Industri

Pertama Kalinya Terjadi, Tingkat Keterisian Kantor CBD Menyentuh Angka di Bawah 80 Persen

  • Konsultan properti Colliers mencatat tingkat hunian perkantoran central business district (CBD) di Jakarta menyentuh angka di bawah 80% untuk pertama kalinya pada kuartal II-2021. Tingkat hunian ini tercatat 79,2%, turun 1,1% dari kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter).

<p>Lanskap perkantoran dari kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Lanskap perkantoran dari kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA – Konsultan properti Colliers mencatat tingkat hunian perkantoran central business district (CBD) di Jakarta menyentuh angka di bawah 80% untuk pertama kalinya pada kuartal II-2021. Tingkat hunian ini tercatat 79,2%, turun 1,1% dari kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter).

“Dari kuartal I-2021 sampai kuartal II-2021 memang terjadi penurunan yang lumayan signifikan. Selain dari faktor penyerapannya yang tidak begitu tinggi, juga disebabkan oleh pasokan-pasokan baru yang masuknya agresif,” ujar Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto dalam paparannya, Rabu, 7 Juli 2021.

Memang, pada kuartal II-2021 ini saja tercatat ada satu menara perkantoran bernama Trinity Tower yang mulai beroperasi. Ini membuat total pasokan kumulatif perkantoran CBD di Jakarta menjadi 6,96 juta meter persegi (m2).

Secara rinci, tingkat hunian perkantoran CBD tertinggi berada di Thamrin dengan 83%. Lalu, Rasuna Said dan Gatot Subroto tercatat 81%, Satrio dan Sudirman 79%, dan yang terburuk Mega Kuningan 71%.

Sementara itu, perkantoran di luar CBD juga tercatat mengalami penurunan keterisian. Tingkat hunian perkantoran non-CBD tercatat 78,4% atau turun 1,2% dari kuartal sebelumnya.

Secara rinci, persebaran tingkat hunian itu adalah Jakarta Pusat (non-CBD) 79%, Jakarta Selatan, 79%, Jakarta Utara 77%, Jakarta Timur 85%, dan Jakarta Barat 74%.

Pada kuartal II-2021 ini, terdapat penambahan pasokan perkantoran baru non-CBD dari selesainya Wisma Barito Pacific 2. Ini pun membuat kumulatif suplai perkantoran non-CBD tercatat 3,63 juta m2.

“WFH ini banyak kantor yang tidak terpakai, yang terpikirkan adalah bagaimana mengefisiensikan operasionalnya dengan cara mengurangi space kantor,” jelas Ferry.

Meski begitu, Colliers masih melihat adanya permintaan kantor untuk perluasan. Perluasan ini bisa tetap di gedung yang beroperasi atau ekspansi di gedung lain.

Kombinasi turunnya tingkat hunian serta masih tingginya jumlah pasokan pun berdampak terhadap harga sewa perkantoran baik CBD maupun non-CBD. Colliers mencatat tarif sewa kantor di Jakarta turun sekitar 20% dari 2016 hingga kuartal II-2021.

Rata-rata tarif sewa perkantoran CBD tercatat Rp249.537 per m2 dan perkantoran non-CBD tercatat Rp185.447 per m2. Ferry menjelaskan harga ini merupakan asking price atau harga yang ditawarkan oleh pemilik gedung (landlord).

“Kalau sudah di taraf negosiasi tentunya akan ada kompromi-kompromi dilihat juga dari misalnya berapa besar luas yang akan diambil dan siapa tenant-nya. Biasanya kalau tenant dari perusahaan besar akan diberikan diskon yang cukup besar,” jelas Ferry.

Ferry juga mengatakan adanya perang tarif antara pemilik gedung serta pemberian insentif. Colliers mencatat ada landlord yang memberikan insentif rent free untuk beberapa periode atau fitting out allowance ketika penyewa baru pertama kali menempati kantor baru.

Colliers memprediksi tarif sewa akan terus turun sepanjang 2021, baik di CBD maupun non-CBD. Kondisi perkantoran sewa baru diperkirakan membaik setelah 2022.

Untuk tingkat hunian, angka turun 2% hingga 2,5% lagi mengingat adanya pasokan baru hingga akhir 2021. Colliers memprediksi pasok perkantoran baru Jakarta akan mencapai 10,7 juta m2 pada 2021, 65%-nya dikontribusi oleh wilayah CBD. (RCS)