Industri

Tenang, OJK Jamin Neobank Masih Jauh Sasar Kredit Korporasi

  • Kemunculan neobank alias bank digital di Indonesia memang masih sangat baru. Meski begitu, berbagai kalangan sudah banyak yang menghitung-hitung apakah kehadiran bank digital ini akan menjadi ancaman bank konvensional atau justru peluang.

<p>Mitra Driver Gojek menunggu customer di dekat logo Bank Jago di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia</p>

Mitra Driver Gojek menunggu customer di dekat logo Bank Jago di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA – Kemunculan neobank alias bank digital di Indonesia memang masih sangat baru. Meski begitu, berbagai kalangan sudah banyak yang menghitung-hitung apakah kehadiran bank digital ini akan menjadi ancaman bank konvensional atau justru peluang.

Menjawab hal ini, Plt. Deputi Direktur Arsitektur Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tony, mengatakan bank digital dapat menjadi pesaing atau ancaman bank konvensional pada segmen kredit ritel.

Alasannya, sejauh ini ia melihat target pasar serta kemampuan layanan bank digital masih terbatas pada segmen tersebut. Di sisi lain, perbankan konvensional memiliki banyak segmen pembiayaan, seperti kredit korporasi, wealth management, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan ritel.

“Paling ya bersaing di kredit ritel atau perorangan seperti kita-kita ini. Kalau kredit korporasi masih jauh kemampuannya (bank digital),” kata Tony dalam webinar KoinWorks, Rabu, 24 Februari 2021.

Alasannya, tiap segmen nasabah memiliki kebutuhan layanan dan teknologi yang berbeda-beda. Inilah yang membuat bank-bank dalam kelompok BUKU IV belum terlalu agresif bertransformasi sepenuhnya ke digital.

Menurut dia, dengan segmen nasabah yang banyak dengan kebutuhan yang berbeda, maka bank-bank tersebut membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyiapkan ekosistem yang bisa mewadahi semua nasabah yang sudah digarapnya saat ini.

“Bayangkan, nilai transaksi korporasi besar seperti Pertamina dengan ritel kan beda. Maka kebutuhan teknologi dan keamanannya akan beda juga,” tambahnya.

Sehingga sampai saat ini, korporasi besar masih sangat mengandalkan perbankan besar dalam mengelola transaksi. (SKO)