Pendapatan Garuda Indonesia Kuartal I-2020 Ambrol 33%
Maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. harus mengalami kemerosotan pendapatan pada kuartal I-2020 hingga 33% mencapai US$736,7 juta setara Rp11 triliun akibat COVID-19.

Sukirno
Author


Maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. / Facebook @garudaindonesia
(Istimewa)Maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. harus mengalami kemerosotan pendapatan pada kuartal I-2020 hingga 33% mencapai US$736,7 juta setara Rp11 triliun akibat COVID-19.
Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Mitra Piranti mengatakan jika dibandingkan dengan periode kuartal I-2019, secara umum pendapatan operasional perseroan pada kuartal I-2020 mengalami penurunan kurang lebih sebesar 33%.
“Penurunan pendapatan operasional ini terutama diakibatkan oleh menurunnya pendapatan penumpang yang kontribusinya terhadap total pendapatan usaha yang mencapai lebih dari 80%,” kata dia dalam surat penjelasan kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa, 21 April 2020.
Berdasarkan laporan keuangan pada kuartal I-2019, Garuda mengantongi pendapatan US$1,09 miliar. Sehingga jika dihitung penurunan 33%, maka pendapatan Garuda kuartal I-2020 mencapai US$736,7 juta setara Rp11 triliun.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
- Anies Baswedan Tunggu Titah Jokowi untuk Tarik Rem Darurat hingga Lockdown
- IPO Akhir Juni 2021, Era Graharealty Dapat Kode Saham IPAC
Merosotnya pendapatan penumpang pada periode Januari-Maret 2020, kata dia, terutama lantaran turunnya jumlah penumpang diangkut cukup banyak dengan harga tiket juga melorot dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Tentu saja, dia menuturkan, penurunan jumlah penumpang yang diangkut oleh Garuda terjadi lantaran kondisi industri penerbangan yang menurun akibat COVID-19. Terutama diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah, termasuk Jakarta, yang mengakibatkan masyarakat memilih untuk mengikuti aturan pemerintah.
Tidak hanya itu, kata dia, kondisi ekonomi yang terkontraksi juga berakibat pada penurunan daya beli masyarakat menurun sehingga memilih untuk memangkas pengeluaran biaya traveling.
“Kondisi market penumpang ini tentunya menekan perseroan untuk memangkas kapasitas produksi yang dimiliki, tercermin dari frekuensi penerbangan dan ASK (Avaliable Seat per Kilometre/jumlah tempat duduk yang tersedia pada jadwal) yang menurun,” urainya.
Sejak munculnya wabah COVID-19, manajemen emiten bersandi saham GIAA itu menjelaskan telah melakukan berbagai upaya untuk meminimalisasi penyebaran. Salah satunya dengan mengurangi penerbangan ke China mulai akhir Januari 2020.
Pendapat para ahli yang memperkirakan penyebaran COVID-19 akan berakhir paling cepat akhir Mei 2019 dan paling lambat akhir Juli 2020 membuat industri penerbangan akan semakin terpuruk. Pasalnya, periode Mei-Juni seharusnya merupakan high season karena adanya hari raya Idul Fitri dan juga libur sekolah.
Selain itu, sambungnya, terdapat kemungkinan terburuk bagi perseroan yakni jika tidak ada penerbangan haji pada tahun 2020 akibat terdampak COVID-19 dan larangan dari Arab Saudi.
Strategi Garuda
Dia menjelaskan, untuk menjaga kelangsungan usaha 6 bulan kedepan perseroan telah melakukan beberapa inisiasi strategi dari aspek keuangan maupun aspek operasional. Dari sisi keuangan, perseroan melakukan sejumlah langkah.
Pertama, melakukan negosiasi dengan lessor untuk penundaan pembayaran sewa pesawat. Kedua, memperpanjang masa sewa pesawat untuk mengurangi biaya sewa per bulan.
Ketiga, mengusahan financing dari perbankan dalam dan luar ataupun pinjaman lainnya. Keempat, menegosiasikan kewajiban perseroan yang akan jatuh tempo dengan pihak ketiga.
Per akhir Desember 2019, utang jangka pendek dan panjang yang jatuh tempo dalam waktu setahun total US$1,62 miliar setara Rp24,37 triliun. Rinciannya, pinjaman jangka pendek US$984,85 juta, utang jangka panjang US$141,77 juta, dan obligasi US$498,99 juta.
Keenam, melakukan program efisiensi biaya kurang lebih 15%-20% dari total biaya operasional dengan tetap memprioritaskan keselamatan dan keamanan penerbangan, pegawai, serta layanan. Ketujuh, GIAA juga mengajukan permohonan dukungan kepada pemerintah selaku pemegang saham perseroan.
GIAA menekankan arus kas (cash flow) merupakan hal penting untuk menjaga going concern perseroan. Dua kategori biaya yang sangat berpengaruh terhadap pengeluaran kas yaitu biaya tetap dan biaya variabel penerbangan.
Dari sisi operasional, manajemen GIAA menjelaskan pendapatan penumpang berkontribusi lebih dari 80% terhadap total pendapatan perseroan. Dengan adanya penurunan trafik, diperlukan strategi untuk menurunkan biaya variabel penerbangan.
Langkah yang ditempuh perseroan yakni dengan mengoptimalkan frekuensi dan kapasitas penerbangan baik penerbangan domestik maupun internasional. Selanjutnya, mengoptimalkan layanan kargo dan aktif mendukung upaya-upaya pemerintah khususnya yang terkait dengan penanganan COVID-19 melalui pengangkutan bantuan kemanusiaan, alat pelindung diri (APD), obat-obatan, dan alat kesehatan.
Garuda Indonesia juga menutup rute-rute yang tidak menghasilkan profit. Selain itu, perseroan mengoptimalkan layanan charter pesawat untuk evakuasi WNI yang berada di luar negeri serta membantu proses pemulangan WNA ke negara masing-masing dan layanan charter untuk pengangkutan kargo.
Maskapai pelat merah itu juga menunda kedatangan empat pesawat Airbus A330–900 pada 2020. Pengembangan internasional hub, Amsterdam dan Jepang, juga dilakukan agar layanan perseroan menjangkau seluruh dunia dengan mengoptimalkan interline.
Sepanjang tahun 2019, maskapai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini meraup pendapatan US$4,57 miliar setara Rp68,5 triliun, naik tipis 5,5% dari tahun sebelumnya US$4,33 miliar. Laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk mencapai US$6,98 juta, padahal setahun sebelumnya masih rugi US$231,15 juta setara Rp3,46 triliun.
Pada perdagangan Selasa, 21 April 2020, saham GIAA ditutup anjlok 5,18% sebesar 10 poin ke level Rp183 per lembar. Kapitalisasi pasar saham GIAA mencapai Rp4,73 triliun dengan imbal hasil negatif 61,72% dalam setahun terakhir. (SKO)
