Agenda Ekonomi Penting Agustus yang Berpotensi Menggerakkan IHSG
- Simak agenda ekonomi penting pekan ini, mulai pertumbuhan ekonomi RI, inflasi, data AS, hingga China yang berpotensi memengaruhi IHSG.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, hingga pasar obligasi diperkirakan masih akan dibayangi berbagai agenda ekonomi penting sepanjang pekan ini. Investor tidak hanya menantikan rilis data domestik, tetapi juga sejumlah indikator ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan bank sentral dan arus modal asing.
Sejumlah data dari Indonesia, Amerika Serikat (AS), China, hingga keputusan bank sentral di beberapa negara diperkirakan menjadi sentimen utama yang akan menentukan arah perdagangan pasar keuangan dalam beberapa hari ke depan.
Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, berikut sederet data ekonomi yang berpotensi mempengaruhi IHSG sepanjang Agustus 2026,
1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II-2026
Sorotan utama datang dari rilis Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026 yang dijadwalkan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada pekan ini.
Data tersebut akan menjadi indikator utama untuk mengukur kekuatan ekonomi nasional di tengah perlambatan ekonomi global. Pertumbuhan yang lebih tinggi dari ekspektasi berpotensi meningkatkan optimisme investor terhadap prospek emiten domestik, khususnya sektor perbankan, konsumsi, dan infrastruktur.
Sebaliknya, apabila pertumbuhan ekonomi berada di bawah perkiraan pasar, sentimen terhadap IHSG berpotensi melemah karena memunculkan kekhawatiran terhadap perlambatan aktivitas ekonomi.
Baca juga : Analisis Prospek Saham BBRI, Terus Diburu Asing
2. Inflasi Indonesia Juli 2026
Investor juga akan mencermati data inflasi Juli 2026. Pergerakan inflasi menjadi salah satu indikator penting yang memengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI). Inflasi yang tetap terkendali akan memberi ruang bagi BI mempertahankan stabilitas kebijakan moneter, sedangkan lonjakan inflasi dapat meningkatkan ekspektasi pengetatan kebijakan.
Data ini juga berpengaruh terhadap pergerakan obligasi pemerintah dan sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga.
3. Data Tenaga Kerja Amerika Serikat
Dari eksternal, perhatian terbesar pasar global tertuju pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (Nonfarm Payrolls/NFP) yang akan dirilis pada Jumat.
Laporan tersebut menjadi acuan utama Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Jika data ketenagakerjaan lebih kuat dari perkiraan, peluang suku bunga AS tetap tinggi akan meningkat sehingga dapat memperkuat dolar AS dan menekan aset negara berkembang, termasuk IHSG dan rupiah.
Sebaliknya, data yang lebih lemah berpotensi meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed sehingga menjadi sentimen positif bagi pasar saham global.

4. Data Aktivitas Bisnis AS
Sebelum data tenaga kerja dirilis, investor juga akan mencermati beberapa indikator ekonomi Amerika Serikat seperti ISM Manufacturing PMI, ISM Services PMI, laporan ADP Employment, hingga JOLTs Job Openings.
Rangkaian data tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi sektor manufaktur, jasa, dan pasar tenaga kerja AS yang menjadi dasar penilaian terhadap kesehatan ekonomi terbesar di dunia.
Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed sering kali dipicu oleh data-data tersebut sehingga berpotensi memengaruhi arus modal global.
Baca juga : Indeks LQ45 Hari Ini 03 Agustus 2026 Ditutup Naik 2,69 ke 623,93 Poin
5. Data Ekonomi China
China juga dijadwalkan merilis sejumlah indikator penting seperti PMI manufaktur, PMI jasa, data perdagangan, dan inflasi.
Sebagai mitra dagang utama Indonesia, perlambatan maupun percepatan ekonomi China dapat berdampak langsung terhadap prospek ekspor komoditas Indonesia, mulai dari batu bara, nikel, hingga minyak sawit.
Perkembangan ekonomi China juga menjadi sentimen penting bagi saham-saham sektor komoditas di Bursa Efek Indonesia.
6. Keputusan Bank Sentral
Pelaku pasar global juga menunggu keputusan suku bunga dari sejumlah bank sentral, termasuk Reserve Bank of India (RBI), Bank of England (BoE), Bank Sentral Brasil, dan Bank Sentral Meksiko.
Meski tidak berdampak langsung terhadap Indonesia, perubahan arah kebijakan moneter global dapat memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko di negara berkembang.
Bagi investor domestik, kombinasi data ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat diperkirakan menjadi faktor yang paling menentukan arah IHSG dalam jangka pendek.
Baca juga : Yen Jepang Ambrol Parah, Seberapa Besar Ancamannya bagi Rupiah?
Apabila data domestik menunjukkan ekonomi tetap kuat sementara data AS membuka peluang pelonggaran kebijakan The Fed, pasar saham Indonesia berpotensi memperoleh sentimen positif melalui masuknya kembali dana asing.
Sebaliknya, apabila data AS kembali menguat dan memicu ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, tekanan terhadap IHSG, rupiah, dan pasar obligasi masih berpotensi berlanjut.
Karena itu, investor disarankan mencermati kalender ekonomi sepanjang pekan ini sebelum mengambil keputusan investasi, mengingat setiap rilis data berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
