Meski Ada COVID-19, Minat Perusahaan IPO di BEI Tertinggi di ASEAN
Minat perusahaan untuk menggelar penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia tertinggi di ASEAN meski tengah ada wabah virus corona (COVID-19).

Sukirno
Author


Seorang pria melintasi layar elektronik pergerakan saham di Jakarta, Selasa (7/4/2020). IHSG ditutup melemah 33,19 poin atau 0,69 persen ke level 4.778,64 dihari pertama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah DKI Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/hp.
(Istimewa)Minat perusahaan untuk menggelar penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia tertinggi di ASEAN meski tengah ada wabah virus corona (COVID-19).
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna menilai minat perusahaan untuk go public atau menjadi perusahaan terbuka melalui mekanisme IPO masih tinggi di tengah wabah COVID-19.
“Dalam kondisi makro (external environment) yang dinamis seperti saat ini, kita patut bersyukur bahwa minat IPO di Indonesia tinggi,” ujar Nyoman di Jakarta, dilansir Antara, Rabu, 8 April 2020.
Berdasarkan laporan global Ernst & Young, Indonesia menempati posisi tertinggi dari sisi jumlah yang melakukan IPO di ASEAN sampai dengan saat ini.
Nyoman menuturkan, pertimbangan perusahaan untuk tetap melaksanakan IPO salah satunya yaitu kebutuhan dana dari perseroan untuk mengembangkan usaha.
Selain itu, adanya dukungan kebijakan otoritas pasar modal yang memberikan relaksasi jangka waktu umur laporan keuangan dan laporan penilai dalam rangka penawaran umum yaitu selama dua bulan.
“Dan yang tidak kalah pentingnya juga adalah adanya support dari investor pasar modal untuk berpartisipasi di perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana,” kata Nyoman.
Berdasarkan data BEI, saat ini terdapat 22 perusahaan yang masuk dalam pipeline IPO. Secara sektoral, ada tujuh perusahaan dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi, dua perusahaan dari sektor keuangan, dan satu perusahaan dari sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi.
Kemudian, lima perusahaan dari sektor properti, real estate dan konstruksi bangunan, dua perusahaan dari sektor dari industri barang-barang konsumsi, satu perusahaan dari sektor aneka industri, dua perusahaan dari industri dasar dan bahan kimia, dan dua perusahaan dari sektor pertanian.
Pada Rabu, 8 April 2020, dua perusahaan yaitu perusahaan real estate PT Karya Bersama Anugerah Tbk., dan perusahaan penghasil benang hasil daur ulang bahan tekstil PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk., resmi melantai di bursa.
Sementara itu, Kamis, 9 April 2020, tiga perusahaan dijadwalkan akan mencatatkan saham perdana antara lain PT Cipta Selera Murni Tbk., PT Aesler Grup Internasional Tbk., dan PT Cahaya Bintang Medan Tbk.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu 8 April 2020 sore ditutup melemah dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi seretnya likuiditas akibat wabah COVID-19.
IHSG ditutup melemah 151,94 poin atau 3,18% ke posisi 4.626,7. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 32,02 poin atau 4,39% menjadi 697,73.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell sebesar Rp329,22 miliar.
Emiten Bersiap PSBB
Nyoman Yetna mengatakan, manajemen perusahaan tercatat atau emiten harus bersiap menghadapi wabah COVID-19, termasuk pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah.
“Dalam kondisi yang saat ini, akan menuntut capabilities dan experiences dari executive perusahaan sehingga bisnis dapat survive, mengoptimalkan biaya (efisien), mampu mempertahankan pendapatan perusahaan dan mencari alternatif pendapatan baru, dan memastikan kesiapan infrastruktur khususnya dalam menghadapi pandemi, termasuk PSBB,” ujar Nyoman.
Menurut Nyoman, kondisi pasar yang dinamis seperti saat ini dapat dilihat dari dua sisi yaitu sebagai tantangan dan sisi lainnya adalah peluang. Kemampuan manajemen perusahaan diuji disini.
