28 Persen Perusahaan di Indonesia sudah Adopsi AI
- Riset AWS dan Strand Partners menunjukkan adopsi AI di Indonesia tumbuh pesat, tetapi sebagian besar perusahaan masih memanfaatkannya untuk kebutuhan dasar.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di Indonesia menunjukkan momentum yang semakin kuat dalam beberapa tahun terakhir.
Adopsi teknologi ini meningkat pesat di berbagai sektor industri, mulai dari startup digital hingga manufaktur. Namun, di balik pertumbuhan yang impresif tersebut, Indonesia masih menghadapi tantangan besar berupa kesenjangan pemanfaatan teknologi serta keterbatasan talenta digital yang mampu mengoperasikan dan mengembangkan AI secara strategis.
Laporan riset terbaru yang disusun oleh Amazon Web Services bersama Strand Partners pada tahun 2025 menunjukkan sekitar 28 % perusahaan di Indonesia telah mengadopsi AI dalam operasional bisnisnya. Jika dihitung dari total sekitar 18 juta bisnis di Indonesia, angka tersebut mencerminkan jutaan perusahaan yang mulai memanfaatkan teknologi AI.
Selain itu, pertumbuhan adopsi AI juga sangat pesat. Sepanjang 2024, adopsi teknologi ini meningkat sekitar 47% secara tahunan (year-on-year). Hal ini menunjukkan semakin banyak perusahaan yang melihat AI sebagai alat penting untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing di tengah transformasi digital yang semakin cepat.
Meski demikian, laporan tersebut juga menyoroti bahwa sebagian besar perusahaan masih memanfaatkan AI pada level yang relatif dasar. Sekitar 76% perusahaan menggunakan AI untuk kebutuhan operasional seperti otomatisasi proses kerja, analisis data sederhana, atau peningkatan efisiensi produksi.
Sebaliknya, hanya sekitar 10% perusahaan yang benar-benar mengintegrasikan AI ke dalam strategi bisnis utama mereka. Perusahaan dalam kategori ini menggunakan AI untuk menciptakan produk baru, mengembangkan model bisnis inovatif, hingga mendorong transformasi bisnis secara menyeluruh.
Baca juga : Kala Raksasa AI Berebut Modal ke Timur Tengah
Startup Lebih Agresif Mengadopsi AI
Menariknya, laporan tersebut juga menemukan adanya kesenjangan signifikan dalam pola adopsi AI antara startup dan perusahaan besar. Startup cenderung lebih cepat dan agresif dalam memanfaatkan teknologi ini.
Sekitar 52% startup di Indonesia telah menggunakan AI dalam operasional bisnisnya. Bahkan, sekitar 34% startup telah berhasil mengembangkan produk atau layanan baru yang sepenuhnya berbasis AI.
Sebaliknya, meskipun sekitar 41 persen perusahaan besar telah mengadopsi AI, hanya sekitar 21% yang mampu menciptakan inovasi baru berbasis teknologi tersebut. Hal ini menunjukkan perusahaan besar lebih sering menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi internal, bukan sebagai fondasi pengembangan produk baru.
Kondisi ini memunculkan fenomena yang sering disebut sebagai “two-tier economy”, yakni kesenjangan kemampuan inovasi antara perusahaan yang memanfaatkan AI secara strategis dengan perusahaan yang hanya menggunakan teknologi tersebut untuk kebutuhan operasional dasar.
Manufaktur dan Telekomunikasi Jadi Pelopor
Di sektor industri, beberapa bidang mulai menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemanfaatan AI. Salah satu sektor yang paling aktif adalah manufaktur.
Melalui program transformasi industri Making Indonesia 4.0, pemerintah telah menetapkan 29 perusahaan sebagai National Lighthouse Industri 4.0 yang berhasil mengimplementasikan teknologi digital termasuk AI dalam proses produksinya.
Perusahaan-perusahaan ini berasal dari berbagai sektor seperti otomotif, elektronik, farmasi, hingga makanan dan minuman. Implementasi AI di sektor tersebut terbukti mampu meningkatkan efisiensi produksi, memperbaiki manajemen logistik, serta menurunkan biaya operasional.
Selain manufaktur, sektor telekomunikasi juga menjadi salah satu pengguna utama teknologi AI di Indonesia. Perusahaan seperti Telkom Indonesia telah memanfaatkan AI untuk mengoptimalkan pengelolaan jaringan nasional.
Teknologi ini digunakan untuk memantau kondisi jaringan secara otomatis, memprediksi gangguan layanan, hingga mengoptimalkan rute trafik data agar kualitas layanan tetap stabil. Selain itu, AI juga dimanfaatkan untuk kegiatan komersial seperti analisis perilaku pelanggan dan strategi pemasaran yang lebih presisi.
Baca juga : Kala AI Jadi Amunisi Perang, Dampaknya Bisa Sangat Brutal
Peluang dan Tantangan
Pemerintah juga berupaya memperluas penggunaan AI hingga ke sektor usaha kecil dan menengah. Melalui program e-Smart IKM, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia telah memberikan pelatihan digital kepada lebih dari 31.000 industri kecil dan menengah.
Program tersebut membantu pelaku usaha memanfaatkan teknologi digital, termasuk AI, untuk pemasaran online, pengelolaan bisnis, hingga pembuatan laporan keuangan otomatis.
Selain itu, pelatihan berbasis AI juga dikembangkan melalui program KreasiAI yang ditujukan untuk membantu pelaku UMKM memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan dalam memperluas pasar dan meningkatkan produktivitas bisnis.
Langkah ini dinilai penting mengingat lebih dari 90% UMKM di Indonesia masih belum mengoptimalkan pemanfaatan teknologi AI dalam kegiatan bisnis mereka.
Di tengah pertumbuhan adopsi AI yang pesat, tantangan terbesar justru datang dari sisi sumber daya manusia. Laporan riset Amazon juga menunjukkan bahwa 57% perusahaan di Indonesia mengaku kesulitan menemukan tenaga kerja dengan keterampilan digital yang memadai untuk mengembangkan dan mengoperasikan teknologi AI.
Sementara itu, hanya sekitar 21% perusahaan yang merasa tenaga kerja mereka saat ini telah memiliki kemampuan yang cukup untuk menghadapi transformasi berbasis AI.
Kesenjangan ini semakin penting untuk diatasi karena berbagai studi memprediksi bahwa sekitar 48% pekerjaan di masa depan akan membutuhkan keterampilan terkait AI.
Melihat tren yang ada, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan teknologi AI di Asia Tenggara. Pertumbuhan jumlah startup digital, dukungan pemerintah terhadap transformasi industri, serta investasi besar dari perusahaan teknologi global menjadi faktor pendorong utama.

Amirudin Zuhri
Editor
