi dapat terus bertambah. Konten dapat dibuat tanpa batas. AI bahkan membuat produksi teks, gambar, video dan audio semakin murah.

Tetapi kapasitas manusia untuk memperhatikan semuanya tetap terbatas. Literatur ekonomi perhatian menjelaskan bahwa waktu dan perhatian memiliki karakteristik seperti sumber daya langka. Ketika seseorang memberikan perhatian kepada satu hal, ada hal lain yang harus dikorbankan.

Persoalan menjadi semakin kompleks karena perhatian masyarakat tidak sepenuhnya ditentukan oleh pilihan individu. Algoritma platform ikut menentukan konten apa yang muncul di layar pengguna. 

Konten yang memperoleh interaksi tinggi berpeluang mendapatkan distribusi lebih besar, menciptakan siklus: perhatian menghasilkan engagement, engagement menghasilkan distribusi, lalu distribusi kembali menghasilkan perhatian.

Riset tentang ekonomi perhatian menunjukkan bahwa ketika kemampuan audiens membedakan kualitas konten melemah, insentif bagi pembuat konten berkualitas juga dapat ikut menurun. 

Sebaliknya, jika audiens mampu memilih dan membedakan kualitas, ekosistem dapat memberi insentif lebih besar kepada konten yang membutuhkan usaha dan kualitas produksi lebih tinggi.

Perdebatan mengenai perhatian juga mulai masuk ke wilayah kebijakan publik di Indonesia. Pemerintah pada 2026 mulai menerapkan pembatasan akses media sosial bagi pengguna di bawah usia 16 tahun.

Hal itu antara lain dengan alasan perlindungan anak dari risiko konten berbahaya, kecanduan digital dan berbagai risiko di ruang daring. Pemerintah juga meminta platform lebih transparan mengenai jumlah akun anak yang dinonaktifkan.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa perhatian tidak lagi sekadar persoalan bisnis atau pemasaran. Ia mulai bersinggungan dengan kesehatan digital, perlindungan anak, pendidikan hingga kebijakan publik..

Tantangan Baru bagi Konsumen

Bagi konsumen, ekonomi perhatian membuat kemampuan memilih menjadi semakin penting. Rhenald mengingatkan bahwa banyaknya pilihan justru dapat membuat konsumen semakin sulit menentukan keputusan.

Karena itu, dalam ekonomi yang semakin ramai oleh informasi dan pilihan, perhatian menjadi sesuatu yang perlu dikelola, bukan hanya sesuatu yang diperebutkan. Hal ini juga berlaku bagi bisnis.

Baca Juga: Usia 40-an Waktu Tepat Siapkan Pensiun, Ini Pesan Rhenald Kasali

Merek yang berhasil mendapatkan perhatian belum tentu berhasil mendapatkan kepercayaan. Sebaliknya, merek yang berhasil mendapatkan perhatian tetapi kehilangan kepercayaan bisa menghadapi masalah yang jauh lebih besar.

Dalam dunia yang penuh pilihan, perusahaan tidak cukup hanya menjadi yang paling keras berbicara. Mereka harus menjadi relevan, dipercaya dan mampu memberikan alasan bagi konsumen untuk kembali.