Secara umum, lanjutnya, beberapa sektor tentunya akan terdampak kinerjanya karena wabah COVID-19 yang saat ini masih terus meluas.
“Hal yang membedakan adalah seberapa besar signifikansi dampak terhadap sektor atau industri tertentu,” kata Nyoman.
Saatnya Belanja?
Di tengah maraknya pandemi COVID-19 di Tanah Air, yang mengakibatkan IHSG di BEI bergejolak, saham emiten unggulan yang tergabung dalam LQ45 dinilai tetap menarik dan “seksi” di mata investor.
“Harga sejumlah saham saat ini sudah terbilang murah (undervalued), sehingga merupakan kesempatan untuk masuk pasar dan mengoleksi saham-saham LQ45,” kata Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus.
Menurutnya, jika penanganan pandemi COVID-19 bisa lebih cepat selesai maka perlahan-lahan kepercayaan investor mulai pulih dan pasar lebih bergairah.
Saham yang direkomendasikan untuk dikoleksi di antaranya saham PT Indofarma Tbk. (INAF), PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), dan PT Astra International Tbk. (ASII).
Diyakini, saham-saham emiten berkapitalisasi pasar besar ini akan cepat berbalik arah di kala indeks membaik. Apalagi, emiten-emiten tersebut memiliki fundamental yang bagus dan telah terbukti mampu bertahan di saat ekonomi mengalami kontraksi.
Hal ini terbukti pada saat IHSG menguat 188,40 poin atau naik 4,07% ke level 4.811,83 pada akhir perdagangan Senin, 6 April 2020, saham ASII merupakan salah satu saham yang paling aktif diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp282,2 miliar.
Saham lain yang juga diincar investor yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) dengan nilai transaksi Rp845,25 miliar dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) dengan nilai transaksi Rp375,77 miliar.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia Samsul Hidayat mengatakan, prospek pasar modal masih tetap menjanjikan, apalagi terhadap emiten dengan kapitaliasi pasar besar yang mempunyai banyak bidang usaha.
Mantan Direktur Penilaian Perusahaan BEI ini mengatakan, emiten yang memiliki ragam usaha biasanya lebih mampu bertahan dan berkelanjutan karena jenis investasinya berbeda-beda, sehingga bisa saling menutupi jika terjadi penurunan.
Di sisi lain, laporan kinerja perseroan tahun 2019 yang sudah mulai dipublikasikan akan menjadi pijakan investor dalam menentukan keputusannya.
Berdasarkan laporan kinerja 2019, PT Astra International Tbk. (ASII) tercatat meraih laba bersih Rp21,71 triliun atau naik tipis 0,18% dari Rp21,67 triliun pada tahun sebelumnya, dengan laba bersih saham (EPS) stabil di Rp536 per lembar.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, penjualan mobil grup Astra pada Februari 2020 mencapai 43.065 unit, meningkat 5,76% dari Januari 2020.
Kendati penjualan otomotif tahun ini diprediksi akan turun 30% akibat pandemi virus Corona, tetapi saham ASII tetap menarik untuk dikoleksi.
Emiten multinasional dengan kapitalisasi pasar Rp153,84 triliun ini memiliki beragam lini bisnis di antaranya otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, serta properti.
Selain saham ASII, sejumlah perusahaan grup Astra yang juga mencatatkan sahamnya di bursa efek Indonesia yakni PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) yang bergerak di sektor perkebunan, PT Acset Indonusa Tbk. (ACST) yang bergerak di kontruksi bangunan, Astra Graphia Tbk. (ASGR) yang bergerak di jasa komputer & perangkat komputer lainnya.
Selanjutnya, PT Astra Autopart Tbk. (AUTO) yang bergerak di sektor Otomotif & Komponen, serta PT United Tractor Tbk. (UNTR) di sektor Perdagangan Besar Barang Produksi. (SKO)
