Industri

SKK Migas Pasok Gas Alam untuk Pembangkit Listrik PLN

  • JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menambah pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. Deputi Keuangan dan Monetisasi  SKK Migas Arief S. Handokoe menyebut, pasokan yang dikirim sebanyak tiga kargo dari Kilang Bontang untuk memenuhi kebutuhan […]

<p>Pembangkit listrik ramah lingkungan dari PLN / Dok. PLN</p>

Pembangkit listrik ramah lingkungan dari PLN / Dok. PLN

(Istimewa)

JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menambah pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

Deputi Keuangan dan Monetisasi  SKK Migas Arief S. Handokoe menyebut, pasokan yang dikirim sebanyak tiga kargo dari Kilang Bontang untuk memenuhi kebutuhan pembangkit PLN.

“Selain itu, ada tambahan 70 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas bumi yang dikirim melalui pipa dan dialirkan dari wilayah Sumatera dan Jawa,” ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima TrenAsia.com, Rabu, 3 Maret 2021.

Penambahan ini disebut sebagai upaya untuk terus menjaga pasokan listrik bagi pelanggan, sekaligus meningkatkan serapan gas bumi nasional.

Seperti diketahui, saat ini PLN tengah menjalankan program gasifikasi untuk 55 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dalam program konversi pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis High Speed Diesel (HSD) menjadi gas. Program ini dilakukan atas Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor 13 Tahun 2020.

Gasifikasi merupakan salah satu dari tujuh skema hilirisasi industri batu bara yang tengah dicanangkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Enam lainnya adalah pembuatan kokas (cokes making), underground coal gasification, pencairan batu bara, peningkatan mutu batu bara, pembuatan briket, dan coal slurry/coal water mixture.

Tujuannya, untuk mengkonversi bisnis batu bara sesuai dengan perkembangan global dan dalam negeri, seperti penerapan Clean Coal Technology (CCT). Selain itu, juga meningkatkan fasilitas peningkatan mutu batu bara (coal upgrading) pada 2024, 2026, dan 2028 dengan kapasitas masing-masing mencapai 1,5 juta ton per tahun.