Tren Ekbis

3 Skenario Calon Gubernur BI Baru dan Implikasi ke Pasar

  • Riset Kiwoom Sekuritas mengulas tiga skenario calon Gubernur BI. Simak siapa yang dinilai paling positif bagi rupiah, IHSG, dan arus modal asing.
Bank Indonesia
Bank Indonesia (Dok/BI)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan mengumumkan calon Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif pada pekan ini, menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri pada 25 Juli 2026.

Keputusan tersebut menjadi perhatian besar pelaku pasar karena akan menentukan arah kebijakan moneter Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Tidak hanya itu, nama yang dipilih juga diperkirakan memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga arus investasi asing.

Saat ini, posisi Gubernur BI untuk sementara dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur sesuai ketentuan Pasal 48 Ayat (1) huruf a Undang-Undang Bank Indonesia.

Setelah Presiden menentukan nama calon, pemerintah akan mengirimkan surat kepada DPR untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang diperkirakan dimulai setelah masa sidang DPR dibuka kembali pada 14 Agustus 2026.

Baca juga : Siapa Penguasa Bisnis Sabun Mandi di Indonesia?

Siapa Saja Kandidat Gubernur Bank Indonesia?

Sejumlah nama telah beredar sebagai kandidat kuat pengganti Perry Warjiyo. Masing-masing memiliki latar belakang dan peluang berbeda dalam memperoleh dukungan pemerintah maupun pasar.

Berikut enam nama yang paling banyak disebut:

  • Destry Damayanti, Plt. Gubernur BI sekaligus Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
  • Muliaman D. Hadad, mantan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan mantan Deputi Gubernur BI.
  • Thomas Djiwandono, Deputi Gubernur BI yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan.
  • Chatib Basri, mantan Menteri Keuangan dan ekonom senior.
  • Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
  • Burhanuddin Abdullah, mantan Gubernur BI periode 2003–2008.

Sementara itu, survei BIG Consensus Insights terhadap ekonom dan analis menunjukkan nama Destry Damayanti menjadi kandidat paling banyak dipilih. Hasil survei tersebut menunjukkan,

  • Destry Damayanti: 30%
  • Juda Agung: 20%
  • Aida S. Budiman: 10%
  • Chatib Basri: 10%

Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden sebelum diajukan kepada DPR.

Mengapa Pasar Sangat Memperhatikan Sosok Gubernur BI?

Bank Indonesia merupakan otoritas yang bertanggung jawab menjaga stabilitas nilai rupiah, mengendalikan inflasi, serta menetapkan suku bunga acuan. Karena itu, pergantian gubernur bukan sekadar pergantian pejabat, melainkan juga sinyal mengenai arah kebijakan moneter Indonesia ke depan.

Pelaku pasar umumnya memperhatikan tiga aspek utama, yaitu,

  • Independensi Bank Indonesia dari kepentingan politik.
  • Konsistensi kebijakan moneter.
  • Kredibilitas kandidat di mata investor global.

Semakin tinggi tingkat kepercayaan pasar terhadap gubernur baru, semakin besar peluang masuknya modal asing ke pasar obligasi maupun saham Indonesia.

Berdasarkan riset Kiwoom Sekuritas Indonesia yang disusun oleh Head of Research Liza Camelia Suryanata, terdapat tiga skenario utama yang berpotensi muncul dari penunjukan Gubernur Bank Indonesia baru. 

Analisis tersebut juga mempertimbangkan pandangan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) yang menekankan pentingnya independensi Bank Indonesia sebagai faktor utama yang akan dinilai oleh pelaku pasa

Baca juga : OCBC Dorong Perubahan Gaya Hidup Berkelanjutan melalui Program RISE

Skenario Pertama: Destry Damayanti Dinilai Paling Aman

Banyak ekonom menilai pengangkatan Destry Damayanti merupakan skenario yang paling kecil menimbulkan gejolak pasar. Sebagai Deputi Gubernur Senior, Destry telah terlibat langsung dalam berbagai kebijakan moneter Bank Indonesia selama beberapa tahun terakhir sehingga investor sudah memahami arah kebijakan yang kemungkinan akan diteruskan.

"Secara institusional, Destry adalah figur yang paling natural untuk memimpin BI melewati masa transisi. Sementara Thomas Djiwandono baru bergabung sebagai anggota Dewan Gubernur beberapa bulan lalu. Jika ia dipromosikan menjadi Gubernur dalam waktu yang sangat singkat, saya meyakini pasar akan sulit memandang penunjukan tersebut sebagai proses suksesi bank sentral yang normal," ungkap Liza dalam Risetnya dikutip Jumat, 8 Agustus 2026.

Apabila Destry ditunjuk sebagai gubernur definitif, beberapa dampak yang diperkirakan muncul antara lain,

  • Kontinuitas kebijakan moneter tetap terjaga.
  • Risiko kejutan terhadap pasar relatif kecil.
  • Independensi BI dinilai tetap kuat.
  • Rupiah berpotensi menguat sekitar 1–2% dalam jangka pendek.
  • Kebijakan cenderung berlanjut tanpa perubahan besar.

Bagi investor, skenario ini dianggap sebagai pilihan yang paling stabil karena tidak mengubah kerangka kebijakan yang telah berjalan.

Skenario Kedua: Muliaman Hadad Berpotensi Memberi Sentimen Paling Positif

Nama lain yang banyak mendapat perhatian adalah Muliaman D. Hadad. Mantan Ketua OJK tersebut memiliki pengalaman panjang di Bank Indonesia serta dikenal luas oleh komunitas keuangan internasional.

