Ekonom Berharap BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 3,50 Persen
JAKARTA – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menilai, Bank Indonesia (BI) perlu mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50% pada bulan ini. “Dengan masih bergejolaknya tekanan eksternal dan kebutuhan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kondisi finansial, kami berpandangan BI perlu mempertahankan suku bunga acuan di 3,50 persen,” tulis LPEM dalam […]

Ananda Astri Dianka
Author


Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar di kantor cabang Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 22 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menilai, Bank Indonesia (BI) perlu mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50% pada bulan ini.
“Dengan masih bergejolaknya tekanan eksternal dan kebutuhan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kondisi finansial, kami berpandangan BI perlu mempertahankan suku bunga acuan di 3,50 persen,” tulis LPEM dalam publikasi resmi, Senin 24 Mei 2021.
Meskipun berbagai faktor seperti bergulirnya vaksin, stimulus masif dari pemerintah, dan pembukaan aktivitas ekonomi secara perlahan berkontribusi terhadap hidupnya kembali aktivitas ekonomi domestik.
Akan tetapi, risiko kesehatan dari COVID-19 masih terus membayangi. Tercermin dari angka inflasi, relaksasi dari berbagai kebijakan pembatasan sosial dan bulan Ramadan nyatanya belum mampu mengerek permintaan agregat ke level normal.
Dari sisi eksternal, terlepas dari derasnya arus modal masuk di awal Mei 2021, yang sebagian besar didorong oleh sentimen positif terhadap prospek ekonomi domestik, kondisi ini cenderung bersifat sementara.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
Berbagai isu, dari kemungkinan diberlakukannya kembali penguncian di beberapa negara hingga kemungkinan tapering-off oleh the Fed seiring mulai pulihnya ekonomi domestik Amerika Serikat dan risiko peningkatan inflasi memicu arus modal keluar dari Indonesia.
Selama satu bulan terakhir, akumulasi arus modal masuk meningkat ke level US$6,43 miliar di minggu pertama Mei 2021. Naik sekitar US$1,06 miliar dari US$5,37 miliar di pertengahan April.
Masifnya arus modal masuk didorong oleh pembelian surat utang pemerintah Indonesia. Peningkatan kepemilikan asing ini tercermin dari imbal hasil surat utang pemerintah.
Imbal hasil tenor 10-tahun turun ke 6,6% di pertengahan Mei 2021 dari sekitar 6,8% di bulan sebelumnya. Begitupun dengan tenor 1-tahun yang turun dari 4,0% di bulan kedua April 2021 ke 3,8% pada pertengahan bulan ini.(RCS)
