5 Tren Besar e-Commerce Indonesia 2026
- Lazada memetakan lima tren utama eCommerce, mulai dari pentingnya kepercayaan hingga peran kreator konten sebagai motor pertumbuhan.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Memasuki 2026, industri eCommerce Indonesia kian memasuki fase kedewasaan. Pergeseran perilaku konsumen yang semakin selektif dan berorientasi kualitas mendorong platform digital untuk bertransformasi, dari sekadar tempat transaksi menjadi ekosistem berbasis kepercayaan.
Lazada Indonesia menilai konsumen kini semakin cerdas dalam memilih produk, termasuk untuk barang bernilai tinggi. Kondisi ini menuntut peningkatan standar autentisitas dan kualitas demi membangun konsep confident commerce, perdagangan digital yang berlandaskan rasa aman dan kepercayaan.
CEO Lazada Indonesia, Carlos Barrera, menyebut industri eCommerce telah beranjak dari model akses pasar menuju model bisnis yang menempatkan kualitas sebagai fondasi utama pertumbuhan.
“Ketika konsumen sudah percaya pada keaslian produk dan kualitas jangka panjang, mereka akan berbelanja lebih banyak dan tidak ragu membeli produk bernilai tinggi. eCommerce pun bertransformasi dari sekadar tempat transaksi menjadi infrastruktur pertumbuhan bagi konsumen dan brand,” ujar Carlos dalam keterangan resmi, dikutip Senin, 16 Januari 2026.
Optimisme ini sejalan dengan laporan e-Conomy SEA dari Google, Temasek, dan Bain & Company yang memproyeksikan nilai transaksi bruto (GMV) eCommerce Indonesia mencapai sekitar US$140 miliar pada 2030, tertinggi di Asia Tenggara. Dari konteks tersebut, Lazada mengidentifikasi lima tren utama yang diperkirakan membentuk lanskap eCommerce nasional sepanjang 2026.
1. Kepercayaan Jadi Motor Utama Belanja
Menurut Lazada, konsumen Indonesia kini berbelanja dengan tujuan yang lebih jelas, yakni meningkatkan kualitas hidup. Harga murah tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan. Konsumen semakin menilai kombinasi antara kualitas, keaslian, dan pengalaman belanja.
Pergeseran ini terlihat kuat pada segmen keluarga muda dan konsumen aspirasional yang mulai mengandalkan eCommerce untuk pembelian barang bernilai tinggi, seperti elektronik, peralatan rumah tangga, hingga produk kesehatan. Laporan Cube Asia 2025 mencatat sekitar 80% konsumen Indonesia memilih berbelanja di online mall karena adanya jaminan kualitas dan keamanan.
“Kepercayaan kini bukan lagi pelengkap, tetapi penggerak pertumbuhan. Platform perlu membangun sistem perlindungan dan tata kelola yang lebih kuat agar konsumen berani melakukan transaksi bernilai besar,” kata Carlos.
2. Belanja Mengikuti Fase Kehidupan
Tren berikutnya adalah belanja yang semakin terkait dengan fase kehidupan. Konsumen memanfaatkan eCommerce untuk mendukung berbagai transisi, mulai dari membangun keluarga, merenovasi rumah, hingga menjalani gaya hidup lebih sehat.
Kondisi ini mendorong lonjakan permintaan pada kategori life-upgrade seperti furnitur, elektronik, otomotif, dan kesehatan. Brand lokal maupun global dinilai berperan penting dengan menyediakan pilihan produk di berbagai rentang harga agar konsumen dapat melakukan trade up secara terencana.
3. Premiumisasi Tanpa Kehilangan Nilai
Lazada juga mencatat meningkatnya minat konsumen terhadap produk premium yang tetap menawarkan value for money. Konsumen semakin memandang pembelian tertentu sebagai investasi, terutama untuk produk yang berdampak langsung pada kenyamanan dan pengalaman jangka panjang.
Fitur pendukung seperti voucer, cicilan, dan program loyalitas membuat produk premium tetap terasa terjangkau. “Premium dan nilai kini tidak lagi bertentangan. Inilah yang mendefinisikan ulang makna keterjangkauan di eCommerce,” ujar Carlos.
4. Membership Menggantikan Diskon Sesaat
Strategi promosi pun ikut berubah. Platform eCommerce kini lebih mengedepankan program keanggotaan dengan manfaat berjenjang dibandingkan diskon jangka pendek. Skema ini mendorong loyalitas sekaligus menciptakan permintaan yang lebih stabil bagi brand.
“Membership bukan sekadar alat promosi, tetapi sarana membangun kebiasaan belanja jangka panjang dan engagement yang lebih kuat,” kata Carlos, seraya menegaskan komitmen Lazada memperkuat program Lazada Membership.
5. Kreator Konten Jadi Penggerak Baru
Di tengah meningkatnya pengaruh ulasan autentik, kreator konten dan afiliator kini menjadi ujung tombak pertumbuhan eCommerce. Mereka berperan menjembatani brand dengan konsumen melalui konten edukatif yang relevan dan mudah dipahami.
Lazada menyatakan telah mengalokasikan investasi tahunan sebesar US$100 juta untuk program Lazada Affiliate guna memberdayakan kreator sebagai mitra strategis. “Bagi kami, kreator bukan hanya pemasar, tetapi bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang,” tambah Carlos.
Ke depan, Lazada menilai eCommerce akan semakin berperan membantu konsumen mengambil keputusan belanja yang lebih cerdas dan bermakna. Fokus industri pun bergeser, tidak lagi semata mengejar volume transaksi, melainkan dampak nyata bagi kualitas hidup masyarakat.
“Di pasar dengan pilihan hampir tak terbatas, platform yang mampu bertahan adalah yang membantu konsumen hidup lebih baik. Kepercayaan dan kualitas adalah kunci masa depan eCommerce,” tutup Carlos.

Ananda Astri Dianka
Editor