Jika Muliaman dipilih, pasar diperkirakan akan menangkapnya sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah ingin memperkuat tata kelola sektor keuangan sekaligus menjaga independensi bank sentral.

Sejumlah analis memperkirakan dampaknya meliputi:

  • Rupiah berpotensi menguat lebih besar dibanding skenario Destry.
  • Arus modal asing berpeluang meningkat.
  • Kepercayaan investor terhadap reformasi sektor keuangan bertambah.
  • Koordinasi antara BI dan OJK semakin kuat.

Karena reputasinya yang telah dikenal secara internasional, Muliaman dinilai mampu memberikan dorongan sentimen positif terhadap aset keuangan Indonesia.

Skenario Ketiga: Thomas Djiwandono Dinilai Paling Berisiko

Di sisi lain, sebagian pelaku pasar menilai pengangkatan Thomas Djiwandono berpotensi memunculkan kekhawatiran mengenai independensi Bank Indonesia. Thomas baru menjabat sebagai Deputi Gubernur BI sejak Februari 2026 setelah sebelumnya menjadi Wakil Menteri Keuangan.

Latar belakang tersebut membuat sebagian analis menilai kedekatannya dengan pemerintah dapat memunculkan persepsi adanya intervensi terhadap kebijakan moneter.

"Legalitas tidak otomatis menciptakan kredibilitas. Hubungan keluarga Thomas dengan Presiden, pengalaman yang masih sangat terbatas sebagai bankir sentral, dan kemungkinan dirinya melompati Deputi Gubernur Senior dapat menimbulkan persepsi bahwa hubungan pemerintah dan BI bergeser dari koordinasi kebijakan menjadi kontrol politik," tambah Liza.

Jika skenario ini terjadi, risiko yang banyak dibahas meliputi:

  • Rupiah berpotensi mengalami tekanan.
  • Investor asing meningkatkan aksi jual.
  • Persepsi independensi BI menurun.
  • Volatilitas pasar keuangan meningkat.

Ekonom dari CELIOS bahkan mengingatkan bahwa gubernur BI idealnya merupakan figur yang benar-benar independen serta mampu menjaga jarak dari kepentingan politik agar kredibilitas bank sentral tetap terjaga.

Baca juga : Ironi Pasar Kerja Indonesia, Pengangguran Didominasi Lulusan SMK

Bagaimana Kondisi Rupiah dan IHSG Saat Ini?

Menjelang pengumuman gubernur baru, pasar sebenarnya berada dalam kondisi relatif stabil.

Pada perdagangan 6 Agustus 2026:

  • Rupiah di pasar spot ditutup di Rp17.910 per dolar AS, menguat sekitar 15 poin.
  • Kurs JISDOR berada di Rp17.919.
  • DBS Group Research memperkirakan USD/IDR bergerak pada kisaran Rp17.900–Rp18.000 sepanjang pekan ini.

Sementara itu, IHSG masih bergerak fluktuatif. Data perdagangan menunjukkan,

  • IHSG ditutup pada 6.343,71 pada 6 Agustus.
  • Dibuka menguat menjadi 6.354,58 pada 7 Agustus.
  • Peluang menguji level 6.400 masih terbuka apabila sentimen pasar membaik.

Sejumlah analis memperkirakan probabilitas penguatan IHSG sepanjang Agustus mencapai sekitar 60–65%, didukung oleh pengumuman gubernur BI dan pembahasan RAPBN 2027.

Selain pergantian gubernur BI, pasar juga mendapat dukungan dari sejumlah indikator makroekonomi yang cukup solid. Beberapa di antaranya meliputi,

  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 mencapai 5,29% secara tahunan, lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
  • Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di sekitar 7,3%.
  • Indeks Dolar AS (DXY) masih berada di kisaran 99,76, atau di bawah level psikologis 100.

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi aset keuangan Indonesia untuk tetap menarik apabila tidak muncul sentimen negatif baru.

Risiko yang Tetap Harus Diwaspadai Investor

Meski prospek pasar relatif positif, masih terdapat sejumlah faktor yang dapat memengaruhi reaksi investor setelah pengumuman gubernur BI.

Beberapa risiko tersebut antara lain:

  • DPR memiliki kewenangan menolak kandidat apabila tidak lolos uji kelayakan.
  • Ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, berpotensi memicu arus keluar modal dari negara berkembang.
  • Data ketenagakerjaan Amerika Serikat (Non-Farm Payroll/NFP) dapat memengaruhi ekspektasi arah suku bunga Federal Reserve.
  • Persepsi terhadap independensi Bank Indonesia akan menjadi perhatian lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings dan Moody's.

Pada akhirnya, pasar tidak hanya menilai siapa sosok yang akan memimpin Bank Indonesia, tetapi juga bagaimana figur tersebut mampu menjaga independensi lembaga dari tekanan politik maupun kepentingan fiskal pemerintah.

Jika pemerintah memilih figur yang dipandang memiliki kredibilitas tinggi dan independen, sentimen terhadap rupiah, obligasi negara, serta pasar saham berpotensi membaik.

Sebaliknya, apabila muncul persepsi bahwa independensi bank sentral melemah, volatilitas pasar dapat meningkat meskipun fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat.

Karena itu, pengumuman calon Gubernur BI pekan ini diperkirakan menjadi salah satu katalis utama yang menentukan arah pergerakan rupiah dan IHSG dalam jangka pendek sekaligus membentuk persepsi investor terhadap kebijakan moneter Indonesia untuk beberapa tahun mendatang.