IKM Gula Palma Asal Banyumas Siap Berbasis Digital
JAKARTA – Dalam upaya Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong salah satu koperasi penghasil gula palma di Kabupaten Banyumas, yakni Koperasi Nira Satria sebagai contoh sektor industri kecil menengah (IKM) yang akan menerapkan teknologi industri 4.0. Koperasi Nira Satria diketahui sebagai produsen […]

Ananda Astri Dianka
Author


Sumber: nirasatria.com
(Istimewa)JAKARTA – Dalam upaya Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong salah satu koperasi penghasil gula palma di Kabupaten Banyumas, yakni Koperasi Nira Satria sebagai contoh sektor industri kecil menengah (IKM) yang akan menerapkan teknologi industri 4.0.
Koperasi Nira Satria diketahui sebagai produsen gula organik kelapa lokal yang berasal dari Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah dan telah beroperasi sejak 2008 silam. Tercatat, koperasi ini mampu menyerap produk gula palma dari 1.074 penderes di Banyumas dan dikenal sebagai penghasil gula kristal organik berkualitas ke pasar Jerman, Eropa, Amerika dan, China.
“Langkah ini untuk meningkatkan daya saing IKM gula palma Indonesia di pasar global, utamanya dalam efisiensi dan traceability,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Gati Wibawaningsih di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2020.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
- Anies Baswedan Tunggu Titah Jokowi untuk Tarik Rem Darurat hingga Lockdown
- IPO Akhir Juni 2021, Era Graharealty Dapat Kode Saham IPAC
Dampak Implementasi
Nantinya, implementasi industri 4.0 pada Koperasi Nira Satria di antaranya adalah traceability dari level pengepul ke koperasi serta dibuatnya beberapa aplikasi berbasis website pada proses bisnis gula palma seperti input data gula, sistem informasi, rekam data ekspor, dan prediksi bisnis ekspor.
Selain itu, adanya otomatisasi pada timbangan digital yang terintegrasi secara real time ke cloud database berbasis IoT, penggunaan aplikasi warehouse management system di level pengepul dan koperasi, adanya real time data collector untuk mesin oven dan monitoring mesin oven berbasis IoT, serta optimalisasi konfigurasi data mesin oven berbasis machine learning.
Implementasi industri 4.0 ini juga akan menghasilkan real time tracking distribusi gula palma dari pengepul ke koperasi dan control tower untuk beberapa koperasi gula palma. Dengan begitu, Koperasi Nira Satria dapat menjadi percontohan bagi pengembangan IKM makanan lainnya.
Gula palma merupakan salah satu komoditas unggulan yang dihasilkan oleh IKM dalam negeri. Indonesia merupakan negara pengekspor utama gula palma di dunia, diikuti Filipina, dan Kamboja. Selain pasar ekspor, pasar dalam negeri juga dinilai sama-sama menjanjikan.
Lebih lanjut, gula palma yang berbahan dasar gula kelapa atau gula aren merupakan komoditas yang mempunyai nilai ekspor tinggi dan terus meningkat, yakni pada 2017 ekspor gula palma mencapai 25.000 ton dengan nilai US$42,6 juta dan pada 2018 ekspor gula palma meningkat menjadi 35 ribu ton dengan nilai US$52,5 juta. (SKO)
